Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah Sang Maha Kuasa, Dzat yang kekayaan-Nya tak bertepi dan kemuliaan-Nya tak tertandingi. Dialah Allah yang sama sekali tidak mengambil keuntungan dari ketaatan hamba-Nya, namun Dialah satu-satunya muara tempat kita mengadu dan bergantung. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi, Nabi Muhammad SAW, yang melalui bimbingannya kita mengenal shalat sebagai Qurratu ‘Ayun—sebuah oase penyejuk mata dan jiwa di tengah gersangnya ujian duniawi.
Hadirin yang dirahmati Allah, seringkali muncul pertanyaan dalam benak kita, untuk apa sebenarnya shalat itu diciptakan? Apakah ia hanya sekadar rutinitas fisik atau beban kewajiban yang menggugurkan status dosa semata? Jika kita selami dengan jernih, shalat sejatinya adalah instrumen Dzikir yang paling agung. Ia berfungsi sebagai poros stabilitas jiwa agar manusia tidak limbung dihantam badai problematika kehidupan. Shalat adalah sebuah momentum “pertemuan privat” yang sangat intim antara seorang hamba dengan Penciptanya. Di dalam shalat, kita tidak hanya berdiri dan rukuk, tetapi sedang melaporkan laporan pertanggungjawaban hidup serta menjemput petunjuk langsung dari Sang Pemilik Takdir. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Thaha ayat 14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
Ayat menegaskan bahwa shalat didirikan semata-mata untuk mengingat-Nya. Lebih jauh lagi, shalat yang ditegakkan dengan kualitas yang baik akan menjadi perisai moral yang otomatis mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar.
Hadirin yang berbahagia, satu hal yang harus terhujam kuat dalam sanubari kita adalah bahwa Allah SWT tidak membutuhkan shalat kita sedikit pun. Jika seluruh penghuni bumi secara serentak berhenti bersujud, hal itu tidak akan mengurangi keagungan singgasana-Nya sedikit pun. Sebaliknya, jika seluruh makhluk bertasbih, itu tidak menambah kemuliaan-Nya. Kenyataan yang sesungguhnya adalah kitalah yang sangat butuh shalat. Kita adalah makhluk yang ringkih, yang setiap detiknya berpotensi tertimbun debu-debu dosa. Shalat hadir sebagai sarana “pembersihan diri” secara berkala. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat logis bahwa shalat lima waktu ibarat sungai jernih yang mengalir tepat di depan pintu rumah; jika kita mandi di sana lima kali sehari, tentu tak akan ada setitik pun kotoran yang berani menempel. Shalat adalah cara Tuhan menjaga agar hati kita tetap putih di tengah lingkungan yang mungkin penuh polusi kemaksiatan.
Lalu, bagaimana konsekuensinya jika kita dengan sengaja memutus jalur komunikasi suci ini? Meninggalkan shalat bukan sekadar kehilangan poin pahala, melainkan hilangnya “identitas cahaya” dalam diri seorang mukmin. Shalat adalah garis demarkasi atau pembeda paling nyata antara keimanan dan jurang kekufuran. Dalam sebuah hadist shahih, Rasulullah SAW mengingatkan:
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
“Pembatas antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”
pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah tatkala ia berani meninggalkan shalat. Secara psikologis dan spiritual, mereka yang menjauhi sujud akan kerap merasakan kekosongan jiwa yang kronis, kegelisahan yang tak mampu diobati oleh materi, serta hilangnya keberkahan dalam setiap jengkal urusannya karena ia telah memutus tali shilah (penghubung) dengan Sang Maha Pemberi Keberkahan.
Sebagai penutup, mari kita camkan dalam hati sebuah kata mutiara yang sangat dalam: “Shalat bukanlah wadah untuk memberi tahu Allah betapa besarnya masalah yang kita hadapi, melainkan sarana untuk membuktikan kepada masalah kita bahwa kita memiliki Allah yang Maha Besar.” Jika saat ini hidup kita terasa berantakan dan sesak, cobalah periksa kembali kualitas shalat kita. Sebab, ketika seorang hamba memperbaiki hubungannya dengan Allah melalui sujud yang tulus, maka Allah secara otomatis akan menata kembali setiap kepingan urusan hidupnya yang berserakan. Mari kita ubah paradigma dari “terpaksa shalat” menjadi “sangat butuh shalat”. Semoga Allah SWT memberikan kita keistiqamahan untuk terus bersujud hingga kelak kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh





