Madiun — Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Jiwan menggelar pengajian umum bertajuk “Meneladani Kembali Teologi Al-Ma’un” pada Ahad (26/4/2026) pukul 06.00–07.00 WIB di Masjid Amar Ma’ruf, Desa Teguhan, Jiwan. Acara ini terbuka untuk umum dan dipimpin langsung oleh Dr. Fajar Junaedi, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun.Pengajian ini mengambil tema utama Surah Al-Ma’un (surah ke-107 dalam Al-Qur’an) yang turun di Makkah.
Teologi Al-Ma’un menegaskan bahwa kedustaan terhadap agama tidak hanya terjadi melalui kata-kata, melainkan juga perbuatan, yaitu menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Surat pendek ini juga mengkritik shalat yang sia-sia, yaitu shalat yang dilakukan tetapi pelakunya lalai (sahun), riya, dan enggan memberikan bantuan kecil (ma’un).
“Teologi Al-Ma’un mengajarkan tiga hal pokok: kedustaan terhadap agama bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan. Orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Shalat yang sia-sia adalah shalat yang dilakukan tetapi pelakunya lalai, riya, dan menolak kebaikan kecil,” demikian materi yang akan disampaikan Fajar Junaedi.
Jamaah diajak menyoroti bagaimana Muhammadiyah sejak didirikan tahun 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan telah menjadikan teologi Al-Ma’un sebagai ruh gerakannya. Hingga saat ini, Muhammadiyah mengelola sedikitnya 1.012 panti asuhan atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di seluruh Indonesia, 54 panti jompo, serta 82 pusat rehabilitasi penyandang disabilitas.






