Oleh Dr.Suwardi, M.Pd.I ( Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita hidayah iman. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW. Dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan badai fitnah dan cobaan, setiap mukmin sejatinya membutuhkan “sauh” atau jangkar yang kuat agar tidak terombang-ambing. Jangkar tersebut adalah Amalan Terbaik yang dilakukan secara tersembunyi (khafi) dan dijaga dengan Istiqomah.
Salah satu potret paling benderang mengenai kekuatan amalan terbaik terekam dalam hadis sahih tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua karena pintu gua tertutup batu besar. Rasulullah SAW mengisahkan bahwa mereka tidak bisa selamat kecuali dengan bertawasul melalui amal saleh yang paling ikhlas yang pernah mereka lakukan. Orang pertama bertawasul dengan baktinya kepada orang tua (birrul walidain), orang kedua dengan kesuciannya menjaga diri dari perbuatan zina, dan orang ketiga dengan amanahnya dalam menjaga hak pekerja. Sebagaimana penggalan hadis tersebut:
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ
“Ya Allah, jika aku melakukan hal itu demi mengharap ridha-Mu, maka geserlah batu yang menutup kami ini.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kisah ini mengajarkan bahwa di saat logika manusia menemui jalan buntu, maka “investasi” amal yang tuluslah yang akan membuka jalan keluar. Namun, amal yang dahsyat itu tidak akan terbentuk tanpa adanya konsistensi atau istiqomah. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahqaf ayat 13:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.”
Ayat ini menegaskan bahwa puncak dari keimanan adalah keteguhan hati. Istiqomah bukan sekadar bertahan, melainkan terus bergerak maju dalam ketaatan meski dalam kondisi sempit maupun lapang. Dalam perspektif Kemuhammadiyahan, istiqomah ini kita manifestasikan dalam bentuk amal usaha yang nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar semangat sesaat. Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadis riwayat Aisyah RA:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (rutin), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari).
Oleh karena itu, marilah kita miliki setidaknya satu amalan andalan yang kita jaga kerahasiaannya dan kita rutinkan pelaksanaannya. Entah itu shalat tahajud yang tak pernah putus, sedekah subuh yang konsisten, atau khidmah kita kepada sesama manusia. Sebab, boleh jadi satu amalan yang kita anggap sederhana namun dilakukan dengan istiqomah itulah yang akan menjadi “penggeser batu” saat kita terjepit dalam kesulitan dunia maupun akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surat Fushshilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.”
Kata Mutiara: “Amal yang besar tanpa keikhlasan hanyalah tumpukan debu, sedangkan amal yang kecil dengan keistiqomahan adalah kunci pembuka pintu-pintu langit.”
Demikian materi kultum ini, semoga Allah SWT menguatkan hati kita untuk senantiasa istiqomah di jalan-Nya hingga ajal menjemput. Nashrun minallahi wa fathun qarib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





