Kultum Ramadhan hari ke-14:Urgensi Waktu & Menjemput Ajal dengan Amal Saleh

Oleh Dr.Suwardi, M.Pd.I ( Wkil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Bulan Ramadhan hadir sebagai pengingat nyata bagi kita bahwa waktu terus berjalan tanpa kompromi, di mana setiap detik yang berlalu sesungguhnya adalah bagian dari jatah usia yang takkan pernah kembali. Banyak manusia yang tertipu oleh angan-angan panjang, merasa bahwa kematian hanya akan datang pada mereka yang telah lanjut usia atau sedang sakit, padahal ajal adalah rahasia Ilahi yang bisa menjemput kapan saja tanpa permisi. Imam Hasan Al-Bashri memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh mengenai hakikat keberadaan manusia ini: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

 “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan hari; setiap kali satu hari terlewati, maka hilang pulalah sebagian dari eksistensi dirimu.” Oleh karena itu, sikap menunda amal saleh dengan dalih “nanti” atau taswif merupakan bentuk kerugian yang paling nyata bagi seorang mukmin, karena ia sedang menyia-nyiakan modal utamanya di dunia.

Kelalaian dalam mengelola waktu ini kelak akan melahirkan penyesalan mendalam di ambang pintu kematian, sebagaimana yang telah Allah SWT peringatkan dalam Al-Qur’an. Dalam QS. Al-Munafiqun: 10, Allah menggambarkan jeritan jiwa yang meminta penangguhan waktu hanya untuk beramal:

 وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (dengan menyesal), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematianku) sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'” Ayat ini menjadi tamparan keras bahwa keinginan terbesar orang yang telah wafat bukanlah kembali untuk bersenang-senang, melainkan untuk beramal meski hanya diberikan kesempatan sekejap mata.

Untuk menghindari penyesalan tersebut, Nabi Muhammad ﷺ telah membekali kita dengan strategi hidup yang sangat taktis melalui hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim:

 اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” Pesan ini menegaskan bahwa masa muda dan kesehatan adalah modal utama yang seringkali disia-siakan. Janganlah menunggu hari esok untuk memulai kebaikan, karena waktu ibarat pedang sebagaimana pepatah Arab populer:

 الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك

(Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak memanfaatkannya, maka ia yang akan menebasmu).

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa bermujahadah untuk melawan rasa malas dan keinginan untuk menunda-nunda kebaikan. Kejarlah ridha Allah selagi napas masih berembus dan raga masih kuat untuk menopang ketaatan. Ingatlah selalu sabda Nabi ﷺ mengenai kriteria orang yang paling cerdas:

 الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati” (HR. Tirmidzi).

Kata Mutiara : “Dunia ini hanyalah tiga hari: Kemarin yang telah pergi bersama segala isinya; Esok yang mungkin saja engkau takkan menemuinya; dan Hari Ini, maka manfaatkanlah ia dengan sebaik-baiknya amalan sebelum ia pun turut meninggalkanmu.”

 Semoga di waktu-waktu mustajab menjelang berbuka ini, kita termasuk golongan hamba yang diselamatkan dari kelalaian dan senantiasa dianugerahi semangat untuk bersegera dalam kebaikan. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top