
Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jamaah shalat isya dan tarawih yang dimuliakan Allah, seringkali kita melihat fenomena di mana masjid dan mushala sangat penuh di awal Ramadhan, namun perlahan mulai tampak longgar di pertengahan hingga akhir. Jika kita ibaratkan Ramadhan adalah sebuah kompetisi, maka ia bukanlah lari cepat atau sprint, melainkan sebuah lintasan marathon yang panjang. Pelari marathon yang cerdas tidak akan menghabiskan seluruh tenaganya di awal lalu kelelahan di tengah jalan, melainkan ia akan menjaga ritme dan justru melakukan kick atau percepatan saat garis finish sudah mulai terlihat. Kita harus sadar bahwa nilai sebuah amal seringkali ditentukan oleh bagaimana kita mengakhirinya. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits shahih: وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan itu ditentukan oleh akhirnya” (HR. Bukhari no. 6607).
Oleh karena itu, menjaga keistiqomahan tarawih hingga malam terakhir adalah kunci kelulusan kita dalam madrasah Ramadhan ini.
Mengapa kita harus bertahan hingga akhir? Karena Allah SWT telah menyiapkan “hadiah” terbesar justru di etape terakhir perjalanan ini. Keistiqomahan kita dalam menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih adalah pintu menuju ampunan total. Allah SWT berfirman mengenai pentingnya keteguhan hati:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati'” (QS. Fussilat: 30).
Pelari marathon iman yang istiqamah akan mendapatkan ketenangan batin karena mereka tahu bahwa kelelahan saat tarawih akan dibayar lunas dengan janji Nabi SAW: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan shalat malam di bulan Ramadhan (Tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari & Muslim).
Sebagai penutup, mari kita camkan dalam hati bahwa Ramadhan 1447 H ini mungkin adalah marathon terakhir bagi sebagian dari kita, karena tidak ada jaminan kita akan menjumpai tahun depan. Jangan sampai kita menjadi orang yang “menang” di awal namun “tumbang” di saat hadiah utama berupa Lailatul Qadar dibagikan. Mari kita resapi kata mutiara ini: “Ketaatan yang dipaksakan di awal akan menjadi kebiasaan yang dirindukan di akhir. Jangan menjadi hamba Ramadhan yang hanya bersemangat saat ramai, tapi jadilah hamba Allah yang setia hingga akhir perjalanan.” Ingatlah, “Pemenang bukan dia yang memulai dengan cepat, tapi dia yang bertahan hingga garis finish dengan tekad yang bulat.” Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan istiqamah hingga fajar Syawal menyapa.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





