Kemenangan Timnas Indonesia dan Identitas Kolektif Bangsa, Ini Pandangan Wakil Rektor UMJT

MADIUN – Kemenangan Timnas Indonesia di final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan menyingkirkan Tailan melalui adu penalti 4-2 di Stadiun Gelora Bung Karno Jakarta pada Senin, 5 Oktober 2026 menghadirkan euforia kebahagiaan luar biasa bagi masyarakat Indonesia.

Bentuk kebahagiaan masyarakat Indonesia atas kemenangan Timnas memiliki banyak makna sekaligus pesan dalam perspektif cultural studies atau study budaya.

Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Dr.Fajar Junaedi, M.Si membedah kemenangan kemenangan Timnas Indonesia yang memunculkan euforia luar biasa di tanah air ini dalam beberapa perspektif terkait cultural studies.

Dari perspektif cultural studies, identitas nasional bukan esensi yang sudah jadi, melainkan sesuatu yang terus “menjadi” melalui representasi, narasi, dan praktik bersama, merujuk pada Stuart Hall. Kemenangan Timnas berfungsi sebagai peristiwa yang menandai batas “kita” dan “mereka”: jersey merah-putih, lagu kebangsaan, komentar Garuda di dadaku, atau seruan Indonesia menang, menjadi penanda yang mengaktifkan rasa memiliki.

“Apa yang disampaikan Benedict Anderson mampu menjelaskan mengapa peristiwa seperti ini terasa menyatukan orang yang tidak saling kenal. Bangsa adalah imagined community, dimana anggotanya membayangkan diri sebagai bagian dari komunitas yang sama karena berbagi pengalaman mediasi yang serentak,” ujarnya pada Rabu (7/10). Siaran langsung, unggahan berita, dan linimasa media sosial membuat jutaan orang hadir bersama pada momen yang sama. Rasa kebersamaan di sini tidak lahir dari kedekatan fisik semata, melainkan dari keserentakan simbolik

Fenomena meme yang muncul selanjutnya dapat dibaca sebagai budaya partisipatoris. Penonton tidak hanya menerima pesan dari media massa, namun mereka menjadi produsen makna. Meme, video edit, stiker, dan komentar adalah bentuk textual poaching: materi resmi (cuplikan gol, wajah pemain, logo tim) diambil, diolah ulang, dan diberi makna baru sesuai konteks lokal.

Dari sudut semiotika budaya populer, konten-konten itu bekerja pada beberapa level. Pada level primer, ada tanda-tanda denotatif, ini adalah skor, selebrasi pemain, bendera. Pada level sekunder, tanda-tanda itu dikaitkan dengan konotasi kegigihan, kebangkitan, atau “akhirnya kita bisa”. Pada level tersier, unggahan tersebut menjadi bagian dari praktik sosial: orang menandai diri sebagai bagian dari kerumunan simbolik dengan membagikan, mengomentari, atau membuat versi sendiri.

Fajar, yang baru saja merilis buku Komunikasi Olahraga di Era Digital juga menyebut bahwa konsep Encoding/decoding dari Stuart Hall juga relevan menjelaskan ini. Media arus utama atau akun resmi mungkin mengodekan kemenangan sebagai prestasi olahraga, nasionalisme, atau bahkan komoditas (sponsor, rating). Di media sosial, audiens dapat membaca secara dominan (setuju dan merayakan), negosiatif (merayakan sambil mengkritik wasit, federasi, atau ketimpangan fasilitas), atau oposisional (menolak euforia karena alasan politik atau kekecewaan struktural). Komentar dan meme sering menjadi ruang pembacaan negosiatif itu.

Cara masyarakat berkomunikasi pada momen ini memperlihatkan beberapa hal.

Pertama, komunikasi bersifat afektif dan performatif. Bahasa yang dipakai sering singkat, berulang, dan emosional, seperti dengan pilihan kata ‘akhirnya’, ‘bangga’ dan sejenisnya. Fungsinya bukan terutama menyampaikan informasi baru, melainkan menampilkan dan menguatkan perasaan bersama..

Kedua, identitas kolektif tampil hibrida. Masyarakat mencampur simbol nasional (Garuda, merah-putih, lagu daerah) dengan bahasa gaul, referensi meme global, dan estetika platform. identitas nasional modern jarang murni, namun terbentuk di ruang antara, lewat pengulangan dan penyimpangan kecil. Meme Timnas adalah contoh kecil dari hibriditas itu.

Ketiga, ada dimensi kekuasaan dan negosiasi. Meminjam gagasan Antonio Gramsci, kita bisa melihat budaya populer sebagai medan hegemoni, dimana makna kebangsaan tidak dipaksakan dari atas secara total, tetapi dirundingkan. Negara, federasi, sponsor, media, influencer, dan pengguna biasa sama-sama berusaha menempelkan makna pada kemenangan.

Bagikan

Baca juga

Trending

Scroll to Top