Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah meringankan langkah kaki kita menuju rumah-Nya yang mulia. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW, sosok yang sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan masjid untuk mendirikan shalat berjamaah, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun.
Hadirin yang dirahmati Allah, shalat lima waktu adalah tiang agama, namun melaksanakannya di masjid bagi laki-laki adalah sebuah kemuliaan dan kewajiban yang sangat ditekankan. Masjid bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat turunnya rahmat dan ketenangan. Allah SWT memberikan apresiasi tinggi kepada mereka yang hatinya terpaut pada masjid, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nur ayat 36-37:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, dan mendirikan shalat…”
Ayat ini menggambarkan bahwa “lelaki sejati” di mata Allah adalah mereka yang meski sibuk dengan urusan dunia, tetap mendahulukan panggilan adzan di atas segalanya.
Hadirin sekalian, selain sebagai pembuktian iman, shalat di masjid memiliki keutamaan pahala yang berlipat ganda dibandingkan shalat sendirian di rumah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist yang sangat masyhur:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah melampaui shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari & Muslim)
Tidak hanya soal jumlah pahala, setiap langkah kaki kita menuju masjid pun dihitung sebagai penggugur dosa dan pengangkat derajat. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa selama seseorang berada di masjid untuk menanti shalat, maka ia dianggap sedang dalam keadaan shalat, dan para malaikat senantiasa mendoakannya: “Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah sayangilah dia.”
Namun, lebih dari sekadar pahala, menjaga shalat di masjid adalah cara kita menjaga persatuan umat. Di masjid, semua berdiri sejajar tanpa memandang jabatan atau kekayaan. Di sanalah kerukunan terbangun. Jika kita membiarkan masjid-masjid kita sepi, maka kekuatan batin umat ini akan melemah. Rasulullah SAW bahkan pernah memberikan peringatan keras bahwa beliau ingin membakar rumah orang-orang yang tidak hadir shalat berjamaah tanpa uzur, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat di masjid.
Hadirin yang berbahagia, mari kita jadikan shalat 5 waktu di masjid sebagai kebutuhan, bukan beban. Sebagai penyemangat, mari kita renungkan kata mutiara berikut:
“Langkah kaki yang paling berat bukanlah mendaki gunung yang tinggi, melainkan langkah menuju masjid saat adzan berkumandang.”
“Dunia ini sementara, namun sujudmu di masjid adalah investasi selamanya. Jangan sampai engkau baru diantar ke masjid saat engkau sudah menjadi jenazah.”
Sebagai penutup, marilah kita berdoa agar Allah SWT senantiasa memberikan kita keistiqamahan untuk memakmurkan masjid-masjid-Nya hingga akhir hayat kita. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.





