Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali bersua dengan bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya pintu-pintu surga dibuka seluas-luasnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah cahaya bagi seluruh alam.
Hadirin yang dirahmati Allah, pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: “Mengapa kita wajib berpuasa?”. Alasan pertama dan yang paling utama adalah karena puasa merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Puasa adalah salah satu rukun Islam yang menjadi pondasi tegaknya agama kita. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Alasan kedua adalah sebagai sarana pelatihan ruhani (Tazkiyatun Nafs). Puasa bukan untuk menyiksa fisik, melainkan untuk melatih jiwa agar mampu mengendalikan hawa nafsu. Dengan menahan hal yang halal (makan dan minum) di siang hari, kita dilatih untuk lebih kuat menahan hal yang haram. Puasa adalah bentuk “detoksifikasi” hati agar kita mencapai derajat Taqwa, yaitu kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita.
Hadirin sekalian, lalu bagaimana jika seseorang dengan sengaja tidak berpuasa tanpa uzur syar’i? Meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja adalah dosa besar. Puasa adalah hutang kepada Allah yang tidak bisa digantikan nilainya meski dengan puasa sepanjang tahun sekalipun. Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat menggetarkan dalam sebuah hadist:
مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ
“Barangsiapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa ada keringanan (uzur) dan tidak pula karena sakit, maka tidak akan bisa diganti oleh puasa sepanjang tahun meskipun ia melakukannya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i).
Secara hakikat, orang yang tidak berpuasa kehilangan momen “pembersihan dosa” yang dijanjikan Rasulullah SAW:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim).
Maka, mereka yang tidak berpuasa berarti dengan sengaja menutup pintu ampunan Allah yang sedang terbuka lebar. Mereka membiarkan diri mereka tetap berlumur dosa di saat jutaan orang lain sedang dibersihkan jiwanya.
Hadirin yang berbahagia, mari kita jadikan puasa ini sebagai bentuk syukur atas nikmat iman. Sebagai penutup, mari kita renungkan kata mutiara berikut:
“Puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Jika engkau sanggup jujur menahan lapar di saat tak ada manusia yang melihatmu, seharusnya engkau sanggup jujur dalam seluruh aspek kehidupanmu.”
“Jangan melihat puasa sebagai beban yang menahanmu dari kenikmatan dunia, tapi lihatlah ia sebagai sayap yang akan membawamu terbang tinggi menuju ridha Allah.”
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dan tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





