Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Madiun)
Hidayah teramat mahal harganya. Karena upah dari seseorang yang tercelup tinta hidayah adalah jannah. Tak mungkin jannah diharga rendah, sedangkan kenikmatan di dalamnya amat abadi tiada tertandingi. Maka, banyak orang yang susah payah untuk mendapatkan hidayah. Tapi, ada juga yang dengan mudahnya, hanya karena satu-dua kalimat nasihat dari saudaranya, ia tergugah dan mendapatkan hidayah.
Waliyadzubillah bagi mereka orang-orang yang hingga ajalnya belum mendapatkan hidayah. Mungkin berikut inilah sebab mengapa mereka belum mendapatkannya.
1. Kurangnya Ilmu (Kebodohan)
Banyak orang membenci Islam karena mereka tidak mengenalnya. Ada juga muslim yang merasa kalau taat, rezekinya malah seret. Ini adalah cara pandang yang salah. Allah mengingatkan dalam QS. Al-Hajj: 11:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di tepi (ragu-ragu); jika ia mendapat kebaikan, ia tetap dalam keadaan itu, namun jika ditimpa bencana, ia berbalik ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat.”
2. Punya Ilmu Tapi Tidak Diamalkan
Ada orang yang tahu kebenaran, tapi hatinya keras sehingga ilmu itu lewat begitu saja. Allah berfirman dalam QS. Al-Anfaal: 23:
وَلَوْ عَلِمَ اللهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُم مُّعْرِضُونَ
“Kalau kiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga.”
3. Penyakit Iri (Hasad) dan Sombong
Sombong membuat Iblis terusir, dan hasad membuat kaum Yahudi menolak Nabi Muhammad meski mereka tahu beliau benar. QS. Al-Baqarah: 147:
الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ وَإِنْ فَريقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
4. Takut Kehilangan Jabatan
Banyak orang lebih memilih kursi kekuasaan daripada tunduk pada kebenaran. Seperti Fir’aun yang lebih memilih menjadi “tuhan” bagi rakyatnya daripada pengikut Nabi Musa. QS. Al-Mukminun: 47:
فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ
“Dan mereka berkata: ‘Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?'”
5. Terikat Syahwat dan Harta
Hidayah sering tertahan karena seseorang tidak mau berhenti dari maksiat (seperti miras atau zina) atau takut kehilangan warisan dan harta dunia. Allah memperingatkan dalam QS. Al-Ahqaaf: 32:
وَمَن لاَّ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فليسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ أُوْلَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi…”
6. Lebih Mencintai Keluarga daripada Kebenaran
Takut dikucilkan atau dijauhi keluarga seringkali membuat seseorang enggan mengikuti jalan yang benar. Mereka lebih memilih “aman” bersama kerabat daripada sendirian bersama kebenaran.
7. Cinta Tanah Air secara Berlebihan
Takut harus meninggalkan kampung halaman (hijrah) demi agama sering menjadi penghalang. Padahal, para sahabat Nabi rela meninggalkan segalanya demi rida Allah.
8. Terbelenggu Adat Nenek Moyang
Ini adalah penghalang klasik. Seseorang tahu itu salah, tapi merasa “tidak enak” jika harus meninggalkan tradisi orang tua yang menyimpang. Allah menyindir hal ini dalam QS. Al-Maidah: 104:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَآأَنزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لاَيَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَيَهْتَدُونَ
“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan Rasul,’ mereka menjawab: ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang itu tidak tahu apa-apa?”
9. Gengsi karena Musuh Sudah Lebih Dulu Ikut Islam
Ada orang yang menolak kebenaran hanya karena orang yang dia benci sudah lebih dulu berada di sana. Penyakit dendam ini menutup pintu hidayah.
10. Budaya “Ikut-ikutan” (Tradisi yang Sudah Mengakar)
Inilah penghalang yang paling umum. Manusia adalah makhluk kebiasaan. Mengubah kebiasaan lama yang buruk menjadi ketaatan dianggap berat. Allah berfirman dalam QS. Az-Zukhruf: 23:
إِنَّا وَجَدْنَا ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”
Kesimpulan: Hidayah itu seperti kesembuhan. Jika kita ingin sembuh, kita harus datang ke dokter dan minum obat. Cara mendapatkan hidayah adalah dengan berdoa, membaca Al-Qur’an, dan membuka akal sehat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sepuluh penghalang di atas.





