Wakil Rektor I UMJT Jadi Narasumber Program Dialog AE Raya Menyapa RRI Madiun

MADIUN -Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Dr. Fajar Junaedi, M.Si menjadi narasumber siaran Program Dialog AE Raya Menyapa RRI Pro 1 Madiun, Kamis, 10 September 2026.

Program Dialog AE Raya Menyapa disiarkan spesial menyambut Hari Radio Nasional dan HUT ke 81 Radio Republik Indonesia (RRI).

Tema yang diusung dalam siaran Program Dialog AE Raya Menyapa ini mengusung tema Radio Masa Kini.

Selain disiarkan secara langsung di RRI Pro 1 Madiun, Program Dialog AE Raya Menyapa ini disiarkan melalui live streaming di YouTube RRI Madiun.

Mengawali dialog yang dipandu pembawa program, Aris Dekat, Dr. Fajar Junaedi menyampaikan keberadaan RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) memiliki peran sangat penting.

“Bicara radio saat ini, saya ingin kilas balik ketika MTV mengudara pertama kali di tahun 1979 menampilkan video klip The Buggles berjudul Kill The Radio Star. Liriknya berisi nubuat bintang radio akan kalah dengan bintang video karena kemunculan MTV. Tapi siapa yang tutup duluan?MTV atau stasiun radio? Faktanya stasiun radio masih eksis, MTV sudah berhenti siaran kalah bersaing media di era digital dengan munculnya video on demand,” ujar Dosen Ilmu Komunikasi UMY tersebut.

Dari realitas itu, Fajar Junaedi melihat bahwa radio masih dibutuhkan khalayak karena masih ada kebutuhan untuk mendengarkan dimana sebagian pendengar mendengarkan siaran RRI melalui saluran YouTube sebab yang dicari bukan video tapi sensor audionya.

Kemudian pendengar juga bisa menggunakan aplikasi untuk mengakses radio. Sehingga secara prinsip radio masih eksis tapi berkembang kepada multi-platform dalam bersiaran misalnya melalui terestrial, internet maupun aplikasi.

Pendengar yang tidak bisa mendengarkan saat ini masih bisa mendengarkan ke depan secara a sincronus melalui rekaman yang ada di YouTube,ini menunjukkan adanya perubahan platform.

Perubahan lainnya adalah jika sebelumnya radio hanya bisa didengar suaranya, sekarang radio juga hadir dengan gambar.

Ini memperlihatkan bahwa radio masih memiliki masa depan.Tetap relevanMenjawab pertanyaan dari host apakah radio masih relevan dengan perkembangan jaman, Fajar Junaedi menyampaikan, dalam ilmu komunikasi ada teori uses and gratification (motif dan kepuasan pengguna).

Dijelaskan Fajar Junaedi, ada kebutuhan pengguna soal intimasi (kedekatan) saat penyiar menyapa pendengarnya yang tidak didapat ketika mendengar musik. Lalu muncul podcast dengan wajah yang berubah tapi secara prinsip sama dengan radio.

Radio dulu terinstitusionalisasi dalam lembaga penyiaran dan terestrial. Dalam perkembangannya, ada lembaga penyiaran komunitas (radio komunitas) yang menggunakan teknologi digital dengan membuat podcast yang secara prinsip bukan video tapi audio.

“Hal inilah yang menjadikan radio masih jadi milik bersama.Sehingga kalau ada pertanyaan apakah keberadaan radio masih relevan dengan perkembangan jaman tentu saja masih relevan,” terang Fajar Junaedi.

Berhenti mengudara

Mengenai radio yang berhenti mengudara, Fajar Junaedi menyampaikan hal tersebut dapat dipahami dengan merujuk pada isi dari buku Mediating The Message, Framing The Media karya Pamela J Shoemaker dan Stephen D. Reese yang menyebutkan beberapa hal terjadinya framing pemberitaan di media.

Salah satunya adalah ada faktor dari luar media yaitu pengiklan. Dalam konteks ini, radio swasta, tentu saja yang paling penting adalah iklan sebagai faktor luarnya.

“Itulah mengapa (radio swasta) harus berhenti siaran karena ekosistem bisnis yang gagal diadaptasi radio tersebut,” kata Fajar Junaedi.

Terkait dengan LPP (RRI) maka ini ada hubungan erat dengan dukungan publik.

“Saya berpikir, kepada pendengar pilihlah wakil rakyat yang peduli LPP karena lembaga ini mendapat amanah menjaga frekuensi yang jumlahnya sangat sedikit dan terbatas agar masih menjadi milik publik,” jelas Fajar Junaedi.

Dukungan lain yang bisa dilakukan publik adalah menjadi pendengar dari LPP. Ketika publik mendengarkan LPP maka wakil rakyat, pemerintah akan melihat kebutuhan terhadap LPP masih tinggi.

Jika terkait lembaga penyiaran komunitas (radio komunitas), maka dukungan eksistensinya dari anggota komunitas. Menurut Fajar Junaedi, radio komunitas ini lebih mudah dalam melakukan produksi dan distribusi melalui streaming misalnya.

“Pemahaman ini penting untuk dimunculkan agar radio masih tetap eksis dan tidak decline (turun),” kata Fajar Junaedi. (*)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Trending

Scroll to Top