MadiunMu – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar workshop bertema “Teknologi Asistif dalam Pendidikan Inklusif Sekolah Dasar” pada 25 Mei 2026 di GKB 1 Kampus 3 UMM. Kegiatan ini diikuti dosen, mahasiswa, guru sekolah dasar, siswa penyandang disleksia, serta masyarakat umum sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan inklusif di era digital.
Workshop menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Bodhi Bragonier dan Dean Bragonier. Dean dikenal sebagai President of the UN Dyslexia Network asal Kanada sekaligus pendiri organisasi nirlaba NoticeAbility yang aktif mengembangkan edukasi mengenai disleksia dan potensi anak.
Dalam sesi pembukaan, Dean Bragonier menekankan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya sekadar menerima perbedaan, tetapi juga menghadirkan strategi pembelajaran yang mampu membantu setiap anak berkembang secara optimal.
“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi bagaimana sekolah mampu menyediakan strategi dan fasilitas yang membantu setiap anak berkembang secara optimal,” ujarnya di hadapan peserta workshop.
Menurut Dean, siswa dengan disleksia bukan anak yang memiliki keterbatasan, melainkan individu dengan cara berpikir berbeda yang menyimpan potensi besar apabila mendapatkan dukungan yang tepat dari lingkungan sekolah maupun keluarga.
Kegiatan workshop berlangsung interaktif dengan pembagian peserta ke dalam dua kelompok kecil agar proses diskusi lebih fokus. Kelompok pertama terdiri atas guru sekolah dasar yang mengikuti sesi bersama Bodhi Bragonier (wirausahawan muda, inovator, dan pegiat pendidikan global asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai penyandang disleksia).
Dalam sesi tersebut, guru diajak mendiskusikan strategi pembelajaran inklusif, penggunaan teknologi asistif di kelas, hingga pendekatan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa disleksia.
Bodhi menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran bagi siswa disleksia perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing anak. Ia menilai guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan tidak menekan peserta didik.
Mengenali Potensi Diri
Sementara itu, kelompok kedua diikuti siswa sekolah dasar penyandang disleksia yang mendapatkan sesi khusus bersama Dean Bragonier. Alumni perguruan tinggi seni liberal di Lewiston, Maine, Amerika Serikat tersebut memberikan motivasi melalui berbagai aktivitas interaktif dan permainan edukatif.
Dean mengajak siswa untuk memahami bahwa disleksia bukan hambatan dalam meraih prestasi. Para siswa tampak antusias mengikuti permainan edukatif, berbagi cerita, hingga aktif berinteraksi dengan peserta lainnya.
Selain sesi diskusi, workshop juga mengenalkan berbagai bentuk teknologi asistif yang dapat digunakan dalam pembelajaran, seperti aplikasi pembaca teks, media audio visual interaktif, hingga metode pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah dan meningkatkan kemandirian belajar.
Melalui workshop ini, PGSD FKIP UMM berharap kesadaran mengenai pentingnya pendidikan inklusif semakin meningkat, khususnya dalam mendukung siswa dengan disleksia di sekolah dasar. Workshop ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber dan seluruh peserta kegiatan.





