Tradisi menyanyi sambil mendayung perahu menjadi salah satu pengetahuan budaya masyarakat Ansus yang terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Perahu dan permukiman pesisir di Ansus menggambarkan kuatnya hubungan masyarakat dengan ruang laut yang menjadi latar hidup tradisi cege.
ANSUS, KEPULAUAN YAPEN — Laut bagi masyarakat Ansus bukan sekadar jalur perjalanan. Di atas perahu, ingatan, pengalaman, dan perasaan diwariskan melalui cege, tradisi menyanyi sambil mendayung yang hidup di tengah masyarakat pesisir Ansus.
Dalam cege, para pendayung berada dalam satu perahu dan menyanyikan ungkapan hati atas apa yang mereka lihat atau rasakan. Seorang pendayung biasanya memulai nyanyian, lalu bagian itu diulang oleh pendayung lain. Masyarakat Ansus mengenal ainuai sebagai jenis lagu yang dinyanyikan dalam tradisi tersebut.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat Ansus tidak hanya tersimpan dalam teks tertulis. Lagu, ritme dayung, perjalanan laut, serta hubungan antarpenghuni perahu menjadi bagian dari cara masyarakat menyimpan dan menyampaikan pengalaman bersama.
Jeannete Lauren Mocodompis, pendamping kegiatan, sebelumnya menjadikan ainuai sebagai salah satu tradisi yang dikembangkan dalam film dokumenter Ainuai: Nyanyian Ombak. Film tersebut diputar di Yogyakarta pada 2025 dan dikerjakan dengan pendekatan yang melibatkan masyarakat lokal sebagai kolaborator dalam proses penciptaan.
“Cege bukan hanya kegiatan mendayung sambil bernyanyi. Di dalamnya ada ingatan tentang laut, perjalanan, perasaan, dan cara orang Ansus memahami ruang hidupnya. Tradisi seperti ini penting dirawat karena masyarakat Ansus adalah pemilik kebudayaan yang berhak berbicara atas dirinya sendiri,” kata Jeannete Lauren Mocodompis. [kutipan untuk konfirmasi]
Gagasan untuk merawat tradisi tersebut kemudian berkembang melalui dialog bersama tetua marga dan masyarakat Ansus. Proses itu berangkat dari riset dokumenter mengenai perjalanan migran Papua di Halmahera Barat yang berkunjung ke kampung halaman leluhurnya, lalu berkembang menjadi percakapan lebih luas tentang sejarah, folklor, perjalanan laut, pangan, dan kebudayaan Ansus.
Keberadaan rumah-rumah panggung dan perahu yang menjadi bagian sehari-hari kehidupan pesisir Ansus memperlihatkan konteks tempat cege tumbuh. Laut bukan latar belakang yang terpisah, melainkan ruang sosial yang mempertemukan kerja, perjalanan, ekspresi budaya, dan pewarisan pengetahuan.
Melalui Festival Arus Ansus yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Oktober 2026, cege mendapatkan ruang untuk dikenalkan kembali kepada masyarakat yang lebih luas. Perayaan ini sekaligus menempatkan tradisi laut sebagai pengetahuan hidup yang perlu terus diteruskan.





