Esensi Menjaga Sholat Fardhu

​Dr. Suwardi, M.Pd.I( Plt WR 2 UMMAD)

1. Hisab Pertama di Hari Kiamat

Sholat adalah amal ibadah yang pertama kali akan dihisab (dihitung dan diperiksa) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak. Jika sholatnya baik, maka baik pula seluruh amal ibadahnya yang lain. Sebaliknya, jika sholatnya rusak, maka rusak pula seluruh amal perbuatannya.

​أْوَلُ ما يُحاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيامَةِ الصَّلاةُ، فإنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سائرُ عَمَلِهِ، وإنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سائرُ عَمَلِهِ

​Artinya: “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya. Apabila sholatnya baik, maka beruntung dan selamatlah ia. Dan apabila sholatnya rusak, maka merugilah ia.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

​2. Pandangan Imam An-Nawawi rahimahullah

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kedudukan sholat fardhu adalah kewajiban yang paling agung setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau menegaskan bahwa orang yang meninggalkan sholat karena meremehkan hukumnya (bukan karena mengingkari kewajibannya) berada dalam ancaman yang sangat besar dari Allah Ta’ala, dan para ulama berbeda pendapat mengenai status kekafirannya, yang menunjukkan betapa besar dosa meninggalkan sholat.

​قالَ الإمامُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: الصَّلاةُ أَعْظَمُ أَرْكانِ الإِسْلامِ بَعْدَ الشَّهادَتَيْنِ، وأَكْبَرُ العِباداتِ البَدَنِيَّةِ، ولِذَلِكَ غَلُظَ الشَّرْعُ في تَرْكِها والتَّهاونِ بِها.

​Artinya: “Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: Sholat adalah rukun Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat, dan merupakan ibadah badaniah terbesar, oleh karena itu syariat memperketat aturan mengenai orang yang meninggalkan dan meremehkannya.”

​3. Amalan yang Paling Afdhal (Utama)

Menjaga sholat pada waktunya termasuk ke dalam amal shaleh yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala, bahkan mengalahkan amalan-amalan mulia lainnya jika tidak diletakkan pada tempatnya.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

​سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَفْضَلُ؟ قالَ: الصَّلاةُ عَلى وَقْتِها، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قالَ: بِرُّ الوالِدَيْنِ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبِيلِ اللَّهِ

​Artinya: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amalan apakah yang paling afdhal (utama)?” Beliau menjawab: “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

​4. Ancaman Keras Bagi yang Meninggalkan Sholat

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memberikan ancaman yang sangat berat bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban sholat. Kelalaian dalam menjaga sholat tidak hanya mendatangkan siksa di dunia dan sakaratul maut, tetapi juga diazab di dalam kubur hingga di neraka Saqar.

​فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

​Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (di dalam neraka).” (QS. Maryam: 59).

​Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

​بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ

​Artinya: “Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim).

​5. Kisah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami dan Teman di Surga

Semangat menjaga sholat juga menjadi kunci untuk menggapai derajat yang tinggi di akhirat, sebagaimana kisah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu.

Beliau senantiasa melayani keperluan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah memberikan kesempatan baginya untuk meminta apa saja. Permintaannya bukanlah harta dunia, melainkan kedekatan di surga.

​عنْ رَبِيعَةَ بنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قالَ: كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحاجَتِهِ، فقالَ لي: سَلْني، فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرافَقَتَكَ في الجَنَّةِ، قالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قُلْتُ: ذاكَ، قالَ: فَأَعِنِّي عَلى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

​Artinya: Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhu dan keperluan beliau. Beliau lalu bersabda kepadaku: ‘Mintalah.’ Maka aku berkata: ‘Aku meminta agar aku bisa mendampingimu di surga.’ Beliau bersabda: ‘Atau ada permintaan yang lain?’ Aku menjawab: ‘Itulah permintaanku.’ Beliau lantas bersabda: ‘Kalau begitu, bantulah aku untuk mewujudkan hal itu bagi dirimu dengan memperbanyak sujud (sholat).'” (HR. Muslim).

​Kesimpulan

Menjaga sholat fardhu secara istiqomah adalah cerminan keimanan yang kokoh. Dengan mendirikan sholat tepat pada waktunya, seorang hamba tidak hanya menyelamatkan dirinya dari azab neraka, tetapi juga membuka jalan seluas-luasnya untuk meraih kemuliaan, keberkahan hidup di dunia, dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala berupa kebersamaan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Trending

Scroll to Top