Integrasi Kampus, Pesantren, dan Rumah Jurnal Perkuat Ekosistem Akademik Berkelanjutan

Madiun — Upaya membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan terus dikembangkan oleh sejumlah akademisi lintas perguruan tinggi melalui pembentukan konsorsium akademik. Melalui forum musyawarah daring yang diselenggarakan oleh Tim Integratif Riset dan Transformasi Akademik pada Sabtu (7/3/2026), para akademisi tersebut membahas strategi integrasi antara kampus, pesantren, rumah jurnal, dan mahasiswa dalam kegiatan akademik.

Pertemuan ini dihadiri oleh enam anggota konsorsium dari sembilan anggota yang tergabung dalam forum tersebut. Forum dinilai memenuhi kuorum untuk melanjutkan pembahasan dan pengambilan keputusan. Salah satu fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah integrasi antara berbagai lembaga pendidikan dan publikasi ilmiah yang dimiliki oleh para anggota konsorsium.

Dalam forum tersebut hadir Aris Kuswanto yang mengelola Pesantren Al-Kholil Sidoarjo, Ahmad Maulana Anshori yang mengelola Pesantren Al-Fath Siak sekaligus rumah jurnal Journal of Contemporary Research and Innovation (JCRI), serta Muhammad Haris yang dikenal sebagai pengelola rumah jurnal Dakwatul Islam dan beberapa jurnal ilmiah lainnya. Ketiganya menyatakan dukungan terhadap gagasan integrasi antara kegiatan akademik kampus dengan pengembangan lembaga pesantren dan rumah jurnal. Menurut mereka, kolaborasi semacam ini dapat memberikan manfaat yang luas, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun bagi masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat dapat dilakukan secara lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, forum juga membahas pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan akademik yang dilakukan oleh konsorsium. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi peserta pembelajaran di kelas, tetapi juga dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, pengelolaan jurnal ilmiah, hingga pengembangan platform digital akademik. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan model pembelajaran berbasis praktik yang semakin berkembang di perguruan tinggi.

Integrasi kegiatan akademik tersebut juga dinilai dapat mendukung pelaksanaan beberapa mata kuliah wajib di berbagai perguruan tinggi, seperti mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Keaswajaan, Ilmu Sosial Budaya Dasar, maupun matakuliah serumpun. Dengan demikian, kegiatan konsorsium dapat menjadi bagian dari implementasi pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif.

Para peserta forum juga sepakat bahwa integrasi antara kampus, pesantren, dan rumah jurnal perlu diformalkan melalui dokumen kerja sama resmi. Untuk itu, konsorsium akan menyusun dokumen MoU, MoA, serta pedoman teknis sebagai dasar pelaksanaan kegiatan kolaboratif di masa mendatang. Melalui langkah ini, kegiatan konsorsium diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan penelitian, serta penguatan akreditasi program studi dan institusi.

Mochtar menyatakan bahwa konsorsium ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi akademik yang berkelanjutan di Indonesia. “Ketika kampus, pesantren, dan rumah jurnal dapat bekerja bersama, maka kita tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga membangun ekosistem ilmu yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya. Forum tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat kolaborasi akademik serta mengadakan pertemuan rutin guna merencanakan berbagai kegiatan ilmiah berikutnya.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top