MADIUN – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsudin,MA menjadi penceramah dalam Kajian Ahad Pagi Islamic Centre Madiun (ICM), Ahad, 21 Juni 2026.
Tema Kajian Ahad Pagi di ICM yang menghadirkan mantan Ketua MUI tersebut adalah Dengan Semangat Hijrah, Membangun Hidup Berizzah.
Disampaikan di hadpaan jamaah pengajian Ahad Pagi ICM, Din Syamsudin menyampaikan bahwa hirah sebagai peristiwa sejarah dalam Islam 3 (tiga) kali dilakukan Rasulullah. 2 kali sebelum ke Yasrib, ke Ethiopia dan Tasrib.
Hijrah yang dilakukan Rasulullah tidak hanya mendapatkan penolakan bahkan ancaman namun juga memiliki nilai yang sangat dalam sekali.
“Maka saya bisa simpulkan hijrah bukan hanya pindah tempat secara fisik tapi lebih kepada perubahan pikiran perubahan mentalitas,” ujar kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Din Syamsudin menyampaikan, hijrah yang menjadi nama tahun Umat Islam atas ijtihad sahabat, khususnya Umar bin Khatab,
Hijrah merupakan perubahan mentalitas, mindset, alam pikiran. Itulah yang terjadi dalam sejarah Islam khusus untuk hijrah dari Mekah ke Yasrib (Madinah).
Setelah hijrah ke Yasrib, Rasulullah mampu melakukan perubahan di wilayah yang kemudian berubah menjadi Madinah tersebut.
Menurut Din Syamsudin, Mekah merupakan wilayah perkotaan bahkan cosmopolitan karena menjadi tempat tinggal banyak suku, khabilah sehingga memiliki wawasan internasional yang besar (global)
Mekah bahkan menjadi kota perdagangan, pertemuan arus perdangan sutra lewat utara maupun selatan, Mekah menjadi kota festival terutama di bidang kesusastraan.
“Mekah jadi destinasi wisata mancanegara karena ada kabah kendati disembah berhala. Itulah Mekah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW,” terang Din Syamsudin.
Sedang Yasrib, menurut Din Syamsudin merupakan fenomena pedesaan, rural, wilayah yang tempat tumbuh subur pohon kurma sehingga kurma yang terkenal adalah kurma Madinah.
Apa yang ingin disampaikan Prof. Din Syamsudin adalah bahwa Yasrib yang merupakan fenomena pedesaan, namun dalam waktu 10 tahun dapat diubah menjadi fenomena perkotaan bahkan namanya diganti Al Madinah yang dalam bahasa Arab modern artinya kota dan mengandung konotasi, sebagai tempat yang majemuk.
“Ada pendapat (kelompok) Orientalis, Muhammad muda terpengaruh dengan istilah Polis yang dalam bahasa latin Yunani artinya masyarakat majemuk. Dari mana kata Polis ini berasal, Rasul ketika berdagang berkali-kali di Syam, berhari-hari berdagang di sana, di Syam itu di pasar pasar, pembicaraan tentang pikiran Yunani terutama polis, masyarakat majemuk, Muhammad setelah jadi nabi meminjam hal itu dan diterima maka dimunculkanlah Madinah. Karena Yasrib berubah Madinah sangat majemuk ada Yahudi, Nasrani walau tidak banyak, karena banyak suku, khabilah ini, itulah Madinah jadi melting pot, bahkan Madinah mendapat predikat Madinah Al Munawwaroh atau Kota yang Mencerahkan” terang Din Syamsudin.
Prof. Din Syamsudin menyampaikan, ada dua hal yang dibangun Rasulullah di Madinah. Pertama Al Ummah, sebagai kosakata baru dalam Islam sebagai pengganti basis solidaritas orang-orang Arab yang sangat terikat dan terkait dengan kekabilahan, nama orang-orang Arab itu nama Kabilah yang terkait kesamaan darah dari kakek nenek yang sama turun temurun bergenerasi
“Karena orang Arab yang masuk Islam itu, mereka terpisah dengan khabilah, keterputusan kejiwaan jadi suasana bathin yang tidak menggembirakan maka rasul atas dasar Wahyu mengganti ikatan solidaritas dengan Al ummah, bukan lagi sedarah bukan sekampung tapi seiman, jadilah Al Ummah Al Islam. Menjadi pengikat, apapun sukunya, kabilahnya semua berada dalam lingkaran akidah yaitu Ummah,” terang Din Syamsudin.
Din Syamsudin menyampaikan ada dimensi keadilan dalam Al Ummah ini. Islam sangat jelas kalau sudah menyangkut keadilan walaupun dari suku kita, dari keluarga kita. Dalam Al Quran itu dikatakan Jangan kebencianmu terhadap satu kelompok membuatmu tidak berlaku adil. Allah berfirman, Tegakkan keadilan. Sampai-sampai Rasul pernah bersabda: Kalau Fatimah putri tersayangku mencuri, aku potong tangannya.
Dimensi ketiga dari Al Ummah itu cenderung bermusyawarah, mencari titik temu ada perbedaan pendapat duduk bersama. Mari kita diskusikan, kalau ada yang tidak bisa disepakati, sudah. Bagimu pendapatmu bagiku pendapatku.
Terhadap non muslim yang berbeda keyakinan, bagimu agamamu bagiku agamaku, ada pesan terselebung dalam kalimat itu. Tapi kita bersaudara sesama manusia, sesama muslim, ada NU, ada Muhammadiyah, dll.
“Ada 70an.100an organisasi Islan di tanah air ini. Saya pernah dapat amanag 2015-2020 Ketua Dewan Pertimbangan MUI 70 ketua umum ormas Islam, 29 tokoh perorangan. Selama 5 tahun kita bangun ukhuwah Islamiyah. Jangan ada fanatisme organisasi, jangan ada fanatisme buta, Hidup matiku untuk organisasiku. Tapi tidak pernah benar-benar berani mati. Kalau Al Quran, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin. Bukan untuk organisasi. Organisasi ini alat bukan ghayah (tujuah) tujuan. Salah kalau umat Islam jadikan organisasinya sebagai ghayah.
Din Syamsudin menyampaikian Nabi Muhammad tidak hanya membangun Ummah di Madinah sebagai perangkat lunak. Tapi Rasulullah juga membangun piranti keras yaitu peradaban. Bukan sekedar berhijrah, tinggal di suatu tempat, tidak berbuat apa-apa tapi mengubah dan membangun peradaban, Al Madanihah.
“Itulah yang ingin kita wujudkan dan Muhammadiyah bercita cita membangun peradaban utama, Muhammadiyah sebagai gerakan peradaban. Itulah yang kita ingin bangun sekarang. Kalau ormas-ormaas islam bertujuan yang sama (yaitu) izzul Islam wal Muslimin, insya allah damai rukun umat Islam ini. Kita mulai dari Muhammadiyuah sebagai jalan, tujuan mewujudkan izzul islam, kejayaan, kewibawaan Islam. (*)





