Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendampingi komunitas ketoprak Wira Muda Mardi Utama di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, dalam mengadaptasi lakon ketoprak menjadi skenario film. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Pendampingan Produksi Film Berbasis Seni Tradisi untuk Sanggar Santhi Aji Desa Sumber” yang didukung oleh Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY.
Program ini berangkat dari gagasan bahwa ketoprak tidak harus berhenti di panggung. Melalui medium film, cerita tradisi dapat menjangkau penonton yang lebih luas, terutama generasi muda yang kini lebih dekat dengan media audiovisual.
Ketua program pengabdian, Budi Dwi Arifianto, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa pelestarian budaya perlu dikembangkan melalui bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan dokumentasi, tetapi juga perlu dikembangkan melalui karya baru yang relevan dengan generasi hari ini,” jelas Budi, pada Selasa (26)
Tahap awal kegiatan telah dilaksanakan melalui Lokakarya Pendampingan Adaptasi Naskah Ketoprak Menjadi Skenario Film pada 26 April 2026 di Sanggar Santhi Aji, Dusun Ngentak, Desa Sumber, Dukun, Magelang. Dalam lokakarya tersebut, tim pengabdian bersama seniman ketoprak dan pemuda desa mendiskusikan cara mengubah lakon panggung menjadi bahasa film.
Lakon yang diadaptasi adalah Ampak-Ampak Singgelopuro. Cerita ini mengangkat intrik kekuasaan di Kerajaan Anggelopuro, ketika Mahendra mengambil alih kekuasaan setelah raja meninggal mendadak. Raditya, sang putra mahkota, berusaha mengungkap kudeta, tetapi justru difitnah melakukan pembunuhan. Kisah ini memuat dilema moral tentang ambisi, kesetiaan, tanggung jawab keluarga, serta kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Proses adaptasi menjadi pengalaman menarik karena ketoprak dan film memiliki cara bercerita yang berbeda. Dalam ketoprak, dialog sering menjadi penjelas utama, sedangkan dalam film pesan dapat disampaikan melalui gambar, ekspresi, suasana, dan adegan. Di titik inilah terjadi proses saling belajar antara seniman ketoprak dan anak muda desa.
Komunitas film lokal Desa Sumber, dengan Stevanus Galih Febriawan sebagai sutradara film, turut terlibat dalam proses pengembangan naskah dan praproduksi.
“Pendampingan ini membantu kami memahami bagaimana cerita ketoprak bisa disusun ulang menjadi skenario film. Bagi kami, film menjadi cara baru untuk memperkenalkan seni tradisi Desa Sumber kepada generasi muda,” ujar Stevanus.
Saat ini, kegiatan masih berada pada tahap pengembangan naskah dan praproduksi. Proses praproduksi berlangsung hingga 10 Juni 2026, dilanjutkan dengan syuting pada 13–14 Juni 2026, dan pascaproduksi pada 15–20 Juni 2026. Lokasi syuting akan memanfaatkan kawasan alam Desa Sumber yang berada di barat daya lereng Merapi.
Kegiatan ini melibatkan unsur masyarakat secara luas, mulai dari anggota komunitas ketoprak, warga, pemuda desa, pemain utama, hingga dukungan mahasiswa MM Kine Klub UMY. Program ini ditargetkan menghasilkan skenario film adaptasi ketoprak, film pendek adaptasi ketoprak, serta model produksi film berbasis seni tradisi yang dapat dijalankan kembali oleh komunitas.
Film hasil pendampingan ini juga direncanakan untuk diputar dalam ruang apresiasi komunitas, termasuk ekosistem festival film desa di Desa Sumber. Melalui program ini, UMY berharap dapat turut mendukung pelestarian budaya lokal, penguatan literasi audiovisual masyarakat, serta pengembangan komunitas desa sebagai pelaku produksi budaya berbasis film.






