Ilmu sebagai Kunci Utama Ridha Allah

Oleh Dr.Suwardi, M.Pd.I (Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Madiun)

Muqoddimah

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan mengangkat derajat manusia melalui cahaya ilmu. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ï·º, sosok guru pertama yang mengajarkan bahwa jalan menuju ridha Allah tidak bisa ditempuh dengan kebutaan, melainkan dengan bashirah (ilmu yang nyata). Dalam perjalanan menuju akhirat, amal shalih tanpa ilmu ibarat raga tanpa jiwa; ia ada namun tak bernyawa. Oleh karena itu, memahami kedudukan ilmu syar’i bukan sekadar pemuas intelektualitas, melainkan syarat mutlak agar setiap peluh dan letih kita dalam beribadah memiliki nilai di timbangan Allah. Ilmu adalah pembeda antara mereka yang sampai ke tujuan dengan mereka yang tersesat di tengah jalan.

1. Pentingnya Ilmu: Syarat Berharganya Amal

Kesadaran akan pentingnya ilmu tercermin dalam dialog mendalam antara seorang lelaki dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه. Ketika ditanya tentang amal paling utama, beliau konsisten menjawab “Ilmu”. Beliau menekankan bahwa ilmu tentang Allah (Ma’rifatullah) adalah sebab bermanfaatnya amal, baik sedikit maupun banyak. Sebaliknya, kebodohan menyebabkan amal setinggi gunung sekalipun menjadi sia-sia. Hal ini sejalan dengan prinsip Imam Bukhari, “Al-ilmu qablal qauli wal ‘amal” (Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan). Sebagaimana dijelaskan Ibnul Munayyir, ilmu adalah motor penggerak niat, dan niat adalah pelurus amal. Tanpa ilmu, sebuah amalan kehilangan fondasi kebenarannya, sehingga ilmu harus didahulukan agar kita tidak meremehkan proses belajar dalam beragama.

2. Ilmu sebagai Peta Detil Menuju Jannah

Siapapun yang berambisi meraih surga, ia wajib mengenali rute perjalanannya. Amal shalih tidak akan berfaedah tanpa bimbingan ilmu. Rasulullah ï·º memberikan janji yang pasti: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah mudahkan baginya untuk masuk jannah” (HR. Tirmidzi). Adalah sebuah kejanggalan jika seseorang mengaku merindukan surga namun enggan mempelajari detil kebaikan untuk dikerjakan dan detil keburukan untuk dihindari. Pengetahuan yang terlalu global—seperti tahu lampu merah adalah rambu tapi tak tahu maksud warnanya—tidak akan menyelamatkan seseorang. Begitu pula orang yang tahu syirik itu dosa, namun tak paham perilaku apa saja yang masuk kategori syirik, ia akan mudah terjerumus dalam kehancuran tanpa ia sadari.

3. Derajat Tinggi bagi Pemilik Ilmu Syar’i

Ilmu syar’i tidak hanya mempermudah jalan ke surga, tetapi juga meninggikan derajat pemiliknya di sana. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah mengangkat derajat orang beriman dan berilmu beberapa derajat. Ibnu Abbas رضي الله عنه menggambarkan betapa fantastisnya selisih ini; kedudukan ulama berada 700 derajat di atas mukmin biasa, dengan jarak antar-derajat sejauh 500 tahun perjalanan. Secara total, ada selisih kemuliaan setara 350.000 tahun perjalanan. Angka ini menggambarkan betapa Allah sangat memuliakan mereka yang menghabiskan waktunya untuk mempelajari dan menjaga syariat-Nya.

4. Perumpamaan Ulama: Cahaya di Tengah Kegelapan

Rasulullah ï·º memberikan analogi yang indah tentang keutamaan ulama dibanding ahli ibadah: “Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah seperti perumpamaan bulan purnama dibandingkan dengan bintang-bintang” (HR. Abu Dawud). Satu bulan purnama mampu menerangi seluruh bumi, sementara jutaan bintang tidak mampu melakukannya. Ini karena ibadah seorang ahli ibadah hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan ilmu seorang ulama adalah cahaya bagi umat. Imam Ahmad bin Hanbal memuji para ulama sebagai penerus para Rasul yang menghidupkan jiwa-jiwa yang mati dengan Kitabullah dan memberi pencerahan kepada mereka yang buta mata hatinya. Meski seringkali dakwah mereka ditanggapi dengan buruk oleh manusia, manfaat ilmu mereka terus mengalir melintasi generasi melalui karya-karya yang terpercaya (tsiqqah).

5. Kemuliaan yang Terpancar Sejak di Dunia

Sejarah mencatat bahwa ilmu syar’i memberikan kemuliaan bahkan sebelum seseorang menginjakkan kaki di akhirat. Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah menyaksikan betapa rakyat lebih antusias menyambut kedatangan ulama Abdullah ibnul Mubarak daripada menyambut sang Khalifah sendiri. Begitu pula saat Umar bin Khattab رضي الله عنه membenarkan pengangkatan Ibnu Abza (seorang bekas budak) menjadi pemimpin di Mekkah hanya karena ia alim dalam Al-Qur’an dan ilmu fara’idh. Ini membuktikan sabda Nabi bahwa Allah mengangkat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan yang lain jika meninggalkannya (HR. Muslim).

6. Mu’adz bin Jabal: Pemimpin Para Ulama

Di antara para sahabat, Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه adalah teladan utama dalam ketelitian ilmu. Beliau adalah orang yang paling paham tentang halal dan haram. Atas ketekunannya tersebut, Rasulullah ï·º memberikan kabar gembira bahwa pada hari kiamat kelak, Mu’adz akan berdiri satu langkah di depan para ulama lainnya (Amamal ‘ulama bi ratwah). Sebagian ulama mengartikan jarak tersebut sejauh mata memandang. Beliau menjadi pemimpin bagi orang-orang yang paling mulia, yaitu para pemilik ilmu.

Penutup: Menjadi Ulama Amilun

Ilmu syar’i adalah satu-satunya perhiasan yang tidak akan luntur dan satu-satunya bekal yang tidak akan basi. Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan di dunia dan kedudukan tinggi di akhirat, maka tidak ada jalan lain kecuali melazimi ilmu syar’i. Mari kita memohon kepada Allah agar tidak hanya dijadikan orang yang tahu, tetapi dijadikan sebagai Ulama Amilun ahli ilmu yang dengan ikhlas mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju majelis-majelis ilmu-Nya. Amin.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top