Memahami makar allah: ketika kenikmatan menjadi jalan kebinasaan (istidraj)

Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Muqaddimah Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang Maha Adil dalam memberikan keputusan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah yang membimbing kita dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya tauhid. Seringkali, saat bencana besar seperti tsunami atau gempa bumi melanda, lisan kita begitu cepat menyimpulkan bahwa itu adalah akibat dosa manusia atau kezaliman para pejabat korup. Kesimpulan ini secara historis tidaklah salah, sebab Al-Qur’an telah mengabadikan kisah kaum terdahulu yang binasa karena pembangkangan mereka. Namun, sebuah pertanyaan kritis sering muncul: jika bencana adalah balasan dosa, mengapa justru banyak pelaku maksiat besar dan orang-orang kafir yang hidupnya tampak semakin sejahtera, karirnya cemerlang, dan jauh dari marabahaya? Mengapa warga di lereng gunung yang rajin beribadah justru tertimpa musibah, sementara para pengusung liberalisme dan penentang syariat justru semakin terkenal dan dikagumi?

Hakikat Keadilan dan Perbedaan Alur Kehidupan Kita perlu menyadari bahwa plot kehidupan manusia tidak selalu linear seperti kisah kaum ‘Ad, Tsamud, Sodom, atau Ashabul Aikah yang berdosa lalu seketika diazab habis. Allah SWT memiliki rahasia besar dalam menetapkan waktu pembalasan. Dosa memang pasti ada balasannya, namun tidak semua dosa dibayar kontan di dunia. Ada sebuah skenario Ilahi yang jauh lebih mengerikan daripada bencana fisik: sebuah “makar” dari Allah yang membiarkan para pendosa semakin tenggelam dalam kesenangannya. Ibarat sebuah balon yang terus-menerus ditiup agar semakin menggelembung besar, bukan karena ia dicintai, melainkan agar saat tiba waktunya nanti, ia akan pecah dengan ledakan yang jauh lebih dahsyat. Inilah yang disebut dengan Istidraj.

Mendalami Konsep Istidraj melalui Dalil Shahih Istidraj adalah kondisi di mana Allah membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi bagi hamba yang berpaling dari peringatan-Nya. Allah memberinya kekayaan, jabatan, dan popularitas, bahkan memberikan tabir penutup atas segala kedurhakaannya sehingga ia merasa aman. Fenomena ini dijelaskan secara gamblang oleh Rasulullah SAW dalam hadits dari Uqbah bin Amir:

“Jika kamu melihat Allah terus saja memberi seorang hamba berbagai kenikmatan dunia yang disukainya, sedang hamba itu senantiasa bermaksiat kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya semua itu adalah istidraj dari Allah.” Beliau kemudian membacakan firman Allah dalam QS. Al-An’am: 44: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Ciri-Ciri Mustadrijin dan Jebakan Persepsi Para ulama seperti Sufyan ats-Tsauri menjelaskan bahwa ciri orang yang terjebak istidraj adalah mereka yang terus dihujani nikmat namun dibuat lupa untuk bersyukur. Abu Rawaq pun menambahkan bahwa setiap kali mereka berbuat durhaka, Allah menambah nikmatnya dan membuat mereka lupa beristighfar. Sayangnya, banyak manusia yang terjebak dalam persepsi yang salah; mereka menganggap kelimpahan materi adalah indikator kasih sayang Allah, sebagaimana disinggung dalam QS. Al-Fajr: 15-16, di mana manusia merasa dimuliakan saat rezekinya lancar dan merasa dihinakan saat rezekinya sempit. Padahal, bagi seorang mukmin, setiap nikmat yang tidak membuatnya semakin dekat dengan Allah sejatinya adalah siksa yang terselubung.

Penutup dan Muhasabah Sebagai penutup, kita harus merenung bahwa Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan membiarkan sesat bagi siapa yang enggan menerima kebenaran. Orang yang dibuai istidraj adalah mereka yang seolah-olah “dilepaskan” oleh Allah hingga mereka celaka dengan sendirinya. Ingatlah perkataan Al-Hasan al-Bashri bahwa seorang mukmin sejati melakukan kebaikan dengan rasa cemas, sementara pendosa melakukan kemaksiatan dengan rasa aman. Allah SWT telah memperingatkan dalam QS. Al-Qalam: 44-45 bahwa Dia akan menarik mereka secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui. Maka, marilah kita senantiasa waspada terhadap setiap nikmat yang kita terima; apakah nikmat itu adalah anugerah yang mendekatkan kita ke surga, ataukah ia adalah istidraj yang menyeret kita menuju jurang kebinasaan yang tak terbayangkan.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top