Kisah mengenai kaum Yahudi yang melanggar larangan mencari rezeki di hari Sabtu merupakan salah satu narasi penting dalam Al-Qur’an, yang dikenal sebagai peristiwa Ashabus Sabt (Penghuni Hari Sabtu).
1. Latar Belakang Syariat Hari Sabtu (Sabat)
Bagi kaum Bani Israil pada masa Nabi Daud AS (beberapa riwayat menyebutkan masa sebelumnya), hari Sabtu ditetapkan sebagai hari khusus untuk beribadah secara total kepada Allah.
- Aturan: Mereka dilarang keras melakukan aktivitas duniawi, termasuk bekerja, berniaga, atau memancing ikan.
- Tujuan: Sebagai ujian ketaatan dan kesabaran, serta waktu untuk memperkuat spiritualitas tanpa gangguan urusan harta.
2. Bentuk Ujian dan Pelanggaran
Allah memberikan ujian yang sangat spesifik kepada penduduk desa Ailah (pesisir Laut Merah).
- Ujian Kelimpahan: Pada hari Sabtu, ikan-ikan muncul ke permukaan laut dalam jumlah yang sangat banyak dan sangat dekat dengan pantai. Namun, pada hari-hari lain (Senin-Jumat), ikan-ikan tersebut justru menghilang atau sulit didapat.
- Tipu Daya (Hilah): Karena tidak tahan melihat potensi keuntungan, sebagian dari mereka melakukan rekayasa. Mereka memasang jaring atau membuat kolam jebakan pada hari Jumat, lalu membiarkan ikan-ikan itu terperangkap pada hari Sabtu, dan baru mengambil hasilnya pada hari Minggu.
Secara teknis, mereka merasa tidak “bekerja” di hari Sabtu, namun secara hakikat, mereka telah melanggar esensi larangan tersebut dengan niat yang licik.
3. Terpecahnya Masyarakat Menjadi Tiga Golongan
Menghadapi kemungkaran ini, masyarakat terbagi menjadi tiga kelompok (sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-A’raf: 164-165):
- Pelanggar: Mereka yang secara aktif melakukan tipu daya untuk menangkap ikan.
- Penasihat: Mereka yang tetap taat dan terus memberi peringatan serta melarang para pelanggar agar tidak mengundang azab Allah.
- Golongan Pasif: Mereka yang tidak melanggar, tapi juga tidak mau menasihati. Mereka bahkan menegur golongan penasihat dengan berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan Allah?”
4. Konsekuensi dan Azab
Ketika peringatan tidak lagi dihiraukan, Allah menurunkan azab kepada para pelanggar tersebut.
”Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (QS. Al-A’raf: 166)
- Wujud Fisik: Mayoritas mufasir berpendapat bahwa mereka benar-benar diubah wujudnya menjadi kera secara fisik sebagai bentuk penghinaan atas perilaku mereka yang meniru sifat binatang (mengikuti syahwat tanpa akal budi).
- Keselamatan: Allah hanya menyelamatkan golongan yang aktif melarang kemungkaran, sementara golongan yang melanggar dan (menurut sebagian pendapat) golongan yang diam saja, terkena dampak azab tersebut.
Makna Tersembunyi untuk Kita
Kajian ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan peringatan tentang bahaya mencari celah hukum (Hilah) untuk menghalalkan yang haram. Hal ini mengajarkan bahwa Allah menilai niat dan hakikat perbuatan, bukan sekadar tampilan luarnya saja.





