Dalam Al-Baqarah ayat 29, Allah menegaskan posisinya sebagai Sang Arsitek yang membentangkan bumi dan segala isinya khusus untuk manusia. Ayat ini adalah bentuk “surat izin” sekaligus pengingat bahwa kita tidak hidup di ruang hampa; seluruh sumber daya alam, keindahan, dan fasilitas di dunia ini disediakan agar kita bisa bertahan hidup dan berkembang. Ini adalah titik berangkat di mana kita menyadari bahwa dunia adalah sarana yang dipinjamkan-Nya untuk dikelola.
​Namun, agar manusia tidak salah dalam membaca fasilitas tersebut, Al-Qashash ayat 77 hadir sebagai kompas moral yang menyeimbangkan langkah. Narasi dalam ayat ini mengajarkan kita untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan utama (sentrisitas visi), namun dengan tetap memijak bumi secara realistis. Kita diingatkan bahwa menikmati karunia dunia—seperti kenyamanan hidup dan kesenangan yang halal—bukanlah sebuah dosa, selama hal itu tidak membuat kita lalai.
​Pada akhirnya, perpaduan kedua ayat ini membentuk sosok manusia yang produktif dan berempati. Dengan pemahaman bahwa dunia diciptakan untuknya (Al-Baqarah: 29), ia menjadi percaya diri untuk berkarya. Dengan memahami bahwa dunia adalah alat untuk membeli kebahagiaan akhirat dan sarana berbuat baik kepada sesama (Al-Qashash: 77), ia menjadi pribadi yang tidak serakah dan jauh dari kerusakan. Inilah narasi tentang keseimbangan: menikmati dunia sebagai pemberian, namun memanfaatkan sebagai investasi untuk keabadian.(Aburozan)
Ekoteologi Kalifah, Sambutan Prof. Haedar Nashir di Pengajian PWM Jatim
Baca juga
Subscribe
Login
0 Comments
Oldest
Newest
Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments





