MADIUN – Rektor Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Prof. Dr.Sofyan Anif, M.Si menjadi imam sekaligus khatib Shalat Idul Fitri 1447 H di halaman Kampus I UMMAD, Jum’at,20 Maret 2026.
Di hadapan ribuan jamaah sholat Idul Fitri, Prof. Sofyan Anif menghadirkan judul khutbah “Membangun Karakter Bangsa yang Unggul Melalui Spirit Ramadhan”.
Berikut materi khutbah Idulfitri Prof.Dr. Sofyan Anif,M.Si:
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Kabiro Walhamdulillahi Katsiro WaSubhanallahi bukrotan wa ashila.
La illaha ilallah wallahu akbar, Allahu Akbar wa lillahil-hamd.
Alhamduillahirabbil alamin
Nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa na’uudzu billahi min suruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudhlilhu falaa haadiyalah.
Asyhadu allaa ilaaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rasulullah..
La nabia bada.
Ittaqullah ittaqullah haqqa tuqatih wala tamutuuna illa wa antum muslimiun.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Pada hari ini, umat Islam di seluruh dunia mengagungkan nama Allah seraya mengagungkan takbir, tahmid dan tahlil. disertai suasana kegembiraan dan kemenangan.
Ada dua perasaan dalam diri kita ketika kita mengakhiri Ramadhan, yaitu perasaan gembira dan perasaan sedih.
Suasana gembira muncul karena kita telah berhasil menjalankan ibadah pu dan ibadah lain yang ada di bulan Ramadhan sebagai upaya mencapai derajat taqwa sehingga memperoleh kemenangan.
Oleh karena itu, satu satunya cara dalam menyambut hari raya idul fitri sebagai satu tanda telah berhasilnya kita berpuasa adalah dengan bersyukur kepada Allah SWT.
Walitukmilul iddata walitukabirullah ala ma hadakum wala allakum taskurun.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah mengagungkan nama Allah atas petunjuknya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
Perasaan kedua adalah perasaan sedih karena kita ditinggalkan kekasih kita dan belum tentu kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Terlebih lagi kita menyadari dengan penuh bahwa diantara kita mungkin belum secara maksimal memanfaatkan ramadhan tahun ini sehingga jauh dari ketaqwaan dan perasaan kemenangan.
Oleh karena itu sebelum saya menyampaikan khutbah yang berjudul “Membangun Karakter Bangsa yang Unggul, Melalui Spirit Ramadhan” ini, saya mengajak kepada segenap kaum muslimin yang berbahagia untuk bersama-sama memanjatkan puji syukur kita secara mendalam kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmatnya khususnya nikmat Islam, iman sehingga dengan kekuatan iman itu kita dapat menyelenggarakan ibadah ramadhan tahun ini dan akhirnya kita merasa penuh gembira merayakan idul fitri tahun 1447 H ini sesuai tuntunan syariat yang benar.
Berpuasa ramadhan yang disertai dengan ibadah-ibadah lainnya dan didasari iman dan niat yang ikhlas, ternyata mampu membangun karakter jati diri seseorang yang merupakan manifestasi dan ketaqwaan itu sendiri.
Prof.Dr. Ahmad Sarbarsi, Ph.D seorang ulama besar dan pernah menjadi Rektor Al-Azhar University Kairo pada tahun 80-an pernah menulis kitab yang berjudul Albina Usyah Syatul Wasathaniah.
Dalam bukunya tersebut dijelaskan bahwa membangun satu bangsa yang berkarakter harus dimulai dari membangun karakter manusianya lebih dulu. Maka yang terpenting adalah justru lebih dulu membangun manusia berkarakter taqwa sebelum bermimpi membangun bangsa yang berkarakter.
Puasa Ramadhan yang dilakukan setiap umat muslim setiap tahun bertujuan membangun karakter diri dan karakter bangsa sebagai wujud implikasi orang-orang bertaqwa sebagaimana yang menjadi tujuan diwajibkannya berpuasa.
Mimpi besar bangsa kita pada tahun 2045 atau sering disebut era Indonesia Emas atau golden age yaitu menjadi salah satu dari 8 negara terkuat di bidang ekonomi tentu tidak akan terwujud ketika masih memiliki persoalan yang terkait karakter diri maupun karakter bangsa itu.
Dan sebaliknya jika mimpi besar ini dapat terwujud, maka harus didukung oleh kemampuan SDM yang unggul, tegaknya aturan hukum, berjalannya alam demokrasi yang makin baik, tidak ada korupsi, meningkatnya kesadaran hukum di masyarakat, tegaknya kejujuran, kemandirian,dan kerjasama yang baik diantara semua elemen bangsa.
Semua komponen bangsa harus menyadari dan bersatu padu merawat NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh ada kelompok orang yang menyebut sebagai kelompok paling pancasila. paling NKRI dan paling Bhinneka.
Semua persyaratan dan kompetensi diatas dapat terwujud dengan adanya spirit Ramadhan dengan adanya momentum yang sangat baik, terutama bagi orang-orang ayang berhasil dalam menjalankan ibadah shaum maupun ibadah-ibadah lainnya.
Islam adalah agama yang sangat menghargai perbedaan sangat menghormati multietnik, multi budaya multi agama, dan selanjutnya mengajarkan kebijaksanaan untuk membangun kemajuan bangsa melalui karakter yang telah dibangun selama bulan suci Ramadan ini.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al Hujuraat Ayat 13:Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ūbaw wa qabā’ila lita’ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr.
Artinya: Hai Manusia sesungguhnya kami menciptakan kami dari seorang pria dan wanita dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kamu hidup saling mengenal hidup rukun dan damai.
Terhadap berbagai realitas persoalan yang dihadapi bangsa kita seperti diatas, maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan kesejahteraan hidup secara hakiki kecuali dengan melakukan perubahan secara mendasar terhadap pola pikir dan perilaku kita dengan mengimplementasikan komitmen ketaqwaan kita dalam bentuk amal sholeh yang semakin meningkat terutama setelah kita selesai menjalankan ibadah ramadhan tahun ini.
Perintah agar orang -orang yang beriman senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik telah ditegaskan Allah dalam QS Al Hasyr ayat 18:
Yā ayyuhal-lażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad(in), wattaqullāh(a), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).
Artinya:Hai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada allah dan hendaklah kamu menghitung-hitung amalan yang telah kamu lakukan untuk kemudian dievaluasi dan ditingkatkan di masa mendatang. Bertakwalah kamu kepada Allah dan sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat baik.
Ayat diatas menunjukkan bahwa Islam sebagai ajaran telah memerintahkan umatnya agar senantiasa melakukan perubahan hidup yang lebih baik, dinamis atau selalu berorientasi kepada kemajuan umat Islam bahkan progresif.
Allah memberikan waktu selama satu bulan penuh yaitu di bulan Ramadhan kepada manusia yang beriman untuk melakukan perubahan terhadap jati dirinya atau perubahan terhadap dirinya yaitu karakter dalam amal sholeh melalui latihan latihan atau pendidikan selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Implementasi keimanan dalam bentuk amal shaleh itulah yang disebut taqwa. Oleh karena itulah orang yang berperilaku jujur, disiplin, tidak sombong, bersedekah, berinfaq, berzakat, bersabar, dapat menahan nafsu marah, pemaaf, senantiasa bersyukur, berilmu, dinamis dan berkemajuan dll adalah karakter dari orang-orang yang bertaqwa.Dan pesan inilah yang diharapkan dapat terbentuk secara menyeluruh, komprehensif bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Hanya dengan didasari iman, dan semata-mata hanya mengharap ridho allah, pembentukan karakter taqwa melalui kesalehan sosial ini yang menjadi tujuan orang berpuasa. yaitu laalakum tataqun.
Tidak hanya itu, Prof Dr Ahmad Sarbasri, seorang ulama besar dan mantan Rektor Al Azhar Kairo pada tahun 80-an berpendapat bahwa tidak ada momentum lain yang efektif dan efisien dalam membangun karakter diri seseorang selain momentum ramadhan.
Disamping itu, orang-orang yang puasanya telah berhasil karena didasari oleh imanan wahtisaban akan mampu membentuk karakter seseorang yang mempunyai profesionalitas yang tinggi dan sekaligus memiliki produktivitas yang baik.
Hal ini dapat dipahami karena dalam berpuasa, orang dilatih memiliki perilaku disiplin tinggi memiliki tanggung jawab besar memiliki komitmen meningkatkan ilmunya, memiliki motivasi untuk maju dan mampu mengelola waktu secara tepat dan senantiasa berserah diri hanya kepada Allah SWT.
Puasa Ramadhan juga bisa menjadikan seseorang mempunyai kecerdasan sosial, emosional dan spiritual. Hal ini dibuktikan dengan karakter seseorang yang gemar beribadah, tidak kikir, dalam keadaan lapang maupun sempit, tidak suka marah dan menjadi orang yang pemaaf.
QS. Ali Imran 133-134:Wa sari’i’u ila maghfiratin mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samaiwatu wad-ardlu u’iddat lil-muttaqin. Alladzina yunfiquna fis-sarra’i wadlarra’i wal lkadhiminal -ghaida wal-ifina’anin-nas, wallahu yuhibbul-muhsinin.
Sifat yang sedemikian itu sangat bisa dipastikan akan memunculkan karakter seseorang yang senang bersilaturahmi, tidak pernah merasa paling benar, mau mendengar nasihat orang lain dan tidak merasa senang apabila melihat saudara atau temannya menerima nikmat dari Allah atau tidak punya sifat iri dan dengki.
Menurut Imam Al Ghazali, apabila kita telah memiliki sifat yang seperti itu berarti kita telah terbebas dari sifat sombong. Dengan kata lain dengan puasa Ramadhan yang benar sesuai dengan syariat agama dapat membebaskan seseorang dari sifat sombong.
Sikap inilah yang menjadi komitmen Rasulullah dalam membangun dan menegakkan umat wasathan atau ummat yang teladan, karena kesombongan dengan segala perilaku yang dilakukan oleh orang orang yang merusak tatanan berkehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga Rasulullah bersabda, tidaklah masuk surga apabila di dalam hatinya masih ada sifat sombong meskipun sebesar biji sawi.(HR. Muslim).
Umat Islam dituntut memberi tauladan yang baik dalam berperilaku, kebijakan yang kolektif, jadilah umat islam yang selalu meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW.
Marilah kita jadikan momentum ramadhan dan idulfitri ini untuk melakukan pencerahan diri dalam upaya membangun pribadi yang utama dalam rangka mewujudkan karakter bangsa yang unggul yang berbasis taqwa.
Mari kita jadikan sepanjang bulan bulan kedepan sebagai ramadhan dan Idulfitri untuk menjadikan diri kita sebagai manusia yang bersih lahir bathin, gemar beribadah, berlomba lomba dalam amal shaleh, dan tampil menjadi manusia yang bertaqwa dalam situasi apapun dan dimanapun.
Sebagaimana Sabda Rasulullah yang sekiranya manusia mengetahui kebijakan , kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam ramadhan, maka mereka niscaya akan minta seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan. *




