Di Madiun, terutama sampai dengan era 1980-an, aroma sambal pecel khas langsung menyergap hidung siapa saja yang lewat. Bukan dari piring nasi pecel lengkap yang biasa disajikan di warung, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: dua lembar kerupuk yang saling mengapit tumpukan sayur rebus dan siraman bumbu kacang pedas-manis yang menggoda. Orang-orang menyebutnya krupuk gapit, atau kadang pecel gapit, jajanan legendaris yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan masa kecil banyak warga Madiun dan sekitarnya.
Semuanya bermula dari kecintaan masyarakat Madiun terhadap nasi pecel itu sendiri. Kota ini bahkan mendapat julukan “Kota Pecel” karena sambalnya yang begitu khas—gurih kacang tanah goreng, pedas cabai, harum kencur dan daun jeruk purut, serta manis gula merah yang pas. Sejak puluhan tahun lalu, mungkin sejak era 1960-an atau bahkan lebih awal, para pedagang dan ibu-ibu rumah tangga mulai berpikir kreatif. Bagaimana jika komponen pecel yang biasa dimakan dengan nasi itu dibuat lebih praktis, murah, dan mudah dibawa? Lahirlah ide sederhana: gunakan kerupuk sebagai “roti” pengganti nasi. Satu lembar kerupuk diletakkan di bawah, ditumpuk sayuran rebus seperti tauge renyah, kacang panjang, kol, daun singkong atau sawi yang baru saja disiram air panas agar tetap segar, lalu disiram sambal pecel yang kental, dan ditutup lagi dengan kerupuk di atasnya. “Gapit” dalam bahasa Jawa berarti dijepit atau digapit—nama yang sangat tepat untuk bentuknya yang mirip sandwich kecil dari kerupuk.
Kerupuk yang dipakai pun beragam, tergantung ketersediaan dan selera. Ada yang menggunakan kerupuk puli atau lempeng beras yang besar dan renyah, ada pula kerupuk kecil seperti gombal, upil, atau yang digoreng dengan pasir panas—kerupuk pasir yang teksturnya lebih ringkih tapi gurih luar biasa. Gigitan pertama selalu dimulai dengan kriuk kerupuk yang pecah di mulut, lalu disusul sensasi segar sayuran hangat, dan akhirnya ledakan rasa dari sambal pecel yang langsung membakar lidah dengan pedasnya yang autentik. Tidak heran jika banyak yang mengenangnya sebagai jajanan SD favorit di tahun 1980-an, saat harganya hanya lima rupiah atau seribu rupiah, dibeli dari pedagang keliling yang berjalan di sekitar sekolah atau pasar. Sebagai generasi X, saya mengalami masa ini saat masih SD.
Di era modern ini, ketika makanan fancy dan impor bertebaran, krupuk gapit mulai terasa langka di pusat kota. Namun di pasar tradisional, acara nostalgia seperti “Peken Kangen”, atau bahkan di warung kecil, ia masih bertahan. Beberapa orang mencoba membuatnya sendiri di rumah dengan kerupuk siap pakai, tapi entah mengapa, rasa paling enak tetap yang dibeli dari pedagang pinggir jalan—mungkin karena dibuat dengan tangan yang penuh cerita.
Krupuk gapit bukan sekadar camilan. Ia adalah bukti bahwa kuliner Jawa sering lahir dari kesederhanaan: bahan murah yang ada di sekitar, diolah dengan telaten, dan disajikan dengan hati. Satu gigitan saja sudah cukup membawa seseorang kembali ke masa lalu—ke suara pedagang memanggil, bau asap gorengan, dan kehangatan keluarga serta teman masa kecil di Madiun. Di tengah segala perubahan zaman, jajanan kecil ini tetap mengingatkan: kelezatan sejati tak selalu butuh kemewahan, cukup kerupuk, sayur, sambal, dan sedikit nostalgia yang tak pernah pudar. (FJ)





