Oleh Dr. Suwardi, M.Pd.I (Wakil rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah “laboratorium jiwa” 🧪 untuk mengasah kepedulian sosial kita. Rasulullah ﷺ adalah prototipe terbaik dalam hal kedermawanan. Beliau memang dikenal sangat pemurah, namun saat Ramadhan tiba, intensitas kedermawanan beliau meningkat luar biasa:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
Artinya: “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau menjadi jauh lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan…” (HR. Bukhari).
Kecepatan beliau dalam membantu sesama diibaratkan seperti “angin yang berhembus” ringan, cepat, dan manfaatnya dirasakan oleh siapa saja tanpa pandang bulu. Ini adalah undangan bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain.
Secara matematis, mengeluarkan harta mungkin terlihat seperti pengurangan. Namun, iman memperkenalkan kita pada konsep “Matematika Langit”. Allah menjanjikan bahwa setiap investasi sosial yang kita keluarkan di jalan-Nya akan berkembang secara eksponensial. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki…”
Di bulan yang penuh berkah ini, “dividen” pahala kita dilipatgandakan melebihi apa yang bisa dikalkulasi oleh logika manusia.
Salah satu pintu surga yang dibuka lebar di bulan ini adalah melalui sedekah memberi makan (ith’amuth tho’am), khususnya menyediakan hidangan berbuka bagi mereka yang berpuasa. Peluang pahala ini sangat luar biasa karena kita bisa meraih pahala orang lain tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya: “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).
Namun, dalam menjalankan amal mulia ini, kita harus senantiasa menjaga kesucian hati. Saat menunaikan Zakat Mal sebagai kewajiban maupun sedekah sunnah sebagai bukti iman, jagalah niat dari penyakit Riya (pamer) atau Al-Mann (mengungkit-ungkit pemberian). Ingatlah bahwa doa dari mereka yang kita bantu terutama saat mereka berbuka adalah doa yang sangat mustajab. Sebagai penutup, mari kita renungkan: “Harta yang kau makan akan jadi kotoran, harta yang kau simpan akan jadi warisan, namun harta yang kau sedekahkan akan jadi pembela di hadapan Tuhan. Jadilah tangan di atas yang mendinginkan hati sesama di bulan penuh rahmat ini.”





