Kelompok pegawai purna tugas dari RS PKU Muhammadiyah Gamping dan Kota kini tengah disiapkan untuk menghadapi realitas baru di luar lingkungan rumah sakit. Melalui kolaborasi dengan Lembaga Pengembangan UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, divisi SDM rumah sakit menyelenggarakan “Klinik Fotografi UMKM” pada Rabu, 22 April 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman penurunan pendapatan drastis dan risiko isolasi sosial yang membayangi para lansia di Yogyakarta.
Bertempat di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pelatihan yang berlangsung pukul 14.00–16.00 WIB ini memfokuskan pada penguasaan teknik fotografi produk melalui ponsel. Instruktur ahli sekaligus alumnus Ilmu Komunikasi UMY, Herrymawan Indra, memberikan materi dasar fotografi mengenai komposisi dan pencahayaan kepada para calon pensiunan. Tujuannya linier: agar produk yang mereka rintis di rumah memiliki daya saing visual di pasar digital.
Ketua Lembaga Pengembangan UMKM PWM DIY, Farid Ma’ruf, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan upaya internalisasi semangat kemandirian ekonomi. “Kami ingin mengubah persepsi bahwa foto berkualitas harus mahal. Cukup dengan ponsel, mereka bisa mulai berjualan,” ujarnya.
Erwan Sudiwijaya, ketua tim pengabdian masyarakat menuturkan bahwa dari hasil observasi. Timnya menemukan bahwa di balik optimisme tersebut, terselip angka yang menjadi catatan kritis. Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, efektivitas program ini masih menyisakan pertanyaan. Pada tahun 2025, dari 20 peserta, tercatat hanya sembilan orang yang berhasil membangun bisnis. Rendahnya angka keberhasilan ini mengindikasikan bahwa transisi dari pekerja medis menjadi pelaku UMKM bukanlah perkara mudah.
Ita, salah satu peserta dari PKU Kota, mengakui adanya tantangan besar dalam mengonversi hobi menjadi profit. Meski ia memuji materi “luar biasa” dari instruktur yang membuat produknya terlihat lebih “cantik”, ia menyadari bahwa estetika visual hanyalah satu variabel kecil. “Fokus kami adalah agar produk dilirik konsumen. Tapi memang, untuk konsisten di masa pensiun itu berat,” tuturnya.
Realitas di Yogyakarta menambah beban narasi ini. Sebagai provinsi dengan angka harapan hidup tertinggi, populasi lansia yang besar justru berbanding lurus dengan risiko penyakit degeneratif dan ketergantungan pada “generasi sandwich”. Tanpa perencanaan finansial yang matang, para pensiunan ini kerap terjebak dalam masalah kesehatan yang berbiaya tinggi di saat pendapatan mereka justru menyusut.
Herrymawan menyarankan agar kurikulum mendatang bersifat lebih tematik, mewajibkan peserta membawa produk fisik agar praktik tidak berhenti di teori. Di tengah hiruk-pikuk promosi digital, program ini seolah menjadi eksperimen sosial: apakah foto produk yang estetis cukup kuat untuk menopang hidup seorang pensiunan yang kehilangan peran sosialnya?






