Yogyakarta – Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat aktivitas fisik dan kebugaran jasmani anak sekolah. Upaya ini melibatkan sekolah-sekolah mitra, Dinas Kesehatan DIY, serta akademisi Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Gerakan Aktivitas Fisik Anak Sekolah DIY (GAAS) yang digelar di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis lanjutan dari kemitraan UNY, Dinas Kesehatan DIY, dan LPO PP Muhammadiyah dalam mendorong penerapan program aktivitas fisik yang terarah dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen, LPO PP Muhammadiyah melakukan penandatanganan kerja sama dengan sejumlah sekolah mitra. Dinas Kesehatan DIY mendorong sekolah melaksanakan program aktivitas fisik dengan dukungan koordinasi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan, dan pemangku kepentingan terkait. Sekolah juga dapat menyesuaikan bentuk aktivitas sesuai kondisi, kebutuhan, dan kreativitas masing-masing.
Aktivitas fisik diarahkan untuk dilakukan secara rutin, terstruktur, menyenangkan, dan melibatkan peserta didik. Perwakilan Dinas Kesehatan DIY, Dr. Annisa Ulfah, M.Kes., menekankan pentingnya membangun kebiasaan hidup aktif sejak dini. Menurutnya, orang tua juga berperan dalam memberikan contoh kepada anak.
“Kita juga menjadi role model buat anak-anak. Kita di rumah, misalnya, sampai rumah malah langsung scroll handphone. Nah, itu juga akhirnya membuat anak-anak jadi tidak bergerak,” ujar Annisa.
Dosen FIKK UNY, Fitria Dwi Andriyani, S.Pd.Jas., M.Or., Ph.D., menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mendorong aktivitas fisik anak sekolah.
“Kita di sini nggak bisa kerja sendiri. Pasti perlu kerja sama dan kolaborasi dari semua pihak,” ungkap Fitria.
Ketua LPO PP Muhammadiyah, Dr. Gatot Sugiharto, S.H., M.H., mengatakan aktivitas fisik perlu dibiasakan sejak anak berada di lingkungan sekolah. Selain mendukung kesehatan dan kebugaran, kebiasaan bergerak juga dapat membantu meningkatkan fokus siswa dalam mengikuti pembelajaran.
“Riset-riset di dunia sudah banyak menunjukkan pentingnya siswa membiasakan diri untuk bergerak, karena itu bisa membantu supaya fokusnya juga lebih bagus,” ujar Gatot.
Melalui kolaborasi tersebut, aktivitas fisik diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan dan budaya sekolah, bukan sekadar kegiatan sesaat atau dalam rangka perlombaan. Aktivitas fisik anak sekolah menjadi investasi untuk masa depan melalui peningkatan kebugaran dan kualitas hidup peserta didik. (Destya Nathasya Saputri)






