Prof Dr Din Syamsuddin: Musibah Adalah Pengingat Eksistensial, Bukan Sekadar Fenomena Alam

JEMBER – Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., memberikan refleksi mendalam mengenai fenomena bencana dalam perspektif Al-Qur’an pada Kajian Ramadhan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Ahad (22/2). Acara yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah (UM) Jember ini dihadiri oleh ratusan kader dan simpatisan dari berbagai daerah.

Musibah dalam Kacamata Tauhid

​Dalam paparannya, Prof. Din menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an, istilah bencana sering kali merujuk pada tiga dimensi utama: Musibah, Bala’, dan Fitnah. Ia menjelaskan bahwa ketiganya memiliki muatan teologis yang berbeda namun bermuara pada satu tujuan: kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.

​”Bencana sering kali dipandang hanya dari sisi material atau kerusakan fisik. Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap kejadian adalah ayattullah (tanda-tanda Allah) yang menuntut evaluasi batiniah atau muhasabah,” ujar Din Syamsuddin di hadapan peserta kajian.

Poin-Poin Utama Kajian

​Berdasarkan ulasan beliau, ada tiga pesan kunci mengenai musibah menurut Al-Qur’an:

  • Ujian Keimanan (Bala’): Allah menguji hamba-Nya dengan ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta untuk melihat siapa yang paling sabar dan teguh tauhidnya.
  • Akibat Ulah Tangan Manusia: Mengutip Surah Ar-Rum ayat 41, beliau mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah dampak dari ketidakseimbangan perilaku manusia terhadap alam.
  • Momentum Transformasi: Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membedah musibah sebagai momentum perbaikan diri (ishlah) agar bangsa ini terhindar dari siklus bencana yang berulang.

Kader Muhammadiyah Harus Tanggap

​Prof. Din juga menekankan bahwa warga Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada tataran diskusi teologis semata. Ia mendorong penguatan peran Lembaga Penanggulangan Bencana (MDMC) untuk terus menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan yang berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.

​”Muhammadiyah harus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang solutif. Kita membedah teks Al-Qur’an di kelas, tapi tangan kita harus bekerja di lapangan untuk meringankan beban mereka yang terkena musibah,” pungkasnya.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top