Qaulan Layyinan: Strategi Dakwah Berbasis Kasih Sayang

View of the Prophet's Mosque courtyard in Medina, capturing the architectural beauty under a clear sky.

Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ، وَأَمَرَنَا بِالْخُلُقِ الْحَسَنِ وَالْقَوْلِ اللَّيِّنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Salah satu bukti ketakwaan yang nyata adalah bagaimana kita menjaga lisan dan sikap dalam berinteraksi dengan sesama. Islam mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada suara yang lantang atau kata-kata yang tajam, melainkan pada kelembutan yang mampu menembus relung hati.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memperkenalkan konsep Qaulan Layyinan (قَوْلًا لَّيِّنًا), yaitu perkataan yang lemah lembut, halus, dan tidak kasar. Prinsip ini ditegaskan Allah ketika memerintahkan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS untuk menghadapi Firaun—seorang penguasa yang paling zalim dan sombong di muka bumi. Allah berfirman dalam Surah Taha ayat 44:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut (Qaulan Layyinan), mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

Jamaah yang Dimuliakan Allah, Ayat ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Jika kepada Firaun yang mengaku tuhan saja Allah memerintahkan untuk berbicara lembut, maka betapa lebih utama lagi bagi kita untuk berbicara lembut kepada orang tua, pasangan, anak-anak, tetangga, dan sesama Muslim.

Tujuan utama Qaulan Layyinan bukanlah untuk memenangkan debat atau mempermalukan lawan bicara, melainkan untuk menyampaikan kebenaran agar pesan tersebut dapat diterima. Kelembutan memiliki kekuatan untuk:

  1. Membuka Pintu Hati (Yatadzakkar): Kata-kata yang ramah dapat meruntuhkan tembok ego dan pertahanan diri seseorang sehingga mereka teringat akan kebenaran fitrahnya.
  2. Menimbulkan Kewibawaan (Yakhsya): Kelembutan tidak berarti lemah. Justru dengan pengendalian diri, kelembutan dapat memunculkan rasa hormat dan takut kepada Allah dalam diri lawan bicara.

Jamaah Jumat yang Berbahagia,

Mari kita terapkan prinsip kelembutan ini dalam keseharian kita:

Dalam Berdakwah: Hindari menghujat atau melabeli orang lain sebagai “ahli neraka”. Gunakanlah bahasa yang mengajak dan mendoakan kebaikan.

Dalam Menegur Kesalahan: Gunakan “teknik sandwich”—awali dengan pujian, sampaikan kritik dengan lembut, dan akhiri dengan motivasi agar orang yang ditegur merasa aman untuk memperbaiki diri.

Dalam Menghadapi Kritik: Jangan balas amarah dengan amarah. Balaslah dengan perkataan yang menenangkan untuk meredam permusuhan.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia akan memperburuknya” (HR. Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita ingat sabda Rasulullah SAW: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia akan memasukkan sikap kelembutan (ar-rifq) kepada mereka” (HR. Ahmad).

Qaulan Layyinan bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi dakwah yang paling efektif dan bukti kekuatan pengendalian diri seorang Muslim. Orang yang yakin dengan kebenaran yang dibawanya tidak perlu meninggikan suara untuk menang, karena cahaya kebenaran itu sendiri sudah cukup menyinari hati melalui kata-kata yang halus.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing lisan dan hati kita agar selalu berada dalam koridor kelembutan, sehingga keberadaan kita menjadi rahmat dan penyejuk bagi lingkungan di sekitar kita.

نَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top