MADIUN – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UM Jatim) sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) menyelenggarakan Upgrading BEM dan ORMAWA.
Peserta Upgrading adalah seluruh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Madiun serta delegasi dari setiap Himpunan Mahasiswa Program Studi yang ada di lingkungan Universitas Muhammadiyah Madiun.
Pelaksanaan up-grading tersebut mengambil tempat di kampus 3 UM Jatim di Islamic Centre Madiun (ICM) di Jalan Sumatra Kota Madiun, Rabu, 17 Juni 2026 dengan menghadirkan enam (6) naras umber sekaligus.
Ketua BEM UM Jatim, Maikel Jeksen menerangkan, up grading ini salah satu Langkah awal pihaknya dalam mempersiapkan seluruh pengurus organisasi mahasiswa agar memiliki kapasitas, pemahaman, dan semangat yang sama dalam menjalankan amanah kepengurusan selama satu periode ke depan.
“Kami sengaja mengundang seluruh unsur organisasi mahasiswa agar terbangun kesamaan visi, sinergi antarlembaga, serta kolaborasi yang kuat dalam mewujudkan gerakan kemahasiswaan yang lebih aktif, progresif, dan berdampak,” terang mahasiswa Prodi Ilmu Aktuaria tersebut.
Materi pertama up grading disampaikan Dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UM Jatim, Muhammad Rifa’at Adiakarti Farid, M.A., M.Pd., yang menghadirkan tema Manajemen Organisasi dan Manajemen Konflik.
Dijelaskan, organisasi dapat dikelola secara efektif melalui pembagian tugas yang jelas, penyusunan sistem kerja yang baik, hingga pentingnya membangun budaya organisasi yang sehat.
Rifa’at juga memberikan pemahaman mengenai manajemen konflik dalam organisasi dimana perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam organisasi.
Paling penting bukan menghindari konflik, tetapi mengelola konflik menjadi ruang diskusi yang sehat sehingga mampu melahirkan solusi dan memperkuat organisasi.
Materi kedua mengenai Kepemimpinan Berkarakter disampaikan oleh Darmanto Saputra, M.IP., yang merupakan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ponorogo.
Darmanto menekankan pemahaman seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengatur organisasi, tetapi juga harus memiliki karakter, integritas, keteladanan, dan rasa tanggung jawab. Seorang pemimpin harus mampu menjadi contoh bagi anggotanya, mampu mengambil keputusan dengan bijaksana, serta tetap berpegang pada nilai-nilai moral dalam setiap proses kepemimpinannya.
Selanjutnya, materi ketiga mengenai Psikologi Organisasi disampaikan oleh Amni Salsabila Binti Sabil, yang saat ini menjabat sebagai Psychology Officer di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).
Dalam sesi ini peserta diajak memahami bagaimana pentingnya mengenali karakter setiap individu dalam organisasi, membangun komunikasi yang sehat, menjaga kesehatan mental anggota, serta menciptakan lingkungan organisasi yang nyaman sehingga setiap anggota mampu berkembang dan bekerja secara maksimal.
Materi keempat mengenai Teknik Persidangan disampaikan oleh Rivaldi Ramadhani Gautama, S.H., yang merupakan Fungsionaris BEM Universitas Muhammadiyah Ponorogo Periode 2021–2022. Beliau memberikan pembekalan mengenai mekanisme persidangan organisasi, tata tertib sidang, teknik memimpin forum, hingga bagaimana mengambil keputusan organisasi secara demokratis sesuai dengan aturan yang berlaku.
Selanjutnya materi kelima mengenai Sinergi dan Team Building disampaikan oleh Malik Ibrahim, M.Sos., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun. Dalam materinya beliau menyampaikan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kekompakan tim, komunikasi yang efektif, serta kemampuan membangun kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.
Materi terakhir mengenai Administrasi dan Kesekretariatan Organisasi disampaikan oleh Galuh Munika Setyoningsih, S.Pd., Staf Administrasi Akademik Universitas Muhammadiyah Madiun.
Galuh memberikan pemahaman mengenai pentingnya administrasi yang tertib dalam organisasi, mulai dari tata kelola surat-menyurat, penyusunan proposal, laporan kegiatan, pengarsipan dokumen, hingga administrasi sebagai bentuk profesionalisme sebuah organisasi.
“Alhamdulillah, respon peserta selama kegiatan berlangsung sangat positif. Hal tersebut terlihat dari antusiasme peserta dalam mengikuti setiap sesi, banyaknya pertanyaan yang disampaikan kepada para pemateri, serta diskusi yang berlangsung cukup hidup. Bahkan pada beberapa sesi, waktu diskusi harus diperpanjang karena tingginya semangat peserta untuk berdialog dan berbagi pengalaman mengenai dinamika organisasi yang mereka hadapi,” terang Maikel Jeksen.(*)






