Bioskop Lawu: Jejak Sejarah Hiburan di Madiun dari Masa Kolonial hingga Penutupan

Bioskop Lawu merupakan salah satu landmark bersejarah di Kota Madiun, Jawa Timur, yang mencerminkan evolusi hiburan masyarakat dari era kolonial Belanda hingga masa pasca-kemerdekaan Indonesia. Gedung ini tidak hanya menjadi tempat pemutaran film, tetapi juga simbol perubahan sosial, budaya, dan ekonomi di wilayah ini. Dibangun pada awal abad ke-20, Bioskop Lawu mengalami berbagai transformasi nama dan fungsi sebelum akhirnya tutup sebagai bioskop pada akhir 1990-an dan beralih menjadi pusat perbelanjaan modern.

Saya pertama kali ke bioskop Lawu sekira tahun 1980-an, saat menonton film Saur Sepuh. Saur Sepuh adalah sebuah film yang diadaptasi dari sandiwara radio di masa itu. Saat masih duduk di sekolah dasar, bersama adik dan ditemani bapak dan ibu. Sejurus ingatan saya, penonton membludak. Saat kuliah di akhir tahun 1990-an saya membaca buku Indonesia Cinema dari Khrisna Sen. Dari buku itu saya tahu bahwa Saur Sepuh adalah film kedua paling populer di masa Orde Baru.

Asal-Usul dan Pembangunan di Masa Kolonial

Sejarah Bioskop Lawu bermula dari seorang wanita Belanda bernama Mary Emmy Josephine Manuel, yang lahir di Solo pada 1868 dari pasangan Joseph August Manuel dan Elisabeth Jensen. Ia pindah ke Madiun pada 1905 dan mewarisi sebuah rumah besar di Residentslaan (sekarang Jalan Pahlawan) setelah ibunya meninggal pada 1917. Mary, yang hidup sendirian tanpa pelayan dan dikenal sebagai anggota Madioen Kunstkring (Dewan Seni Madiun), sangat mencintai seni pertunjukan. Saat meninggal mendadak pada 1928, ia meninggalkan wasiat agar rumahnya diubah menjadi venue pertunjukan atau bioskop.Pembangunan gedung dimulai pada 1928 setelah Pemerintah Kota Madiun (Gemeente Madioen) memperoleh tanah warisan tersebut. Proyek diserahkan kepada firma arsitek Fermont-Cuypers dari Batavia, yang juga merancang Balai Kota Madiun. Gedung diresmikan pada awal Agustus 1930 dengan nama “De Cecilia Schouwburg” atau Gemeente Schouwburg, ditandai dengan pertunjukan teater Het Spookhuis oleh Henri van Wermeskerken. Pidato pembukaan disampaikan oleh Burgermeester R.A. Schotman, disertai nyanyian lagu kebangsaan Belanda untuk menghormati ulang tahun Ratu Emma.Pada masa kolonial, gedung yang terletak di Jalan Raya No. 47 ini mencerminkan segregasi rasial: balkon dan loge untuk warga Eropa atau yang disetarakan, sementara kelas III (disebut “kelas kambing”) untuk bumiputera. Fungsinya meliputi pemutaran film, teater, pesta dansa, musik, dan sulap. Pada 1937, nama diganti menjadi Mary Theater untuk menghormati Mary Manuel. Kemudian, menjadi City Theater, yang sering disebut “Siti” oleh masyarakat Jawa setempat.

Masa Pasca-Kemerdekaan dan Kejayaan

Akhir 1940-an, gedung sempat tidak berfungsi, kemungkinan akibat Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan. Pada awal 1950-an, Soetamto Harjosuwegnjo menginisiasi pembukaan kembali, dan ia diangkat sebagai kepala bioskop pertama. Gedung resmi bernama Perusahaan Bioscoop “City Theater” milik Pemerintah Kota Madiun. Dalam era nasionalisasi, nama berubah menjadi Bioskop Lawu, meski sempat disebut Bioskop Galunggung. Nama “Lawu” mungkin merujuk pada Gunung Lawu, mirip dengan penamaan Bioskop Arjuna yang mengacu pada gunung atau tokoh pewayangan.Masa kejayaan Bioskop Lawu terjadi pada era 1960-1970-an, ketika menjadi pusat hiburan utama di Madiun. Selain film Barat dan Indonesia, gedung juga menyelenggarakan pertunjukan lokal seperti ketoprak Jawa atau opera. Bioskop ini melengkapi hiburan lain seperti Bioskop Arjuna (dulu Apollo, berdiri 1911), yang juga populer hingga akhir 1990-an. Di masa ini, bioskop menjadi tempat sosial bagi masyarakat, mencerminkan perkembangan budaya populer pasca-kolonial.

Penurunan, Penutupan, dan Transformasi

Sayangnya, kejayaan Bioskop Lawu tidak bertahan lama. Penurunan dimulai pada akhir 1980-an hingga 1990-an, dipengaruhi oleh munculnya teknologi baru seperti kaset video dan televisi, mirip dengan yang dialami Bioskop Arjuna yang tutup pada 2002 karena alasan serupa. Pada 1996, Pemerintah Kota Madiun menyewakan tanah gedung kepada investor untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Bioskop Lawu resmi tutup sebagai tempat hiburan, dan gedung diubah menjadi Pasaraya Sri Ratu Madiun, bagian dari jaringan toserba Sri Ratu dari Semarang, yang dibuka pada 1997.Transformasi ini menandai akhir era bioskop tradisional di Madiun. Pada 2017, mal direnovasi karena citra kurang populer, dan dibuka kembali sebagai Plaza Lawu pada 12 Desember 2018. Toserba Sri Ratu digantikan oleh Ramayana Prime, dan kini gedung menyertakan CGV Cinemas, yang sempat tutup sementara karena pandemi COVID-19 tetapi dibuka kembali pada 2021. Meski demikian, elemen hiburan bioskop tetap ada, meskipun dalam bentuk modern.

Bioskop Lawu bukan hanya sebuah gedung, melainkan cerminan perjalanan sejarah Madiun dari kolonialisme, kemerdekaan, hingga modernisasi. Dari wasiat Mary Manuel pada 1928 hingga penutupannya pada 1996-1997, bioskop ini telah menyaksikan perubahan besar dalam masyarakat Indonesia. Penutupannya yang dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi dan kebutuhan ekonomi, yang mengubahnya menjadi Plaza Lawu. Sisa bangunan Bioskop Lawu telah hilang, namun warisan ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan sejarah budaya di tengah perkembangan kota. Meski bioskop asli telah tiada, ceritanya tetap hidup sebagai bagian dari identitas Madiun. Layar sinema di Plaza Lawu, CGV Plaza Lawu menjadi penerus Bioskop Lawu.

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top