Mahasiswa UMJT Merespon AI yang Makin Mendominasi Pekerjaan Sekarang dan Masa Depan, Khawatirkah?

MADIUN – Perkembangan teknologi artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan makin cepat berproses baik secara bentuk maupun fungsinya, Memunculkan kekhawatiran tentang masa depan pekerjaan manusia.

Bagaimana mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) merespon fenomena besar ini? Muhammad Syaifudin, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMJT memberikan pandangannya tentang hal tersebut.

Menurut Syaif, panggilan akrabnya, perkembangan teknologi akan menggantikan peran manusia. Sehingga manusia juga harus berkembang.

Contohnya jaman dulu, manusia yang melakukan produksi. Kemudian muncul mesin untuk menggantikan peran produksi tersebut hingga saat ini.

“Kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan teknologi maka akan kalah bersaing dan berhenti di fase yang sama dengan kata lain akan tertinggal,” ujar mahasiswa semester 6 ini.

Dalam konteks Artificial Intelligent (A), sama prosesnya, manusia mesti mempelajari cara kerja dari AI. Misalnya memahami bagaimana dari prompt bisa menjadi tulisan/data dengan detail.

“Kalau kitab bisa tahu bagaimana cara kerja tiap AI ini, dan update terkait perkembangannya maka kita tidak perlu takut,” ujar Syaif.


Diakui Syaif, AI memiliki perkembangan yang sangat cepat baik bentuk dan penggunaannya (fungsi). Manusia sangat kesusahan untuk beradaptasi. Tapi menurutnya ada cara untuk bisa beradaptasi dengan AI, meski juga agak ragu apakah cara ini dapat berjalan baik dilakukan di tanah air.

Cara tersebut adalah pemerataan pendidikan serta edukasi teknologi dari negara (pemerintah).

Syaif memberi respon Ketika disampaikan pidato Hari Buruh dari Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong beberapa waktu lalu yang menjanjikan lapangan kerja yang lebih baik dan melindungi para pekerjanya di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan atau AI.

“Dari situ maka balik lagi soal edukasi tentang teknologi ini sangat penting. Kalau kita sudah tahu pola kerja AI ini, ada kemungkinan bisa masuk di beberapa sektor/celah dari teknologi ini.  Tantangannya di negara kita sendiri, pendidikan saja belum merata,” terang Syaif.

Tantangan ini harus dijawab oleh pemerintah dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang merata termasuk infrastruktur teknologi yang mencukupi.

“Kalau sudah merata, semua bisa mengakses pendidikan yang sama, infrastruktur teknologi tercukupi, SDM kita bisa menanggulangi risiko-risiko teknologi seperti AI ini,” terang Syaif.

Secara pribadi, Syaif mengaku tidak terlalu khawatir dengan keberadaan AI. Ia beralasan bahwa senyaris sempurnanya eknologi seperti itu, dia tidak memiliki perasaan (feel) seperti manusia.

Jadi tergantung kita sendiri bisa beradaptasi dengan hal tersebut atau tidak soalnya AI ini memang sangat membantu dalam pekerjaan misalnya terkait efisiensi waktu, menghasilkan banyak data, dan kuantitas hasil yang besar.

“Kalau saya menanggapinya tidak terlalu khawatir karena balik lagi teknologi seperti itu, sesempurna apapun pasti ngga bisa merasakan atau tidak punya feel manusianya, tergantung kita sendiri sebagai manusia bisa beradaptasi dengan hal tersebut atau enggak,” jelas Syaif.(*)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top