Kultum Ramadhan hari ke-18:Strategi Menghadapi Syahwat Maksiat

Oleh Dr.Suwardi, M.Pd.I ( Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, yang senantiasa membentangkan pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya yang mengaku berdosa. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah yang menuntun kita dari kegelapan menuju cahaya iman. Jamaah yang dirahmati Allah, mari kita merenungi sebuah dialog spiritual yang sangat masyhur antara seorang ulama sufi terkemuka, Ibrahim bin Adham, dengan seseorang yang mengeluh karena sulit menghentikan kebiasaan maksiatnya. Ibrahim bin Adham tidak menghardik orang tersebut, melainkan memberikan lima “syarat” logis yang jika mampu dipenuhi, maka silakan ia bermaksiat sepuasnya. Nasihat-nasihat ini sejatinya adalah cermin bagi kita semua untuk melihat sejauh mana adab kita kepada Sang Pencipta.

Nasihat pertama yang disampaikan Ibrahim bin Adham adalah sebuah teguran tentang etika seorang hamba terhadap rezeki. Beliau berkata, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah engkau memakan rezeki-Nya.” Penjelasan dari poin ini sangatlah dalam; betapa tidak tahu malunya seorang manusia yang menggunakan energi dari makanan yang diberikan Allah justru untuk melanggar perintah-Nya. Hal ini sejalan dengan pengingat Allah dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 6:

 وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

  “Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah.”

Ayat ini  menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. Sangatlah zalim jika kita mengambil fasilitas dari Sang Pemberi namun menggunakan kekuatan dari fasilitas tersebut untuk menentang-Nya.

Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memberikan syarat kedua, yaitu jika tetap ingin bermaksiat, maka keluarlah dari bumi milik Allah. Penjelasan di balik syarat ini adalah tentang kedaulatan dan rasa malu. Secara logika, sangat tidak sopan jika seseorang menumpang di rumah orang lain namun ia berbuat onar dan melanggar aturan pemilik rumah tersebut. Karena seluruh jagat raya ini adalah milik Allah sebagaimana ditegaskan dalam Ayat Kursi surah Al-Baqarah ayat 255:

 لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”

 maka secara otomatis tidak ada satu jengkal tanah pun bagi pendosa untuk berdiri menentang penciptanya. Nasihat ini mengajak kita sadar bahwa kita hanyalah “tamu” yang tak punya apa-apa di dunia ini.

Syarat ketiga yang diberikan adalah tentang pengawasan Allah yang tak terbatas. Ibrahim berkata, “Jika engkau tetap ingin melakukan dosa, maka carilah tempat yang tidak bisa dilihat oleh Allah.” Penjelasan dari nasihat ini adalah untuk membangun sifat muraqabah atau perasaan selalu diawasi oleh Tuhan. Manusia sering kali bersembunyi di balik kegelapan malam atau di balik pintu yang terkunci rapat agar tidak terlihat oleh sesama manusia, padahal Allah Maha Melihat segala yang nyata maupun yang tersembunyi. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-’Alaq ayat 14:

 أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?”

Ayat ini menjadi pengingat tajam bahwa setiap gerak-gerik kita terekam jelas dalam pandangan-Nya yang Maha Agung.

Memasuki nasihat keempat, Ibrahim bin Adham menyentuh aspek kepastian ajal dengan berkata, “Jika Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawamu, katakan padanya agar menunda kematianmu sampai engkau sempat bertaubat.” Penjelasan poin ini menyadarkan kita bahwa waktu adalah milik Allah, bukan milik kita. Banyak dari kita yang menunda taubat karena merasa masih muda atau masih sehat, padahal maut tidak pernah bernegosiasi. Ketika saatnya tiba, tidak ada satu detik pun penundaan yang bisa diminta, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-A’raf ayat 34:

 فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Apabila ajal mereka tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sedikit pun dan tidak dapat pula meminta percepatan.”

Kesadaran akan kematian seharusnya menjadi rem paling pakem bagi setiap syahwat maksiat yang muncul.

Terakhir, syarat kelima yang paling menggetarkan hati adalah ketika Ibrahim berkata, “Apabila malaikat Zabaniyah datang menjemputmu untuk menyeretmu ke neraka, janganlah engkau mau ikut bersamanya.” Penjelasan dari syarat ini adalah tentang ketidakberdayaan absolut manusia di hadapan keadilan Allah kelak. Di akhirat, tidak ada lagi ruang untuk membela diri atau melarikan diri dari hukuman. Malaikat penjaga neraka digambarkan sebagai sosok yang sangat patuh dan perkasa, sebagaimana firman Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6:

 عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Di atasnya ada malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya.”

Jika kita sadar bahwa kita tak mampu melawan tarikan malaikat tersebut, maka mengapa kita masih berani menabung dosa yang akan menjerumuskan kita ke sana?

Sebagai penutup kultum ini, mari kita resapi kata mutiara yang sangat indah dari Ibrahim bin Adham tentang kelezatan iman:

لَوْ عَلِمَ الْمُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنَ النَّعِيْمِ لَجَالَدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ

“Sekiranya para raja dan putra-putra raja mengetahui kebahagiaan spiritual yang kami rasakan, niscaya mereka akan merebutnya dari kami dengan pedang.”

Semoga kita senantiasa diberikan hidayah untuk meninggalkan maksiat bukan karena takut hukuman semata, tapi karena rasa malu dan cinta kepada Sang Pemberi Rezeki. Demikianlah materi kultum ini, semoga bermanfaat bagi saya dan para jamaah sekalian. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top