Oleh Abdul Mu’ti — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Sekretaris Umum PP Muhammadiyah
Idul Fitri adalah hari raya yang menandai akhir bulan Ramadan dan rangkaian ibadah yang ada di dalamnya, khususnya puasa dan salat Tarawih. Secara fikih, Idul Fitri berarti kembali makan (futur/iftar). Pada saat Idul Fitri diharamkan berpuasa.
Secara tarbiyah, Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah: suci, bersih, dari segala dosa. “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa dan menganjurkan (sunah) melaksanakan qiyam al-lail (Tarawih). Barangsiapa menunaikan dengah iman dan mengharapkan balasan terbaik, maka Allah mengeluarkannya seperti saat ketika dilahirkan oleh ibunya: fitrah, bersih dari segala dosa (HR. Nasai dari Abdur Rahman bin Auf). Puasa Ramadan, adalah ibadah yang dengannya manusia bersih dari segala dosa dan mengantarkan manusia meraih kemenangan, kesejahteraan, dan kejayaan. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” QS. Asy-Syam [91]:9). Dalam konteks inilah Idul Fitri sering dikaitkan dengah hari kemenangan, hari dimana manusia merayakan keberhasilan menahan hawa nafsu.
Sesuai syariat, kemenangan dirayakan bukan dengan pesta pora, tetapi dengan mengagungkan Allah. “Dan hendaknya kamu sempurnakan hitungan bulan Ramadan dan mengagungkan-Nya sebagaimana yang ditunjukkan kepadamu.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Dalam Hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah: hiasilah hari rayamu dengan takbir.
Syariat yang berikutnya adalah salat Idul Fitri. Menurut Sayyid Sabiq, Rasulullah SAW selalu menunaikan salat Idul Fitri dan Idul Adha di musalla (lapangan di sebelah timur kota Madinah), dan salat di masjid ketika hujan. Selesai salat, para sahabat saling mendoakan: taqabbal Allahu minna waminkum (semoga Allah mengabulkan ibadah kami dan kamu sekalian).
Selain itu, disunahkan makan sebelum salat, menempuh jalan pulang yang berbeda, dan mengenakan pakaian yang indah. Beberapa riwayat menyebutkan Rasulullah SAW memakai baju khusus hari raya berupa jubah Yaman berwarna hijau bergaris merah dan memakai wewangian. Semua merupakan pertanda syukur dan kemenangan.
Ajaran Islam dan nilai-nilai Idul Fitri melahirkan tradisi. Syariat takbir melahirkan tradisi takbiran ditandai dengan pemukulan bedug mengiringi takbir. Masyarakat di berbagai daerah menyelenggarakan takbir keliling sebagai ekspresi suka cita dan syiar hari raya.
Pada saat Idul Fitri, masyarakat di berbagai daerah menghidangkan menu tertentu. Di Jawa Tengah, menu yang biasa dihilangkan adalah lontong opor ayam. Seminggu setelah Idul Fitri, masyarakat Muslim di pantai utara Jawa (Pantura) merayakan Kupatan. Menu yang dihidangkan berupa ketupat, lepet dengan sayur lodeh. Kupat (ketupat) adalah akronim dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) yang ditandai dengan tobat kepada Allah serta saling memaafkan di antara sesama manusia. Lepas (lipat) berasal ketan yang dibungkus daun kelapa dengan empat ikatan. Ini mengingatkan manusia akan kematian saat mana jasad dibungkus kain kafan.
Pada saat Idul Fitri, umat Islam memakai baju baru atau pakaian yang bersih dan rapi. Hal itu merupakan simbol kembali ke fitrah, suci bersih dari segala dosa, terlahir kembali menjadi manusia baru (reborn as new human being). Di Indonesia, ucapan selamat Idul Fitri terdiri atas doa sesuai tuntutan Nabi: taqabbal Allahu minna waminkum dan minal aidin wal faizin (semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah dan orang-orang yang menang). Menurut beberapa sumber doa yang kedua digubah oleh Syafiudin al-Huli seorang penyair Spanyol pada masa Bani Umayyah. Sebagian menyebut doa itu merupakan sambutan selamat datang (greeting) untuk para pejuang Perang Badar yang kembali pulang ke Madinah dengan kemenangan gilang gemilang. Ungkapan berikutnya adalah “mohon maaf lahir dan batin” permohonan dan kerendahan hati untuk membangun relasi, interaksi, dan kohesi sosial yang baru, lebih baik lagi.
Tradisi Idul Fitri tidak berarti mengubah syariat menjadi adat. Keduanya berbeda. Syariat bersumber pada wahyu, tradisi merupakan kreativitas manusia. Dalam konteks tradisi Idul Fitri, syariat dan adat menyatu, meskipun keduanya masih dapat dibedakan dan dipilih mana syariat mana adat.
Sebagaimana buka bersama, tradisi Idul Fitri merupakan bentuk substansialisasi ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Tradisi Idul Fitri adalah bentuk kerahmatan dan sumbangan Islam dalam kebudayaan Indonesia. Idul Fitri telah menjadi milik seluruh bangsa Indonesia apapun agamanya. Idul Fitri, contoh nyata bagaimana menghadirkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.





