Hadirkan Tema Ramadhan yang Lebih Bermakna, Dosen UMMAD Jadi Nara Sumber Program Mutiara Pagi RRI Madiun

MADIUN – Dosen Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Suyono, M.Pd hadir sebagai nara sumber program acara Mutiara Pagi di RRI Pro 1 Madiun, Jumat, 20 Februari 2026.

Program Mutiara Pagi yang juga disiarkan melalui youtube RRI Madiun tersebut menghadirkan tema “Ramadhan yang Lebih Bermakna dan Bernilai”.

Dengan dipandu host Miftah El Karym, Suyono menyampaikan pembahasan mengenai kurikulum Ramadhan Nabi Muhammad SAW.

“Dengan menjalankan kurikulum puasa dari Rasulullah Muhammad SAW diharapkan puasa yang dilakukan kaum mukmin bisa lebih bermakna dan bernilai,” terang Suyono

Suyono menyampaikan, jangan sampai melaksanakan ibadah puasa yang hanya atu bulan dalam satu tahun cuma jadi rutinitas, menggugurkan kewajiban, tidak ada yang bermakna.

Maka dengan kurikulum Ramadhan dari Nabi Muhammad, puasa orang yang beriman bisa lebih bermakna dan memiliki nilai lebih.

Orientasi puasa

Dalam paparan awal, Suyono menerangkan mengenai orientasi puasa yang dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah ayat 183.

“Ayat ini mudah dihafal, mudah diingat namun memiliki substansi dan esensi luar biasa,”kata Suyono.

Diterangkan Suyono, yang mendapat seruan berpuasa didalam ayat ini hanya khusus orang beriman. Mengapa hanya orang beriman yang diperintahkan berpuasa?

“Karena Allah sudah tahu hanya orang berima yang akan mampu melakukan ibadah puasa,” kata Direktur AIK UMMAD tersebut.

Menurut Suyono, ibadah puasa itu orientasinya membentuk kepribadian taqwa kepada Allah SWT.

“Yang tadinya sudah beriman, dengan ibadah puasa yang bermakna akan dtingkatkan derajatnya oleh Allah kepada derajat yang paling tinggi namanya derajat mutaqin atau derajat taqwa,”terang Suyono.

Kurikulum Ramadhan

Suyono menerangkan, agar puasa umat yang beriman berlangsung dengan baik, maka Rasulullah Muhammad SAW membuat kurikulum puasa.

“Misalnya saat puasa itu apa yang harus kita lakukan? Ada jadwal mulai kita melakukan sahur setelah itu apa misalnya baca Alquran, lalu Shalat Subuh berjamaah lalu mengerjakan aktifitas ibadah lainnya misalnya mengerjakan Shalat Dhuha,” terang Sekretaris PDM Kota Madiun tersebut.

Menurut Suyono, kurikulum puasa pertama yang dilakukan Rasulullah adalah memperbanyak atau meningkatkan (kualitas dan kuantitas) ibadah shalat.

“Disamping shalat wajib kita juga melaksanakan sholat sunnah karena nilainya dilipat gandakan oleh SWT di bulan puasa. Bahkan dikatakan Rasulullah pahalanya disamakan amalan wajib, ini luar biasa,” terang Suyono.

Misalnya Shalat Dhuha atau juga sholat sunah yang melekat di sholat wajib (rawatib) yaitu shalat qabliyah dan badiyah. Malam harinya melaksanakan shalat malam (lail).

“Kita kerjakan shalat sunnah, kita berupaya lebih bernilai mengingat puasa ini hanya satu bulan dalam satu tahun. Malamnya jangan lupa shalat lail kalau tidak bisa dilaksanakan secara rutin di masjid bisa di rumah,” jelas Suyono.

Berinteraksi dengan Al Qur’an

Kurikulum kedua adalah berinteraksi dengan Al Qur’an. Rasul dan sahabat senantiasa tadarus Al Quran tidak bisa meninggalkan untuk membaca Al Quran.

Sekarang sudah banyak tafsir Alquran yang bisa kita baca kemudian memahami arti dan maknanya. Setelah memaknai kita harus bisa mengamalkannya.

“Kenapa kita harus senantiasa berinteraksi dengan Alquran karena Al Quran adalah petunjuk. Pada bulan Ramadhan diturunkan Alqur’an untuk petunjuk bagi manusia. Dalam aktivitas kita Alqur’an jadi petunjuk yang tidak ada keraguan bagi orang bertaqwa,” terang Suyono.

Infaq

Kurikulum ketiga adalah berinfaq dan bersadaqah sesuai kemampuan yang dimiliki. Jika tidak punya uang pakai tenaga,atau dengan pikiran.

“Misalnya takmir masjid memikirkan bagaimana caranya menjadikan masjid jadi tempat ibadah di bulan puasa yang penuh makna. Ccntohnya dengan melakukan tadarus, tarawih ataupun melakukan kajian,” kata Suyono.(*)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top