Oleh : Latutik Muchlisin (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun)
Menjelang Lebaran, suasana rumah-rumah di berbagai sudutIndonesia mulai berubah. Aroma kue kering menyeruak daridapur, tumpukan paket belanja memenuhi ruang tamu, dan obrolan tentang baju baru menjadi topik sehari-hari. Namun di balik semua itu, ada satu sosok yang kerap luput dari sorotan: ibu.
Bagi banyak ibu, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapardan dahaga. Ia adalah fase penuh ujian, bukan hanya spiritual, tetapi juga emosional dan fisik. Di satu sisi, mereka berusahamenjaga kekhusyukan ibadah puasa. Di sisi lain, merekadihadapkan pada tuntutan sosial dan kultural untukmempersiapkan Lebaran secara “sempurna”.
Fenomena ini menjadi menarik karena memperlihatkanbagaimana praktik keagamaan berinteraksi dengan realitassosial sehari-hari.
Puasa: Ruang Spiritual yang Tidak Selalu Sunyi
Secara normatif, puasa dalam Islam adalah ibadah yang menuntut ketenangan batin dan pengendalian diri. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamuberpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumkamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalahpembentukan ketakwaan, sebuah kondisi spiritual yang membutuhkan kesadaran penuh, refleksi diri, dan kedekatandengan Allah.
Namun dalam praktiknya, banyak ibu justru menjalani puasadalam situasi yang jauh dari ideal tersebut. Aktivitas domestikmeningkat drastis menjelang Lebaran: memasak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan hari raya, hinggamengurus anggota keluarga.
Jangan mendapatkan ruang kontemplatif, mereka justru beradadalam pusaran kesibukan yang nyaris tanpa jeda.
Lebaran sebagai Tekanan Sosial dan Budaya
Lebaran di Indonesia bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga peristiwa sosial-budaya. Ada ekspektasi kolektifyang tidak tertulis: rumah harus bersih, hidangan haruslengkap, pakaian harus baru.
Dalam konteks ini, ibu sering menjadi aktor utama yang memikul tanggung jawab tersebut.
Di sinilah muncul dilema. Puasa sebagai ibadah personal bertemu dengan Lebaran sebagai tuntutan sosial. Banyak ibumerasa harus “berhasil” dalam dua hal sekaligus: menjadipribadi yang sholihah sekaligus pengelola rumah tangga yang sempurna.
Padahal, Islam sendiri menekankan prinsip kemudahan dalamberibadah:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengankesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini seringkali menjadi pengingat bahwa kesempurnaanyang dituntut oleh budaya tidak selalu sejalan dengan prinsipdasar agama.
Negosiasi Peran: Antara Ibadah dan Ekspektasi
Dalam realitas sehari-hari, ibu-ibu melakukan semacam“negosiasi peran”. Mereka membagi waktu antara ibadah dan pekerjaan domestik, antara kebutuhan spiritual dan tuntutankeluarga.
Misalnya, seorang ibu mungkin harus memilih: melanjutkanmembaca Al-Qur’an atau menyelesaikan pesanan kueLebaran. Pilihan-pilihan kecil seperti ini terjadi berulang kali sepanjang Ramadan.
Di titik ini, puasa tidak lagi hanya soal menahan lapar, tetapijuga tentang bagaimana seseorang mengelola tekanan, ekspektasi, dan rasa bersalah.
Menariknya, banyak ibu justru menemukan makna spiritual dalam kesibukan itu sendiri. Aktivitas seperti memasak untukkeluarga, menyiapkan hidangan berbuka, atau membersihkanrumah sering dimaknai sebagai bagian dari ibadah.
Hal ini sejalan dengan konsep dalam Islam bahwa setiap amalyang diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, dapur bisa menjadi ruang spiritual, bukan sekadar ruang kerja. Kesibukan tidak selalu menjadipenghalang ibadah, tetapi bisa menjadi bentuk lain daripengabdian.
Refleksi: Siapa yang Menopang Ramadhan Kita?
Feature ini mengajak kita untuk melihat kembali Ramadhan dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa kekhusyukanibadah tidak selalu hadir dalam keheningan masjid ataupanjangnya doa, tetapi juga dalam kelelahan yang dijalanidengan ikhlas.
Ibu-ibu, dalam diamnya, adalah penopang utama atmosferRamadhan di banyak keluarga. Mereka memastikan sahurtersedia, berbuka tersaji, dan Lebaran terasa istimewa.
Namun pertanyaannya: sudahkah kita memberi ruang bagimereka untuk juga merasakan Ramadhan secara utuh, sebagaiindividu yang beribadah, bukan hanya sebagai pengelolarumah tangga?
Penutup
Menjelang Lebaran, mungkin yang perlu kita rayakan bukanhanya hidangan yang melimpah atau pakaian baru, tetapi juga keteguhan hati para ibu yang menjalani Ramadhan dengansegala kompleksitasnya.
Karena di balik setiap meja makan yang penuh saatLebaran, ada cerita tentang lelah, cinta, dan iman yang bekerja tanpa henti.(keeptobesincerepersonispecialdayformyblessingfamily)
Daftar Pustaka :
• Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Gender Indonesia. Jakarta: BPS.
→ Menunjukkan pembagian kerja domestik masihdidominasi perempuan.
• UN Women. (2022). Progress on the Sustainable Development Goals: Gender Snapshot.
→ Membahas beban kerja tidak berbayar (unpaid care work) pada perempuan.
• The Second Shift. (1989). New York: Viking.
→ Konsep “double burden” perempuan dalam pekerjaandomestik dan publik.
• Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan PerlindunganAnak. (2022). Profil Gender Indonesia.
• Komunikasi Lingkungan & komunikasi sosial keagamaan





