Dulu, masuk ke group WhatsApp (WA) terasa menyenangkan. Ada kabar baru. Ada informasi penting. Kadang juga ada candaan ringan yang membuat hari terasa lebih santai. Group menjadi ruang komunikasi yang praktis. Orang bisa bertukar kabar tanpa harus bertemu langsung. Rasanya sederhana, tapi hangat.
Sekarang suasananya terasa berbeda. Notifikasi memang masih ramai. Bahkan mungkin lebih ramai dari sebelumnya. Namun yang datang sering bukan informasi yang dibutuhkan. Melainkan tumpukan pesan yang terasa tidak ada hubungannya dengan tujuan group.
Misalnya, video panjang yang entah dari mana. Gambar yang dikirim berulang-ulang. Coba perhatikan jangan-jangan seseorang yang menjadi anggpta 10 grup akan mengirim pesan sama ke group-group itu juga. Dia mungkin hanya mem-forward juga. Pesan berantai yang kadang sulit diverifikasi. Kadang juga kiriman opini yang penuh emosi. Group yang awalnya dibuat untuk kepentingan tertentu perlahan berubah fungsi.
Group alumni berubah menjadi tempat jualan. Group kantor menjadi ruang kirim video hiburan. Pamer foto pribadi. Unggah kegiatan keluarga yang tak ada hubungannya dengan group. Group keluarga pun kadang bisa berubah menjadi arena debat yang melelahkan. Topiknya melenceng jauh dari tujuan awal group. Ya tidak apa-apa sih. Tapi kadang membosankan. Pernah mengamati perdebatan menjelang, saat dan pasca Pemilihan Presiden (Pilpres)? Soal itu tidak usah diulas. Sudah jelas jawabannya, bukan?
Banyak orang mengirim pesan hanya karena ingin mengirim sesuatu. Hanya sesuai kepentingan dan kecenderungan dirinya. Tanpa berpikir apakah pesan itu relevan dengan anggota group lain. Seolah-olah group adalah ruang bebas untuk menumpahkan apa saja. Mulai dari promosi, keluhan, uneg-uneg, sampai kemarahan. Di titik tertentu, group tidak lagi menjadi ruang berbagi. Ia berubah menjadi tempat menumpuk pesan.
Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman. Sebut saja namanya Raka. Raka dulu cukup aktif di group WhatsApp (WA) kampusnya. Kalau ada diskusi, dia sering ikut berpendapat. Jika ada informasi penting, dia termasuk yang cepat merespon. Namun lama-kelamaan kebiasaannya berubah.
Suatu hari saya bertanya apakah ia sudah membaca pesan di group kampus itu. Ia hanya tertawa kecil. Katanya, sudah tiga hari ia tidak membuka group tersebut. Ketika akhirnya ia membuka, jumlah pesan yang belum dibaca mencapai lebih dari empat ratus. Raka mencoba membaca beberapa pesan pertama. Lalu berhenti. Saya pernah meninggalkan pesan belum terbaca hampir seribu saat Pilpres dari sebuah group.
Sebagian besar isi percakapan ternyata bukan informasi penting. Ada yang mengirim video politik. Ada yang membagikan meme lama. Ada juga yang mempromosikan produk jualannya. Bahkan ada perdebatan panjang yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan bersama. Informasi penting justru tenggelam di antara ratusan pesan itu.
Fenomena seperti ini semakin sering terjadi. Banyak orang mulai merasa lelah dengan aktivitas group. Mereka tetap berada di dalam group, tetapi jarang benar-benar terlibat.
Sebagian memilih mematikan notifikasi. Ada juga yang mengarsipkan group agar tidak muncul di daftar chat utama. Yang lain hanya membaca sekilas tanpa pernah menanggapi. Beberapa orang bahkan tidak membuka group selama berhari-hari.
Namun keluar dari group juga tidak mudah. Ada rasa tidak enak kepada anggota lain. Takut dianggap tidak menghargai komunitas. Takut dianggap menjauh. Akhirnya banyak orang memilih tetap berada di dalam group, tetapi secara mental sudah menjauh dari percakapan di dalamnya.
Yang menarik, banyak group sekarang juga berubah menjadi ruang basa-basi digital. Orang mengirim sesuatu hanya untuk menunjukkan keberadaannya. Kadang berupa foto aktivitas sehari-hari. Kadang cerita yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kepentingan group. Group perlahan berubah seperti panggung kecil. Tempat orang menampilkan dirinya. Padahal komunikasi yang sehat sebenarnya sederhana. Pesannya jelas, relevan, dan menghargai waktu orang lain.
Satu pesan yang tepat sering lebih berguna daripada puluhan pesan yang tidak penting. Setiap anggota group memiliki kesibukan masing-masing. Mereka punya pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab lain. Tidak semua orang punya waktu untuk membaca ratusan pesan setiap hari.
Karena itu, kesadaran bersama menjadi hal yang penting. Sebelum mengirim pesan ke group, ada baiknya seseorang bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah pesan ini memang relevan dengan tujuan group?”, “Apakah ini informasi yang benar-benar perlu dibagikan kepada semua anggota?” Jika jawabannya tidak jelas, mungkin pesan itu tidak perlu dikirim. Tapi para pengirim pesan itu kebanyakan juga butuh eksistensi. Mungkin pengakuan. Atau perhatian. Jadi informasi “sampah” pun akan dikirim.
Semakin banyak pesan yang tidak penting, semakin besar kemungkinan anggota group berhenti membaca percakapan di dalamnya. Ketika itu terjadi, group perlahan kehilangan fungsinya. Ia masih ada. Anggotanya masih sama. Pesannya tetap ramai. Namun percakapannya tidak lagi bermakna.
Pada akhirnya, group WA seharusnya menjadi alat komunikasi yang memudahkan, bukan ruang yang membuat orang merasa lelah. Jika kita ingin group tetap terasa berguna dan menyenangkan, kuncinya sederhana. Apa? Kirim pesan seperlunya yang relevan dengan tujuan group. Selalu ingat bahwa di balik layar ada banyak orang yang waktunya sama berharganya dengan waktu kita.
Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Alamat IG/tiktok/tread/X: nurudinwriter





