Oleh Abdul Mu’ti — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah;
Tahun 2000an, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memperkenalkan Manajemen Qalbu (MQ) sebagai metode dan materi dakwah. MQ dan Aa Gym sempat menjadi trend setter dakwah di kalangan muslim kelas menengah kota. Dakwah ala MQ menekankan pada pembersihan hati (tazkiatun nafs) dari sifat-sifat tercela seperti riya, sombong, dengki, dan iri hati sehingga hidup menjadi bersih, tenang, dan jernih. Prinsipnya ada tiga. Pertama, 3T: tauhid, tazkiah, tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua, 3M: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini. Ketiga, zikir, fikir, ikhtiar. Untuk mendukung dakwah, Aa Gym mendirikan MQTV, MQ Radio, dan berbagai unit bisnis lainnya.
Tulisan ini membahas Manajemen Nafsu (MN). Jika MQ fokus pada bagaimana membersihkan hati, MN menitik beratkan pada bagaimana mengelola nafsu. MN memiliki tiga prinsip dasar.
Pertama, manusia memiliki fitrah (natural disposition), potensi, dan sifat-sifat bawaan yang dibawa sejak lahir. Di antara fitrah itu adalah nafsu. Di dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang membahas nafsu. Dari pembahasan tersebut, nafs setidaknya memiliki empat pengertian: (1) nyawa sebagai sumber atau pertanda kehidupan; (2) individu yang unik, berbeda dengan yang lain; (3) jiwa (psyche), gejala dan sifat-sifat; dan (4) dorongan (syahwat) untuk melakukan sesuatu.
Kedua, bahwa nafsu sebagai fitrah pada dasarnya merupakan potensi yang baik. Dengan nafsu manusia memiliki hasrat untuk maju, berbuat lebih, mempertahankan diri, berkembang biak (regenerasi), rasa memiliki, dan sebagainya. Secara umum, menurut Imam Al-Ghazali, ada tiga jenis nafsu: al-amarah (Qs. Yusuf [12]: 53), al-lawwamah (Qs. Al-Qiyamah [75]: 2), dan muthmainnah (Qs. Al-Fajr [89]: 27).
Ketiga, Islam mengajarkan bahwa nafsu tidak harus dihilangkan atau dimatikan tetapi dikelola dengan baik. Dengan nafsunya, manusia tetap menjadi manusia. Tanpa nafsu manusia bisa menjadi malaikat. Jika terlalu mengikuti hawa nafsu manusia bisa jatuh pada derajat yang sangat rendah (Qs. At-Tin [95]: 4-5). Nafsu akan menjerumuskan manusia ke dalam kehancuran apabila dikuasai oleh setan. Manusia akan selamat dan bahagia apabila nafsu dibimbing oleh ajaran Tuhan.
Selain nafsu, manusia diberikan oleh Allah fitrah akal dan kalbu. Akal dalam bahasa Indonesia berasal dari lafaz “aql” yang berarti “al-hijr, al-nuha” yang berarti akal-budi, pikiran, atau kecerdasan. Akal merupakan kemampuan yang terkait dengan fungsi-fungsi kognitif, intelektual, menalar secara kritis, dan pertimbangan logis. Akal sering dikaitkan dengan kemampuan manusia menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Kalbu, dari bahasa Arab “qalbu” berarti hati. Di dalam Al-Qur’an, qalbu sering disamakan pengertiannya (sinonim) dengan “lubb (jamak; albab)”, “fuad”, dan “sadr (jamak; sudur). Hati seringkali dikaitkan dengan kebenaran, sifat-sifat yang berhubungan dengan emosi dan afeksi, serta ketajaman, kejernihan, dan sensitivitas dalam menilai dan mengambil keputusan. Dalam Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Wabisah bin Ma’bad, Rasulullah SAW bersabda: Apabila kamu bimbang dalam mengambil keputusan, maka tanyakan pada hatimu. Jika sesuatu membuat kamu merasa tenang, maka itulah kebaikan (al-bir). Sebaliknya, jika sesuatu membuat kamu gundah, maka itu adalah dosa (al-itsm).
Nafsu tidak akan menjerumuskan manusia apabila disinari oleh cahaya hati dan dibimbing oleh ilmu dan akal (hidayat al-aql). Bahkan, dengan sinergi akal, hati, dan nafsu memungkinkan manusia mengembangkan kebudayaan. Nafsu makan mendorong manusia mengembangkan berbagai menu makanan. Berbeda dengan binatang yang hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu (herbivora/tumbuhan, carnivora/daging), manusia adalah makhluk omnivora, pemakan berbagai jenis makanan. (Bersambung)




