MADIUN – Perjalanan menuju industri hiburan tidak selalu dimulai dari panggung besar. Ada yang mengawalinya sebagai figuran dalam produksi sinetron, ada pula yang justru menemukan popularitas melalui video percakapan spontan yang diunggah ke YouTube.
Pengalaman tersebut mengemuka dalam acara Meet & Greet dan pemutaran trailer film Piye To Kih? di Aula Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Rabu (28/10/2026). Acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UMJT bekerja sama dengan tim produksi film Miracle.
Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ini menghadirkan sejumlah pemain film Piye To Kih?, di antaranya Mukidi, Penyok, Gendut, Mintul, dan Gabriel Desta.
Selain memperkenalkan film yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 November 2026, para pemain berbagi pengalaman mengenai proses kreatif, perjuangan membangun karier, dan peluang berkarya di industri hiburan digital.
Salah satu kisah menarik disampaikan Gabriel Desta, aktor asal Bali yang mengawali perjalanan kariernya dari peran-peran kecil sebagai figuran dalam produksi sinetron.
Desta menceritakan bahwa kesempatan tampil di layar kaca tidak diperolehnya secara instan. Ia harus melewati berbagai pengalaman sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan memainkan karakter dalam sebuah sinetron. Salah satu pengalaman yang dikenangnya adalah ketika dirinya terpilih memerankan karakter dengan mengenakan pakaian berwarna hijau neon.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam menekuni dunia seni peran. Kini, Desta dipercaya memerankan karakter Bunga dalam film Piye To Kih?.
“Prosesnya memang panjang dan membutuhkan keuletan. Saya memulai dari figuran, kemudian mendapat kesempatan bermain sinetron, sampai akhirnya sekarang bisa memerankan Bunga dalam film Piye To Kih?,” ungkap Desta saat berbagi pengalaman dengan peserta.
Kisah berbeda datang dari Mukidi bersama rekan-rekannya yang dikenal melalui Woko Channel. Popularitas mereka di dunia hiburan digital justru berawal dari aktivitas sederhana yang tidak direncanakan sebagai produksi konten profesional.
Mukidi menceritakan bahwa perjalanan mereka bermula dari obrolan spontan yang direkam menggunakan video, kemudian diunggah ke kanal YouTube. Tanpa diduga, konten tersebut menarik perhatian penonton dan berkembang menjadi tayangan komedi yang memiliki basis penggemar luas.
Seiring konsistensi memproduksi konten, kanal YouTube mereka berkembang hingga mencapai sekitar 4,5 juta pelanggan (subscribers). Aktivitas sebagai kreator konten tersebut juga disebut mampu menghasilkan pendapatan mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Perjalanan dari percakapan sederhana menjadi konten hiburan yang diminati jutaan penonton memperlihatkan bagaimana platform digital membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memasuki industri kreatif.
Popularitas yang dibangun melalui YouTube itu kemudian membuka kesempatan bagi Mukidi dan rekan-rekannya untuk terlibat dalam produksi film layar lebar Piye To Kih?.
Pengalaman para pemain tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam sesi berbagi kreatif bersama mahasiswa. Perkembangan industri hiburan menunjukkan bahwa peluang membangun karier tidak hanya tersedia melalui jalur konvensional, tetapi juga melalui kreativitas, konsistensi, dan kemampuan memanfaatkan media digital.
Selain mendengarkan pengalaman para pemain, peserta mendapatkan kesempatan menyaksikan trailer film Piye To Kih? serta mengikuti sesi diskusi interaktif mengenai proses produksi dan pengembangan karakter dalam film.
Film Piye To Kih? mengusung genre horor-komedi dengan cerita yang memadukan unsur humor dan persoalan hubungan antartokoh yang memiliki latar belakang berbeda. Film tersebut dijadwalkan mulai tayang secara serentak di bioskop pada 19 November 2026.
Melalui kolaborasi Program Studi Ilmu Komunikasi UMJT dan tim produksi film Miracle ini, mahasiswa memperoleh kesempatan berinteraksi langsung dengan pelaku industri hiburan sekaligus mengenal dinamika produksi film dan pengembangan konten kreatif.
Kisah perjalanan Gabriel Desta dan para kreator Woko Channel memberikan gambaran bahwa kesempatan berkarya dapat berawal dari pengalaman sederhana. Keuletan, keberanian mencoba, serta konsistensi mengembangkan kreativitas menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju industri hiburan profesional.(*)





