
Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Zat yang memutar roda zaman hingga sampailah kita di ambang pintu Ramadhan 1447 H. Sebagai hamba yang beriman, respons pertama yang harus muncul dalam sanubari kita adalah rasa syukur dan kegembiraan yang meluap. Kegembiraan ini bukanlah kegembiraan duniawi yang semu, melainkan kegembiraan teologis karena kita kembali diberi kesempatan untuk melakukan tajdid (pembaruan) iman. Allah SWT telah memberikan panduan dalam Al-Qur’an bahwa karunia spiritual harus dirayakan dengan sukacita:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan'” (QS. Yunus: 58).
Ayat ini menegaskan bahwa menyambut Ramadhan dengan kelapangan hati adalah tanda bahwa kita lebih mencintai bekal akhirat daripada tumpukan harta dunia.
Kegembiraan kita semakin berdasar ketika menelaah kabar gembira dari lisan suci Rasulullah SAW. Beliau menggambarkan Ramadhan sebagai momentum di mana sekat-sekat kebaikan dibuka selebar-lebarnya dan penghalang keburukan ditutup serapat-mungkin. Sebagaimana sabda beliau:
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR. Bukhari & Muslim).
Dalam kacamata Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, hadits ini bukan sekadar informasi gaib, melainkan seruan optimisme. Terbukanya pintu surga adalah simbolisasi dari lingkungan sosial yang mendukung amal saleh, sementara terbelenggunya setan adalah momentum bagi kita untuk memenangkan jihad melawan hawa nafsu yang selama sebelas bulan ini mungkin sulit kita kendalikan.
Oleh karena itu, marilah kita menyambut Ramadhan 1447 H ini dengan persiapan yang matang, baik secara intelektual melalui pemahaman fikih puasa yang sesuai tuntunan Tarjih, maupun secara emosional dengan membersihkan dendam di hati. Ingatlah kata mutiara yang menyebutkan bahwa “Ramadhan bukanlah beban yang datang setahun sekali, melainkan kesempatan untuk ‘reset’ hati yang mulai berdebu dan raga yang mulai lelah mengejar dunia.” Jika kita tidak menemukan kebahagiaan saat ketaatan memanggil, maka periksalah hati kita; mungkin dunia telah memenuhi seluruh ruang di dalamnya hingga tak tersisa tempat untuk cahaya Ilahi. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi wasilah bagi kita untuk menjadi insan bertakwa yang sebenar-benarnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





