Allah Tidak Memanggil yang Mampu, Tapi Memampukan yang Terpanggil

Stunning aerial image of Al-Masjid an-Nabawi in Medina, KSA at dusk, showcasing Islamic architecture.

Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

KHOTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ قَصْدَ بَيْتِهِ الْحَرَامِ مِمَّا يَمْحُو بِهِ الذُّنُوبَ وَالْآثَامَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ وَصَلَّى وَقَامَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, Sang Pemilik Ka’bah, yang telah menanamkan rasa rindu yang mendalam di hati setiap insan mukmin. Hari ini, kita bicara tentang sebuah kerinduan yang bukan sekadar rindu pada kampung halaman atau sanak saudara, melainkan rindu kepada Baitullahrumah Allah yang suci.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa hati ini begitu bergetar dan air mata menetes saat mendengar lantunan Talbiyah “Labbaykallahumma Labbayk”?. Ketahuilah, rindu ini adalah “warisan” doa dari Nabi Ibrahim AS ribuan tahun yang lalu. Saat beliau menempatkan anak cucunya di lembah yang gersang, beliau memohon:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“…Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung (rindu) kepada mereka…” (QS. Ibrahim: 37).

Kata tahwi dalam ayat ini berarti jatuh cinta atau condong dengan sangat kuat. Inilah alasan mengapa Makkah menjadi pusat gravitasi dunia yang tak pernah sepi dikunjungi meskipun medannya berbukit batu dan gersang.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Mengapa kita harus berupaya memenuhi panggilan rindu ini? Rasulullah SAW memberikan janji besar bagi mereka yang menanggapi rindu tersebut dengan ikhtiar berangkat haji atau umrah:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran besi, emas, dan perak.” (HR. Tirmidzi).

Secara logika iman, perjalanan ini bukanlah “pengurangan” saldo tabungan, melainkan investasi langit yang menjadi magnet datangnya keberkahan rezeki. Allah sedang “membakar” kotoran dalam jiwa kita melalui lelahnya thawaf dan sa’i, hingga kita kembali fitrah seperti emas yang murni. Puncaknya, Rasulullah SAW menjanjikan:

وَالْحَيُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءً إِلَّا الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim).

Haji yang mabrur ditandai dengan perubahan perilaku menjadi lebih baik, lebih dermawan, dan lebih istiqamah setelah pulang dari tanah suci.

Jamaah yang Berbahagia,

Maka, bagi kita yang saat ini sedang merindu namun kemampuan finansial belum mencukupi, janganlah berkecil hati. Allah tidak memanggil orang yang mampu, tetapi Allah memampukan orang-orang yang terpanggil. Mulailah dengan niat yang tulus, mulailah menyisihkan harta sebagai bentuk “proposal” kesungguhan di hadapan Allah, dan pastikan setiap rupiah yang ditabung berasal dari sumber yang halal.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah, Sebagai penutup, marilah kita kelola rindu ini dengan meningkatkan amal ibadah. Jika fisik belum sampai ke Masjidil Haram, raihlah pahala setara haji dan umrah melalui shalat Isyraq, berbakti kepada orang tua, dan menghadiri majelis ilmu.

Keistimewaan Masjidil Haram dengan pahala shalat 100.000 kali lipat, air zamzam yang menyembuhkan, dan kemustajaban doa di Multazam adalah nyata bagi siapa saja yang jujur kerinduannya. Semoga Allah mencatat nama kita sebagai tamu-tamu-Nya yang akan segera bersujud di depan Multazam dan membasuh wajah dengan air zam-zam.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top