YOGYAKARTA– Dosen Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) mengikuti Workshop Adaptasi Kurikulum OBE Berbasis Essential Competencies for Midwifery Practice ICM bagi Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan PTMA.
Dosen tersebut adalah Nisa Ardhianingtyas, M.Kes yang juga Kaprodi Kebidanan D3 UMMAD. Nisa Ardhianingtyas menjadi bagian dari 39 peserta workshop yang berasal dari Universitas, Politeknik, Poltekkes, ITKES maupun STIKES yang dimiliki Muhammadiyah di tanah air.
Penyelenggara workshop ini adalah Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah bekerja sama dengan United Nation Population Fund (UNFPA), MPKU Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah ‘Aisyiyah (AIPKEMA).
Serta mendapat dukungan sari Global Affairs Canada melalui Project IMPACT (Canada Indonesia Partnership for Advancing Midwifery Competency based Midwifery Education).
Nisa Ardhianingtyas menyampaikan, workshop yang digelar 3 hari mulai Rabu-Jumat, 6-8 Mei 2026 di Yogyakarta ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan kebidanan serta penyesuaian kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang selaras dengan Essential Competencies for Midwifery Practice ICM 2025.
“International Confederation of Midwives telah merilis Essential Competencies forMidwifery Practice 2025 ini yang menjadi acuan global dalam pendidikan dan praktik kebidanan,” ujar Nisa, Rabu, 6 Mei 2026.
Disampaikan Nisa Ardhianingtyas, kompetensi berstandar internasional yang ditekankan dalam Essential Competencies for Midwifery Practice ICM 2025 ini ada lima hal.Pertama Cross-Functional Competencies forMidwifery Practice. Kedua, Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR). Ketiga, Antenatal Care(Asuhan Kehamilan). Keempat, Care During Labour and Birth (Persalinan) dan kelima, Ongoing Care of Women and Newborns.
“Standar ini menjadi rujukan penting dalam memastikan lulusan kebidanan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan global dan perkembangansistem kesehatan,” jelas Nisa.
Namun dalam praktiknya, implementasi kurikulum sering menghadapi berbagaikendala, seperti ketidaksesuaian antara kurikulum lama dengan standar global terbaru, variasi pemahaman dosen terhadap kompetensi inti, belum optimalnya integrasi antara teori dan praktik klinik, serta keterbatasan sistem evaluasi berbasis capaian pembelajaran (OBE).
Dalam konteks penguatan mutu pendidikan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (Majelis Dikti PPA) memiliki peran strategis dalam mengarahkan kebijakan, pembinaan, dan standarisasi mutu pendidikan dilingkungan Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA), termasuk Program Studi Kebidanan.
MajelisDikti PPA berperan dalam memastikan bahwa pengembangan kurikulum guna memenuhi standar nasional dan internasional serta mengintegrasikan nilai-nilai Al-Islamdan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai ciri khas PTMA.
Sementara itu, Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah ‘Aisyiyah(AIPKEMA) berperan sebagai wadah kolaboratif antar institusi pendidikan kebidanan PTMA dalam penguatan kapasitas kelembagaan, harmonisasi kurikulum, serta pengembangan standarpendidikan kebidanan yang adaptif terhadap dinamika global.
AIPKEMA juga berkontribusidalam mendorong implementasi kurikulum OBE melalui berbagi praktik baik (best practices),pengembangan jejaring akademik, serta fasilitasi peningkatan kualitas dosen dan pembelajaran klinik.
“Workshop ini diselenggarakan untuk membantu PTMA dalam mengadaptasi kurikulum pendidikan kebidanan agar selaras dengan Essential Competencies for Midwifery Practice ICM 2025 yang telah diadaptasi ke dalam Kerangka Nasional Kurikulum Pendidikan Kebidanan oleh Kolegium Kebidanan dan Kementerian Kesehatan,” jelas Nisa.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah narasumber mulai dari Kementerian Kesehatan RI, Maternal Health and Midwifeey Programmer Analyst UNFPA, Ketua Kolegium Kebidanan Indonesia serta Tim Penyusun Panduan Kurikulum Pendidikan Tinggi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dirjen Dikti Kemendiktisaintek RI serta Guru Besar Bidang Keilmuan Kebidanan Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Metode workshop dilakukan dengan ceramah berupa penyampaian materi narasumber, lalu diskus menyusun kurikulum serta presentasi dan refleksi berupa penyampaian hasil kelompok untuk mendapatkan masukan.
“Hasil yang diharapkan dari workshop ini adalah Dokumen Kerangka kurikulum kebidanan PTMA dengan integrasi AIK berdasarkan konsep Essential Competencies for Midwifery Practice ICM 2025. Rencana implementasi kurikulum OBE pada Program Studi TA 2026/2027 dan pemetaan unggulan program studi kebidanan di lingkungan PTMA,” ujar Nisa. (*)





