MADIUN – Lembaga AI Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) melaksanakan Workshop Pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi (PT) secara daring, Selasa, 1 September 2026.
Hadir sebagai narasumber Workshop Pembelajaran AIK di Perguruan Tinggi ini adalah Taufiqur Rahman, S.IP., M.A., Ph.D. yang merupakan Direktur Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Peserta workshop adalah dosen dan pejabat struktural UM Jatim mulai wakil rektor, direktur, dekan, hingga kaprodi.
Dalam sambutan pembukaan workshop, Direktur AIK UM Jatim, Drs. Suyono, M.Pd menyampaikan apresiasi kepada Taufiqur Rahman, PhD yang bersedia menjadi narasumber workshop.
“Tentunya dengan kehadiran Taufiqur Rahman,PhD dapat membagikan pengetahuan dan pengalamannya untuk kita semua peserta workshop sehingga dapat lebih berkembang lagi,” ujar Suyono.
Setelah sambutan dari pihak AIK UM Jatim, dilanjutkan dengan pemaparan materi workshop oleh Taufiqur Rahman dengan materi pembahasan dari Buku Panduan Kurikulum Pendidikan AIK untuk Perguruan Tinggi terbaru yang dikeluarkan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah di Gresik pada Tahun 2025.
Disampaikan Taufiqur Rahman, sesuai dengan risalah satu abad Muhammadiyah, filosofi pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan yang memiliki spirit holistik dan integralistik.
“Spirit pendidikan Muhammadiyah tidak hanya mengenai kesadaran berketuhanan tapi juga berkemanusiaan,berkealaman berkeduniaan dan berkeakheratan,” ujar mantan Wakil Rektor I Universitas Aisyiyah Yogyakarta tersebut.
Secara substansi, menurut Taufiqur Rahman, pembelajaran di Muhammadiyah tidak hanya mengenai hal normatif seperti pendidikan aqidah, ibadah, akhlak, sejarah tapi diperluas dengan soal dunia seperti bidang sosial, ekonomi, politik dan sains yang terkait kehidupan manusia sehingga sistem pembelajarannya tidak terpisah tapi terintegrasi.
Secara ideal, integrasi tidak hanya mengajarkan mata kuliah AlK tapi juga mata kuliah lain yang terhubung dengan kehidupan nyata, tidak hanya dalam pembelajaran yang berlangsung tapi juga terintegrasi dengan kurikulum lain serta kehidupan kampus.
“Arah pendidikan AIK itu tidak hanya having religion bukan sekedar beragam, muslim tapi being religius and human, beragama dan humanis sebagai cermin dari Muslim berkemajuan yang menjadi spirit Muhammadiyah,” jelas pria kelahiran Wonogiri tersebut.
Pengembangannya, disampaikan Taufiqur Rahman, dilakukan dengan metode pembelajaran di PT yang tidak lagi teacher center learning (berpusat pada dosen) tapi student center learning (berpusat pada mahasiswa) dan mengembangkan problem base learning (pembelajaran berbasis persoalan) untuk AIK.
“Konsekuensinya dosen tidak lagi sebatas sebagai pengajar tapi role model, pemimpin pembelajaran dan mahasiswa diposisikan sebagai subyek didik yang aktif, dinamis dan reflektif,” jelas lulusan S2 Communication Management di University of Technology Sydney, Australia ini.
Terkait metodenya, Taufiqur Rahman menyampaikan dilakukan dengan lebih menekankan pada intertekstualitas, memperkaya wawasan, dan diharapkan pembelajarannya tidak berhenti didalam kelas tapi juga ada spirit self learning (belajar mandiri).
Disampaikan Taufiqur Rahman, inti belajar AIK itu adalah belajar jadi seorang Muslim yang baik jadi tidak cukup belajar di kuliah.
“Evaluasi pendidikannya idealnya tidak hanya berorientasi pada hasil tapi juga proses, umpan balik yang berkelanjutan. Meskipun dalam praktiknya tidak mudah,” terang lulusan S3 Media and Communication Studies di University of Western Australia tersebut.
Paradigma pendidikan AIK
Taufiqur Rahman juga membahas mengenai paradigma pendidikan AIK yang menggunakan pendekatan (manhaj) dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah yaitu paradigma Bayani, Burhani dan Irfani yang merupakan tiga pilar epistemologi penting.
Pendekatan Bayani bertumpu pada teks Al Qur’an dan Hadist. Kemudian Burhani mendasarkan pada akal, sains, dan kenyataan empiris. Lalu Irfani adalah paradigma yang mendasarkan pada kepekaan batin dan pengalaman spiritual.
Ketiga pendekatan ini saling melengkapi agar pemahaman agama menjadi utuh, tidak hanya kaku pada teks, tetapi juga logis dan penuh kearifan.
“Pendekatan Bayani itu tekstual, Burhani itu berbasis akal sehat dan ilmu memahami kebenaran. Ketiga Irfani berbasis intuisi pengalaman spiritual.Ketiga pendekatan ini secara terpadu kita terapkan dalam pembelajaran AIK, tidak hanya fokus pada bayan, cendrung berbasis teks, ceramah, sedang aspek burhan kurang disenangi apalagi aspek Irfani. Mestinya kalau kita mengikuti manhaj Tarjih maka tiga hal ini yang kita jalankan sehingga tidak hanya kuat dalam keimanan tapi juga menebar kemaslahatan lebih luas,” terang Wakil Ketua II Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027 ini.
AIK multikultural
Pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan dari dosen AIK UM Jatim, Awit Istighfar,M.Med.Kom yang menyampaikan pertanyaan mengenai bagaimana mengajarkan AIK kepada mahasiswa non Muslim.
Menjawab pertanyaan ini, Taufiqur Rahman menjawab, kalau secara jumlah memang belum banyak maka pengajaran AIK untuk mahasiswa non Muslim dapat disatukan dengan mahasiswa yang Muslim.
“Materi yang disampaikan sebaiknya tentang Islam yang universal tidak terlalu dogmatis tapi aktualisasi akidah dalam kehidupan sehari hari, artinya menyesuaikan (siapa yang diajari). Memang persoalannya ketika digabungkan di kelas reguler… yang penting dosen harus sensitif untuk materi sifatnya harus hati-hati (dalam penyampaiannya),” terang dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UMY ini.(*)





