Jejak yang Hilang : Jalur Lori di Madiun yang Kini Hanya Tinggal Kenangan

Kalau Anda lewat Jalan Yos Sudarso di Madiun, tepat di depan kompleks PG Rejo Agung Baru, sulit membayangkan bahwa dulu di sekitar sini ada jalur rel sempit yang ramai dilalui lori pengangkut tebu. Jalur itu pernah jadi urat nadi industri gula di wilayah ini. Kini hampir semuanya sudah hilang : ada yang tertimbun aspal, ada yang dicabut, ada yang berubah fungsi. Bagi yang mengalami era 1990-an, ada kenangan jalur rel lori yang membentang di tepi jalan raya Madiun – Surabaya, dan menyeberang ke arah barat melintasi sungai Madiun.

 Industri gula di Madiun tumbuh pesat sejak era kolonial Belanda. Pabrik-pabrik seperti PG Pagotan, PG Rejo Agung Baru (berdiri 1894), dan PG Kanigoro menjadi pusat pengolahan. Untuk mengangkut tebu dari lahan yang tersebar di Madiun, Magetan, Ngawi, hingga Ponorogo, dibangunlah jaringan rel lori berukuran sempit (narrow gauge).

Lori, gerobak di atas rel yang ditarik lokomotif uap atau diesel, jauh lebih efisien daripada gerobak sapi atau truk awal. Satu lokomotif bisa menarik hingga 20 lori, masing-masing memuat sekitar 4 ton tebu. Jalur ini menyusuri tepi kebun, menyeberangi sungai, bahkan terkadang terhubung ke stasiun kereta api utama.Di PG Rejo Agung, rel lori pernah langsung tersambung ke Stasiun Besar Madiun. Jalur di sisi barat pabrik kini sudah tertutup aspal akibat pelebaran jalan. Di PG Kanigoro yang tutup sekitar 2017, jejak relnya hampir lenyap total. Sementara di PG Pagotan yang masih beroperasi, lokomotif uap Orenstein buatan 1923 masih digunakan,  tapi hanya untuk langsiran di dalam emplasemen pabrik, bukan lagi ke kebun jauh.

Selain jalur lori internal pabrik, ada jalur yang lebih besar: jalur kereta api (sering disebut trem) Madiun–Ponorogo. Dibangun oleh Staatsspoorwegen dan diresmikan bertahap pada 1907, jalur ini menjadi urat nadi penting untuk angkutan gula dari PG Kanigoro dan Pagotan, batu gamping, serta penumpang. Operasi resmi berhenti pada 1984 karena kalah bersaing dengan kendaraan bermotor. Kini banyak stasiun terbengkalai, dan emplasemennya berubah menjadi pasar atau permukiman.

 Setelah 1998, penggunaan lori ke kebun semakin redup. Truk lebih fleksibel dan tidak terikat rel tetap. Penutupan pabrik, urbanisasi, serta perluasan jalan mempercepat penghilangan rel. Banyak yang dicabut atau tertimbun. Yang tersisa hanyalah kenangan warga yang dulu sering mendengar derit roda lori di dekat kompleks pabrik.

Di PG Pagotan, lokomotif uap kuno masih hidup sebagai saksi. PG Rejo Agung Baru terus beroperasi dengan prestasi giling tinggi dan kini digagas menjadi ikon wisata heritage Kota Madiun—dengan rencana penempatan lori atau lokomotif sebagai daya tarik di depan pabrik.Jalur lori yang hilang bukan sekadar rel besi. Lori adalah cerita tentang bagaimana Madiun pernah menjadi salah satu pusat “manis” di Jawa Timur. Menjaga sisa-sisa yang ada adalah cara agar generasi sekarang masih bisa membayangkan suara lori yang dulu mengisi pagi di sekitar PG Rejo Agung.

Penmaru UMMAD

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Trending

Scroll to Top