Suwardi: WR2 Ummad
Ramadan bukan sekadar momentum untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah proklamasi besar tentang turunnya kompas kehidupan bagi umat manusia. Allah SWT menegaskan kemuliaan bulan ini dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Melalui ayat ini, kita diajak memahami bahwa hubungan antara Ramadan dan Al-Qur’an adalah hubungan antara wadah dan isi. Ramadan dipilih menjadi waktu turunnya wahyu pertama karena bulan ini memiliki kesucian yang mampu menyambut kesucian firman Allah. Fungsi Al-Qur’an yang disebutkan dalam ayat tersebut, yakni sebagai Hudan (petunjuk), Bayyinat (penjelasan), dan Furqan (pembeda), hanya akan efektif jika kita membuka hati melalui madrasah puasa. Puasa berfungsi membersihkan karat-karat di hati, sehingga saat Al-Qur’an masuk, ia tidak terhalang oleh kotoran syahwat.
Dalam aplikasinya, kita tidak boleh terjebak hanya pada rutinitas mengejar target jumlah khatam bacaan secara lisan saja. Ayat di atas menuntut kita untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman operasional. Menghidupkan malam dengan tadarus harus dibarengi dengan upaya memahami tafsirnya agar fungsi “penjelasan” (bayyinat) benar-benar terasa dalam keputusan hidup kita sehari-hari. Jika Al-Qur’an adalah Furqan, maka di bulan ini kita harus semakin tajam dalam membedakan mana perkataan yang bermanfaat dan mana yang sia-sia, mana harta yang halal dan mana yang syubhat.
Hikmah yang dapat kita petik adalah bahwa kemuliaan seseorang atau sebuah waktu sangat bergantung pada seberapa dekat ia dengan Al-Qur’an. Ramadan menjadi bulan terbaik karena Al-Qur’an turun di dalamnya. Malam Lailatul Qadar menjadi malam seribu bulan karena Al-Qur’an turun padanya. Maka, jika kita ingin hidup kita menjadi mulia, tidak ada jalan lain selain menjadikannya selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Di akhir bulan ini, tujuannya bukan hanya kita “lulus” menahan lapar, melainkan kita lahir kembali sebagai pribadi yang memiliki panduan hidup yang jelas dan prinsip yang kokoh.





