Oleh: Endy Setyawan (Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun)
Madiun, 6 Syawal 1447H, 25 Maret 2026
Sabtu pagi, 21 Maret, sehari setelah saya merayakan Hari Raya Idul Fitri, saya duduk di kursi yang sama yang biasa saya duduki setiap pagi. Kopi di tangan saya masih mengepulkan uap tipis ketika halaman demi halaman buku saya balik perlahan. Buku di pangkuan. Tapi pagi itu terasa berbeda. Anak-anak masih bermain di kamar tidur. Istri saya masih ribet di dapur. Entah mengapa saya memilih untuk mengawali hari itu dengan sebuah kopi dan buku, saat saudara-saudara muslim yang lain baru akan melaksanakan sholat Iedul Fitri.Ada semacam ketenangan yang sulit dijelaskan, hening yang justru terasa penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur. Bisa menikmati sehari bersama anak-anak dan istri setelah sehari kemarin berlebaran di rumah orang tua dan keluarga lainnya. Semacam ketenangan seusai hujan reda.
Di tengah keheningan itu, mata saya berhenti pada sebuah kutipan Jalaluddin Rumi. Saya membacanya sekali. Lalu membacanya lagi, lebih pelan. “Tuhan yang kamu sembah di bulan Ramadhan itu sama dengan Tuhan yang kamu sembah di luar bulan Ramadhan. Lantas, mengapa caramu beribadah berbeda?” Kopi saya sudah tidak lagi panas ketika saya akhirnya meletakkan buku itu dan hanya duduk dengan kalimat itu di kepala, yang terasa bukan seperti kutipan filsuf abad pertengahan, melainkan seperti pertanyaan yang ditujukan langsung kepada saya, pagi itu, di kursi itu.Entah mengapa, kalimat itu terasa seperti sapaan yang datang tepat waktu, sederhana, tetapi mengguncang, seolah-olah sedang berbicara langsung kepada bagian diri yang selama ini enggan saya ajak berdialog.
Jalaluddin Rumi melontarkan sebuah pertanyaan yang terasa lembut, namun menghunjam. Pertanyaan ini tidak berteriak, tetapi menggema lama di dalam dada. Ia tidak menghakimi, tetapi membongkar satu kebiasaan yang sering kita rawat diam-diam: menjadi saleh hanya pada musim tertentu.
Apakah Kebaikan Punya Masa Berlaku?
Ramadhan selalu datang dengan kehangatan yang khas. Masjid-masjid penuh sesak, shaf tarawih mengular ke serambi, tadarus mengalir dari berbagai sudut kampung hingga larut malam. Tangan-tangan lebih ringan untuk memberi, hati terasa lebih lunak untuk memaafkan. Kita seperti menemukan versi diri yang lebih jernih, lebih dekat, lebih hidup.
Namun, seperti banyak hal yang indah, saya sering memperlakukan Ramadhan sebagai peristiwa, bukan perjalanan. Begitu bedug Idul Fitri ditabuh, ritme itu mulai surut. Shalat kembali tergesa, Al-Qur’an kembali sunyi, dan kepedulian perlahan kalah oleh rutinitas. Tahajud yang sempat saya jaga tiga puluh hari penuh, tiba-tiba terasa berat dikerjakan satu malam saja. Dan yang paling mengusik: saya tahu ini terjadi, saya melihatnya berlangsung dalam diri saya sendiri, tapi saya biarkan. Seolah-olah kebaikan juga memiliki masa berlaku, dan saya menerima itu sebagai hal yang wajar.
Di titik inilah, kutipan Rumi berubah menjadi cermin yang sulit saya hindari: jika Tuhan tidak pernah berubah, mengapa kedekatan saya kepada-Nya begitu mudah berubah?
Ramadhan Madrasah Iman, Bukan Panggung Pameran
Ramadhan sejatinya adalah ruang latihan untuk tetap baik, bukan panggung untuk terlihat baik. Di dalamnya saya dilatih, bukan sekadar ditampilkan. Puasa mengajarkan lapar agar saya memahami derita orang yang tak punya makan. Shalat malam mengajarkan sepi agar saya mengenal kedalaman hati sendiri. Sedekah mengajarkan lepas agar saya terbebas dari belenggu kecintaan pada harta. Ia bukan pengecualian dalam hidup saya, melainkan pengingat akan kapasitas terbaik yang sebenarnya saya miliki setiap saat, hanya sering saya lupakan.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya “Latha’if Al-Ma’arif” mengingatkan: ciri keberhasilan Ramadhan bukan pada kemeriahan ritualnya selama sebulan, melainkan pada perubahan karakter yang menetap setelahnya. Orang yang sungguh-sungguh berpuasa akan merasakan pengaruh puasanya sepanjang tahun, dalam bentuk kesabaran, keikhlasan, dan kendali diri. Masalahnya, saya kerap menganggap Ramadhan sebagai lonjakan, bukan standar. Padahal, ia sedang menunjukkan sesuatu yang lebih jujur: inilah dirimu ketika kamu benar-benar menjaga hatimu. Dan pertanyaan yang tersisa adalah, mengapa saya tidak mau menjaganya terus?
Jangan-Jangan Bukan Tuhan yang Kita Rindukan
Rumi seakan berbisik kepada saya: jangan-jangan yang saya rindukan bukan Tuhan, melainkan suasana Ramadhan. Bukan dzikir-nya, melainkan keramaian masjidnya. Bukan puasanya, melainkan buka bersamanya. Dan ketika saya berani duduk dengan pertanyaan itu lebih lama, saya tidak bisa sepenuhnya menyangkalnya. Ada bagian dari ibadah saya selama Ramadhan yang terasa hidup bukan karena kerinduan, tapi karena saya tidak mau jadi satu-satunya yang tidak ikut.
Ketika semua orang berpuasa, mudah rasanya ikut berpuasa. Ketika tetangga kiri-kanan pergi tarawih, canggung rasanya tidak ikut. Ramadhan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk beribadah, dan saya menikmatinya. Tapi begitu lingkungan itu lenyap, ternyata kekuatan ibadah saya pun ikut lenyap. Ini bukan kesimpulan yang menyenangkan, tapi saya rasa inilah yang perlu saya akui dengan jujur.
Ada pemahaman yang lebih dalam yang belum sepenuhnya saya huni: bahwa ibadah bukan transaksi, melainkan relasi. Relasi antara hamba dengan Tuhannya yang tidak mengenal musim. Rumi memahami betul hakikat ini. Baginya, cinta kepada Tuhan tidak bisa dipadatkan dalam satu bulan, seperti tak mungkin kita hanya mencintai ibu kita di bulan tertentu saja.
Dan ada satu hal lagi yang saya coba hadapi dengan lebih jujur, sesuatu yang mungkin tidak nyaman untuk diakui, tapi justru perlu. Saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya berubah menjadi lebih baik di Ramadhan karena saya benar-benar menginginkan kebaikan itu, atau karena saya tidak ingin terlihat kurang saleh di hadapan orang-orang di sekitar saya? Dua pertanyaan yang berbeda. Dan jawabannya, kalau saya jujur, tidak selalu berpihak pada yang pertama.
Maka begitu Ramadhan usai dan sorotan sosial berkurang, apa yang tadinya terasa seperti keyakinan perlahan terkuak sebagai kebiasaan yang ditopang oleh suasana. Bukan karena saya jahat. Tapi karena iman memang perlu dirawat, bukan sekadar dihidupkan saat musimnya tiba.
Karena pada akhirnya, iman tidak diuji saat suasana mendukung, tetapi saat tidak ada yang menyaksikan selain Tuhan. Pasca Ramadhan bukan tentang kehilangan, melainkan tentang pembuktian: apakah saya hanya sempat menjadi baik, atau benar-benar sedang belajar untuk menjadi baik.
Ibadah: Ritual Menuju Kesadaran
Pesan Rumi adalah undangan untuk naik kelas: dari ibadah yang berbasis ritual menuju ibadah yang berbasis kesadaran. Dari ibadah karena takut ke ibadah karena rindu. Dari ibadah yang tergantung suasana ke ibadah yang tumbuh dari dalam.
Dalam tradisi tasawuf, ada yang disebut ‘istiqamah’, konsistensi yang melampaui momentum. Para sufi meyakini bahwa satu rakaat shalat yang dikerjakan dengan khusyuk di hari biasa, lebih bernilai daripada seribu rakaat yang dikerjakan terbawa arus. Dan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih, sangat menyukai amalan yang sedikit tapi konsisten: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim).
Prinsip ini berlawanan total dengan mentalitas “kebut sebulan” yang kerap saya praktikkan. Maka jawaban yang ingin saya coba pegang sekarang bukanlah menambah amalan, melainkan menjaga yang sudah ada. Satu halaman Al-Qur’an setiap hari mungkin tidak menggetarkan, tapi ia diam-diam membangun kedalaman. Dua rakaat di sepertiga malam mungkin tidak ramai, tapi ia mengikat langit dan hati dengan cara yang paling sunyi.
Penting pula untuk mengubah orientasi: bukan lagi bertanya “apa yang saya dapat dari ibadah ini?”, tetapi “apalah saya tanpa momen bersama Tuhan ini?”. Ketika ibadah bergeser dari mengejar pahala menjadi merawat kehadiran, menjaga koneksi dengan Sang Pencipta, maka ia tidak lagi bergantung pada bulan atau musim.
Allah Maha Segalanya, Hambanya yang Lupa
Ada sesuatu yang menyentuh sekaligus memberatkan dalam pertanyaan Rumi itu, memberatkan, bukan karena ia menghukum, tapi karena ia menelanjangi. Di sana tersimpan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa Allah tidak pernah pergi. Allah hadir dan setia di setiap detik, dua puluh empat jam sehari, tiga ratus enam puluh lima hari setahun. Allahtidak mengenal cuti. Allahtidak tidur dan tidak pula lalai.
Yang tidak setia adalah saya. Yang berubah adalah saya. Yang datang dan pergi adalah semangat saya, bukan Allah. Saya yang memilih tidur saat seharusnya berdiri. Saya yang memilih diam saat seharusnya membaca. Saya yang melepas tangan, bukan Dia. Maka pertanyaan Rumi sesungguhnya bukan hanya tentang ibadah, ia adalah cermin yang memantulkan wajah saya yang sesungguhnya: seberapa sungguh-sungguhkah cinta saya kepada Allah?
Pasca Ramadhan sejatinya bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah ujian sesungguhnya: apakah sebulan penuh latihan itu meninggalkan jejak yang permanen di jiwa saya, atau hanya menjadi kenangan indah yang perlahan memudar?
Ramadhan telah pergi. Tapi Allahtetap di sini, di setiap hembusan nafas saya, di kursi yang sama tempat saya duduk setiap pagi, dalam kopi yang mengepul, dalam hening malam hingga pagi. Ia tidak pergi ke mana-mana. Yang perlu saya tanyakan kepada diri saya sendiri bukan lagi “apakah saya sudah cukup beribadah di bulan itu?”, melainkan: “apakah hari ini, tanpa meriahnya Ramadhan, tanpa siapapun yang menyaksikan, saya masih mau mendekatkan diri kepada-Nya?”
Ditulis sebagai refleksi pasca Ramadhan
Daftar Pustaka
Al-Balkhi, Jalaluddin Rumi. (2004). Masnavi Ma’navi: Syair-Syair Sufi Jalaluddin Rumi. Terj. Abdul Hadi W.M. Yogyakarta: Pustaka Sufi.
Al-Hanbali, Ibnu Rajab. (2012). Latha’if Al-Ma’arif: Keistimewaan Amal di Sepanjang Tahun. Terj. Fathur Rachman. Solo: Pustaka Arafah.
Al-Ghazali, Abu Hamid. (2008). Ihya’ ‘Ulum Al-Din: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama (Jilid I). Terj. Moh. Zuhri et al. Semarang: CV. Asy-Syifa’.
Nasr, Seyyed Hossein. (2002). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. New York: HarperCollins Publishers.
Schimmel, Annemarie. (1993). The Triumphal Sun: A Study of the Works of Jalaluddin Rumi. Albany: State University of New York Press.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (1987). Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir. [Lihat: Kitab Al-Riqaq, Bab Al-‘Amal Al-Daim].
Al-Naisaburi, Muslim bin Al-Hajjaj. (1991). Shahih Muslim. Beirut: Dar Al-Jail. [Lihat: Kitab Shalat Al-Musafirin, Bab Fadhl Man Yudimu Al-Nafilah].
Bisri, A. Mustofa. (2018). Saleh Ritual, Saleh Sosial: Refleksi Keagamaan di Tengah Zaman. Jakarta: Diva Press.
Shihab, M. Quraish. (2000). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
Hidayat, Komaruddin. (2012). Psikologi Beragama: Menjadikan Hidup Lebih Nyaman dan Santun. Jakarta: Hikmah (Mizan Publika).






