Khotbah Jumat : Menghadapi Harga Naik Setelah Lebaran di Tengah Krisis Dunia

Oleh: H. Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ إِدْرَاكِ مَا بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَالتَّوْفِيقِ لِلِاسْتِمْرَارِ فِي طَاعَتِهِ، فِي زَمَانٍ تَتَقَلَّبُ فِيهِ أَحْوَالُ الدُّنْيَا وَتَشْتَدُّ فِيهِ التَّحَدِّيَاتُ، وَتَرْتَفِعُ فِيهِ أَعْبَاءُ الْمَعِيشَةِ. نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَتَقَبَّلَ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَأَنْ يُدِيمَ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْإِيمَانِ، وَيُثَبِّتَ قُلُوبَنَا، وَيَجْعَلَنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُحْسِنُونَ التَّصَرُّفَ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي عَلَّمَ أُمَّتَهُ أَنْ تَكُونَ قَوِيَّةً بِإِيمَانِهَا، حَكِيمَةً فِي تَدْبِيرِ مَعِيشَتِهَا، مُعْتَدِلَةً فِي إِنْفَاقِهَا، خَاصَّةً فِي أَزْمِنَةِ الْأَزَمَاتِ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِمُوَاجَهَةِ تَقَلُّبَاتِ الدُّنْيَا، وَسَبَبُ الثَّبَاتِ وَالْحِكْمَةِ فِي كُلِّ الظُّرُوفِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga pada hari ini kita masih diberi kekuatan untuk menunaikan ibadah shalat Jumat. Di tengah kondisi dunia yang sedang bergejolak—termasuk krisis di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada ekonomi global dan turut mempengaruhi kenaikan harga kebutuhan serta energi—kita semakin menyadari bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian dan ketidakpastian. Dialah Allah yang tetap menganugerahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan, sehingga kita dapat melewati bulan Ramadhan dan melanjutkan kehidupan dengan penuh kesadaran dan kesiapan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik yang mengajarkan umatnya untuk bersikap bijak, sederhana, dan kuat dalam menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum setelah Ramadhan ini sebagai penguat diri—menjaga nilai-nilai kesabaran, pengendalian diri, dan kebijaksanaan dalam menyikapi kenaikan harga serta dinamika kehidupan di tengah krisis global ini.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Setelah kita merayakan Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan, kini kita kembali dihadapkan pada realitas kehidupan. Harga bahan pokok mulai meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, dan kenaikan energi di tingkat global ikut berdampak pada kondisi ekonomi di negeri kita. Apa yang kita rasakan hari ini bukan hanya persoalan angka dan pasar, tetapi menyentuh langsung kehidupan rumah tangga kita sehari-hari. Dari dapur hingga kebutuhan pendidikan, semua terasa semakin menantang.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kondisi ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mudah. Apa yang terjadi di belahan dunia lain—termasuk konflik dan ketegangan global—dapat berdampak hingga ke kehidupan kita di Indonesia. Maka benar adanya, Ramadhan telah melatih kita di masjid untuk menahan diri, tetapi setelah Ramadhan, kita diuji di pasar, di tempat kerja, dan dalam kehidupan nyata: apakah kita tetap sabar, atau justru goyah oleh keadaan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan orang beriman. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kondisi sulit yang disampaikan dalam ayat ini, yang kita hadapi hari ini, bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan sunnatullah—ketetapan Allah dalam kehidupan. Yang membedakan adalah bagaimana sikap kita menghadapinya. Orang yang beriman tidak kaget dengan ujian, tidak panik dalam kesulitan, tetapi justru bersiap dengan kesabaran, keteguhan, dan keyakinan bahwa setiap ujian mengandung hikmah. Maka di sinilah letak ujian kita setelah Ramadhan: apakah kita tetap kokoh dalam iman, atau justru goyah oleh tekanan kehidupan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di tengah kenaikan harga dan tekanan ekonomi, ada satu fenomena yang sering muncul, yaitu kepanikan dalam menyikapi keadaan. Sebagian orang membeli barang secara berlebihan karena takut kekurangan, sebagian lainnya menaikkan harga tanpa mempertimbangkan keadilan, bahkan ada yang mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Padahal, kondisi seperti ini bukan hanya ujian ekonomi, tetapi juga ujian akhlak: apakah kita tetap jujur dan adil, atau justru tergelincir dalam keserakahan.

Islam mengajarkan bahwa harta harus diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan dengan cara yang benar. Dalam kondisi sulit, godaan untuk mengambil jalan pintas menjadi semakin besar. Namun, seorang Muslim sejati tidak akan menghalalkan segala cara, tidak akan memanfaatkan kesempitan orang lain untuk keuntungan pribadi, dan tidak akan merusak keadilan demi kepentingan sesaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam menutup semua jalan menuju kezaliman dalam urusan harta. Dalam situasi krisis seperti sekarang, seorang Muslim dituntut untuk tetap menjaga integritas: tidak panik, tidak serakah, dan tidak memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadi semata. Justru di saat seperti inilah nilai kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial harus semakin kuat, sehingga kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Setelah kita memahami bahwa kondisi sulit adalah ujian, dan kita diingatkan untuk tidak terjebak dalam kepanikan dan keserakahan, maka Islam juga memberikan solusi yang jelas dan praktis. Ada tiga sikap utama yang harus kita bangun dalam menghadapi situasi ini: menjadi pribadi yang produktif, hidup dengan hemat, dan saling menguatkan dalam kebersamaan. Inilah nilai-nilai yang sebenarnya telah kita latih selama bulan Ramadhan, dan kini harus kita wujudkan dalam kehidupan nyata.

Pertama, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang produktif. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya mengeluh atas keadaan, tetapi untuk berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Dalam kondisi ekonomi yang menantang, kita harus tetap berikhtiar, meningkatkan keterampilan, dan mencari peluang yang halal. Kedua, kita harus hidup hemat, yaitu mampu mengendalikan pengeluaran dan menghindari pemborosan. Hidup sederhana bukan berarti kekurangan, tetapi bentuk kebijaksanaan dalam mengelola nikmat Allah.

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah membangun solidaritas sosial. Di saat sebagian orang mengalami kesulitan, maka yang lain harus hadir membantu. Islam mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak terletak pada kekayaan individu, tetapi pada kepedulian bersama. Maka, saling membantu, berbagi rezeki, dan memperkuat ukhuwah adalah kunci agar kita mampu melewati masa-masa sulit ini bersama-sama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Taqwa, melalui ayat ini, bukan hanya solusi spiritual, tetapi juga solusi kehidupan, termasuk dalam urusan ekonomi. Ketika seseorang menjaga hubungannya dengan Allah, maka Allah akan membuka jalan, memberi kemudahan, dan mencukupkan kebutuhannya. Maka inilah kunci kita hari ini: bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup dengan bijak, dan saling membantu—semua itu dilandasi dengan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita menutup khutbah ini dengan tekad yang kuat untuk membawa nilai-nilai iman ke dalam kehidupan nyata. Apa yang kita hadapi hari ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi ujian keimanan yang menuntut kita untuk lebih bijak dalam bersikap. Jangan kita kalah oleh keadaan, tetapi jadilah hamba yang tetap kokoh: bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup dengan sederhana, dan saling menguatkan dalam kebaikan. Ingatlah, kekuatan umat bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kokohnya iman dan eratnya persaudaraan. Semoga Allah ﷻ membimbing langkah kita, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu menghadapi zaman dengan kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita menyadari bahwa kenaikan harga dan tekanan ekonomi yang kita hadapi bukan sekadar persoalan dunia, tetapi bagian dari ujian Allah ﷻuntuk melihat kualitas iman dan akhlak kita. Maka jangan kita hadapi dengan keluh kesah, tetapi dengan sikap yang diajarkan Islam: tetap produktif dalam bekerja, bijak dan hemat dalam mengelola kehidupan, serta saling menguatkan dalam kepedulian sosial. Jadikan nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dalam diri kita, sehingga kita tidak hanya kuat dalam ibadah, tetapi juga tangguh dalam menghadapi realitas kehidupan. Semoga Allah ﷻ memberi kita kekuatan, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar, bersyukur, dan bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ، اللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَثْبُتُونَ عَلَى الطَّاعَةِ بَعْدَ رَمَضَانَ، وَيَسِيرُونَ عَلَى طَرِيقِ الْهُدَى فِي كُلِّ الْأَحْوَالِ. اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَعِنَّا عَلَى أَنْ نُوَاجِهَ تَحَدِّيَاتِ الْحَيَاةِ بِالصَّبْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالْيَقِينِ. اللَّهُمَّ فِي هٰذَا الزَّمَانِ الَّذِي تَشْتَدُّ فِيهِ الْأَزَمَاتُ، وَتَرْتَفِعُ فِيهِ أَعْبَاءُ الْمَعِيشَةِ، وَتَتَأَثَّرُ فِيهِ الْأَحْوَالُ بِمَا يَجْرِي فِي الْعَالَمِ، اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ الْمُحْتَسِبِينَ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا قَانِعَةً وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَوَفِّقْنَا لِنَكُونَ مِنَ الْمُجْتَهِدِينَ فِي طَلَبِ الرِّزْقِ، الْمُعْتَدِلِينَ فِي الْإِنْفَاقِ، الْمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْخَيْرِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَثْبُتُونَ عَلَى الْحَقِّ فِي كُلِّ زَمَانٍ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Aris Rakhmadi, Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta sejak 2004, telah 22 tahun lebih aktif mengajar

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top