Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I
Ciri-ciri Ibadurrohman tertuang secara eksplisit dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan (25) ayat 63 sampai 76. Berikut adalah rangkuman karakteristik mereka berdasarkan ayat-ayat tersebut:
​1. Tawadhu (Rendah Hati)
​Ibadurrohman berjalan di muka bumi dengan tenang, sopan, dan tidak sombong. Mereka tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.
​”Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63)
​2. Menghindari Perdebatan Kusir
​Jika disapa atau dikonfrontasi oleh orang-orang bodoh (jahil) dengan kata-kata yang menghina atau memancing amarah, mereka tidak membalas dengan keburukan, melainkan menjawab dengan kata-kata yang mengandung keselamatan (salam).
​3. Ahli Ibadah di Malam Hari
​Mereka memanfaatkan waktu malam saat kebanyakan orang tertidur untuk bersujud dan berdiri menghadap Allah dalam shalat tahajud. Ini menunjukkan keikhlasan karena dilakukan jauh dari pandangan orang lain.
​4. Takut akan Azab Neraka
​Meski amalannya banyak, mereka tidak merasa aman. Mereka selalu berdoa agar dijauhkan dari azab neraka, karena mereka tahu bahwa azab neraka adalah kebinasaan yang kekal.
​5. Proporsional dalam Berinfaq
​Ciri khas mereka dalam masalah ekonomi adalah keseimbangan. Mereka tidak boros (tabdzir), namun tidak juga kikir (bakhil). Mereka berada di garis tengah yang bijaksana.
​6. Menjaga Tauhid dan Kehormatan
​Mereka menjauhkan diri dari tiga dosa besar yang sangat dibenci Allah:
​Syirik: Tidak menyekutukan Allah dengan apapun.
​Membunuh: Tidak menghilangkan nyawa tanpa hak.
​Zina: Menjaga kehormatan dan kesucian diri.
​7. Menjauhi Kepalsuan (Az-Zur)
​Mereka tidak memberikan kesaksian palsu dan tidak menghadiri tempat-tempat yang di dalamnya terdapat kemaksiatan atau hal-hal yang tidak berguna. Jika harus melewati tempat seperti itu, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan diri.
​8. Memiliki Hati yang Terbuka terhadap Kebenaran
​Apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah, mereka tidak bersikap tuli atau buta. Sebaliknya, mereka menyimak, merenungkan, dan segera memperbaiki diri.
9. Peduli terhadap Keluarga
​Ibadurrohman senantiasa berdoa agar pasangan dan keturunan mereka menjadi Qurrota A’yun (penyejuk mata) dan memohon agar mereka dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Kesimpulan:
Menjadi Ibadurrohman bukan sekadar status, melainkan sebuah proses dalam menyeimbangkan hubungan dengan Tuhan (Hablum Minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas).





