Idul Fitri dan Literasi Keuangan : Antara Tradisi dan Pengelolaan Finansial yang Bijak

Idul fitri merupakan momentum yang paling berbahagia, karena pada momen tersebut umat muslim di seluruh dunia khususnya di Indonesia dapat merasakan kenikmatan setelah hamper satu bulan melakukan ibadah puasa Ramadhan. Idul fitri tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual saja (menahan hawanafsu) tetapi juga menjadi momentum silaturahmi dengan lingkungan masyarakat dan juga keluarga. Namun dibalik itu semua ada tradisi yang tak bisa lepas dari perayaan tersebut yaitu berbagi kebahagiaan kepada sanak family bahkan orang-orang terdekat , berbagi kebahagiaan bisa berupa bingkisan lebaran, uang , atau souvenir lainnya. Tradisi ini tidak akan lepas dari kehidupan kita apalagi di negara Indonesia. Oleh karena itu ta khayal untuk pengeluaran di idul fitri memang bisa dua kali lipat dari pengeluaran rumah tangga seperti biasanya, itu sebabnya pemerintah Indonesia khusus nya memberikan peraturan mengenai Tunjangan Hari Raya (THR) yang sudah diatur oleh peraturan mentri Ekonomi, dan Ketenagakerjaan mengenai hal tersebut.

Sekilas momentum tersebut seperti adanya ledakan uang yang dahsyat di berbagai lini, ta khayal dengan adanya peristiwa tersebut di berapa sumber khususnya Bank Indonesia bahakan BPS pernah memprediksi bahwa lonjakan perputaran uang diIndonesia terjadi di saat idul fitri menurut CNBC pada tahun 2026 ini perputaran uang yang akan terjadi mencapai Rp 175 – Rp 190 Triliyun, data ini didapat dari pernyataan salah seorang deputi Bank Indonesia yang empersiapkan uang layak edar sekitar Rp 180 Triliyun. Jumlah ini diperkirakan ada kenaikan dari tahun 2025 dengan hanya RP 130an Triliyunan saja. 

Angka-angka ini menunjukkan pentingnya Idul Fitri bagi perekonomian nasional. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas ekonomi selama Idul Fitri telah menjadi pendorong utama konsumsi rumah tangga. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lebih dari setengah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen memiliki dampak signifikan terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Namun, melimpahnya uang yang beredar selama Idul Fitri tidak selalu diiringi dengan pengelolaan keuangan rumah tangga yang baik. Banyak orang terjebak dalam perangkap konsumsi berlebihan untuk memenuhi tuntutan sosial atau mengikuti tradisi lokal. Pengeluaran seringkali menjadi tidak terkendali karena dorongan emosional untuk merayakan Idul Fitri, keinginan untuk tampil lebih baik dari tahun sebelumnya, dan pembelian impulsif berbagai kebutuhan.

Dilihat dari kacamata ekonomi bahwa asyarakat Indonesia cenderung lebih konsumtif pada momentum idul fitri dari pada pada momentum hari raya yang lain, ini tak bisa terbendung karena memang Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Namun, banyak orang cenderung menghabiskan uang secara berlebihan selama Idul Fitri. Pengeluaran seringkali menjadi tidak terkendali karena tekanan sosial untuk mengikuti tren, keinginan untuk tampil lebih baik dari tahun sebelumnya, dan kegembiraan merayakan. Akibatnya, beberapa keluarga menghadapi kesulitan keuangan setelah Idul Fitri, bahkan terkadang sampai berutang karena pengeluaran yang tidak direncanakan.

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang kurang memiliki literasi keuangan. Memiliki literasi keuangan bukan hanya berarti mampu menghasilkan uang, tetapi juga mampu merencanakan, mengelola, dan menggunakannya dengan bijak. Dalam konteks Idul Fitri, kesadaran finansial membantu individu dan keluarga memahami apa yang paling penting, membedakan antara apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan, serta mengelola anggaran mereka sesuai kemampuan.

Dengan perencanaan sederhana, kita sebenarnya dapat memulai manajemen keuangan yang cerdas menjelang Idul Fitri. Misalnya, buat anggaran khusus untuk Idul Fitri sejak awal Ramadan, yang dapat mencakup zakat (sedekah), amal, makanan, pakaian, transportasi untuk pulang kampung, dan kebutuhan lainnya. Dengan rencana yang jelas, orang dapat menghindari pengeluaran impulsif dan fokus pada kebutuhan terpenting. Selain itu, penting untuk diingat bahwa nilai-nilai inti Idul Fitri adalah kesederhanaan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Ini bukan tentang kemewahan atau kegiatan yang berlebihan. Keseimbangan dalam pengelolaan kekayaan adalah prinsip inti Islam. Al-Quran mengajarkan manusia untuk tidak boros atau kikir dalam menggunakan kekayaan mereka. Menurut prinsip ini, pengeluaran harus proporsional dan sesuai kemampuan.

Di sisi lain, perayaan Idul Fitri tidak hanya menandakan kemenangan spiritual tetapi juga mengajarkan pentingnya berbagi kekayaan melalui kewajiban zakat fitrah (sedekah) dan mendorong pemberian amal. Fungsi sosialnya yang krusial adalah untuk membantu mereka yang kurang beruntung merasakan kegembiraan hari raya. Dengan demikian, perayaan Idul Fitri juga berfungsi untuk memperkuat keadilan sosial dan solidaritas ekonomi dalam masyarakat.

Zakat dan sedekah juga dapat dianggap sebagai metode pengelolaan keuangan yang memiliki aspek spiritual dan sosial dari perspektif literasi keuangan. Memberi tidak hanya membantu mereka yang menerimanya, tetapi juga mengajarkan orang bahwa kekayaan memiliki fungsi sosial. Ini menunjukkan bahwa berkah finansial diukur bukan hanya dari jumlah kekayaan yang dimiliki, tetapi juga dari sejauh mana aset tersebut dapat membantu orang lain.Pada akhirnya, merayakan Idul Fitri dengan bijak bukan berarti meninggalkan tradisi atau mengabaikan kesenangan. Idul Fitri benar-benar menjadi momen kemenangan, yang dirasakan baik secara spiritual maupun finansial, ketika tradisi, nilai-nilai spiritual, dan sumber daya keuangan seimbang. Oleh karena itu perlu dicerati kebali bahwa omentum idul fitri begitu penting maka untuk dapat menikmati momentum ini secara menyeluruh harus dicermati bagaimana polakita dalam mengelola keuangan, selktif dan lebih bijak dalam engatur pada post-post keuangan tertentu bahkan keuangan rumah tangga, jangan sampai momen idul fitri enjadi boomerang bagi kita karena ketledoran kita sendiri. (MM)
Penulis: Hafidz Abdullah Asshidiqy, SE.,ME., Dosen Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD).

Referensi
– Chairunisa, N., & Widhiastuti, R. N. (2023). Pengaruh Literasi Keuangan, Sikap Keuangan Dan Gaya Hidup Terhadap Pengelolaan Keuangan Generasi Milenial. Remittance: Jurnal Akuntansi Keuangan Dan Perbankan, 4(2), 1–9. https://doi.org/10.56486/remittance.vol4no2.402
– Distian andi, debi septiani. (2024). Literasi Keuangan Dan Dampaknya Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa : Tinjauan Literatur. EKONOMIKAWAN: Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Studi Pembangunan, 16(3), 56–61. https://doi.org/10.30596/ekonomikawan.v17i1.1180
– Putri, M. D., Mappatompo, A., & Syah, F. (2025). Pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif The influence of financial literacy on consumptive behavior ( A case study of students of the Management Study Program , Faculty of. Jurnal Bisnis Mahasiswa, 5(5), 2303–2309.
– Putri, N. A., & Lestari, D. (2019). Pengaruh Gaya Hidup dan Literasi Keuangan Terhadap Pengelolaan Keuangan Tenaga Kerja Muda di Jakarta. AKURASI: Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 1(1), 31–42. https://doi.org/10.36407/akurasi.v1i1.61
– Yona fitri,  elbina mamia. (2025). peningkatan literasi keuangan masyarakat desa sebangar melalui edukasi dan pendampingan keuangan keluarga. 36–45.
– Yudasella, K. (2019). Ighfa Fahira Yudasella 1) , Astrie Krisnawati 2) PENGARUH LITERASI KEUANGAN TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA BANDUNG Jurnal Mitra Manajemen (JMM Online). Ighfa Fahira Yudasella, 1(2), 674–687.
– bi.go.id
– bps.go.id

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top