Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Muqaddimah Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah mensyariatkan zakat sebagai pilar penegak agama dan sarana pembersihan diri. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kita bahwa harta bukanlah sekadar tumpukan materi, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam perspektif Islam, kesucian seorang muslim tidak hanya ditentukan oleh kualitas ritual pribadinya, tetapi juga oleh kepedulian sosialnya melalui zakat, baik zakat fitrah yang berkaitan dengan raga maupun zakat maal yang berkaitan dengan harta benda.
Zakat Fitrah: Penambal Kekurangan dan Pembersih Jiwa Zakat fitrah adalah kewajiban yang melekat pada setiap individu muslim di bulan Ramadhan. Fungsinya sangat vital, yakni sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, sekaligus sebagai penyambung hidup bagi fakir miskin. Tanpa zakat fitrah, kesucian ibadah puasa kita seolah masih menggantung. Hal ini selaras dengan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Zakat Maal: Membersihkan Harta dari Hak Orang Lain Selanjutnya, zakat maal (harta) hadir sebagai instrumen untuk membersihkan harta yang kita miliki dari hak-hak orang lain yang dititipkan Allah di dalamnya. Harta yang tidak dikeluarkan zakatnya sejatinya adalah harta yang “kotor” dan akan menjadi penghalang keberkahan hidup. Allah SWT memerintahkan dalam QS. At-Taubah: 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
Ayat ini menegaskan bahwa fungsi zakat bukan sekadar mengurangi jumlah harta, melainkan tathhir (membersihkan dari kotoran batin seperti kikir) dan tazkiyah (menumbuhkan keberkahan dan pahala).
Ancaman bagi Mereka yang Enggan Berzakat Ketahuilah, mengabaikan zakat bukanlah perkara sepele. Islam memberikan peringatan yang sangat mengerikan bagi mereka yang menumpuk harta namun enggan menunaikan kewajiban zakatnya. Harta yang mereka bangga-banggakan di dunia akan berubah menjadi azab yang pedih di akhirat kelak. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 34-35:
وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ . يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.”
Lebih lanjut, Rasulullah SAW memberikan ilustrasi visual yang sangat menakutkan tentang harta yang akan berubah menjadi ular yang melilit pemiliknya jika tidak dizakati, sebagaimana sabda beliau: “Siapa yang diberikan harta oleh Allah lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya itu akan diwujudkan dalam bentuk seekor ular jantan yang sangat berbisa dan memiliki dua titik hitam di atas matanya…” (HR. Bukhari).
Oleh karena itu, marilah kita jadikan zakat sebagai prioritas utama dalam manajemen keuangan kita, bukan sebagai sisa atau beban. Zakat adalah bukti kejujuran iman dan wujud syukur atas limpahan rezeki. Dengan berzakat, jiwa menjadi tenang, harta menjadi suci, dan keberkahan akan senantiasa mengalir dalam rumah tangga kita. Sebagai penutup, mari kita renungkan sebuah kata mutiara Islam:
“Harta yang kamu simpan adalah milik ahli warismu, harta yang kamu nikmati akan menjadi kotoran, namun harta yang kamu zakatkan dan sedekahkan itulah harta yang sebenarnya akan menjadi milikmu selamanya di hadapan Allah.”
Demikian materi kultum ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





