Oleh Dr.Suwardi, M.Pd.I ( Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Zat yang Maha Adil dan mencintai keadilan. Dialah yang memerintahkan hamba-Nya untuk menegakkan kebenaran meski terhadap diri sendiri atau orang-orang yang tidak sepaham dengan kita. Selawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan universal.
Jamaah yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah momen bagi kita untuk membersihkan hati dari segala bentuk kezaliman. Salah satu kisah paling monumental tentang keadilan Islam adalah saat Amr bin Ash menjabat sebagai Gubernur Mesir. Kala itu, Amr bin Ash ingin memperluas sebuah masjid yang megah. Namun, di samping masjid tersebut berdiri sebuah gubuk tua milik seorang wanita Yahudi yang tampak kumuh. Sang Gubernur berniat menggusur gubuk tersebut demi keindahan masjid, namun sang wanita Yahudi menolak keras karena gubuk itu adalah satu-satunya harta miliknya. Meski telah ditawarkan ganti rugi yang berkali-kali lipat, sang wanita tetap enggan. Hingga akhirnya, atas nama pembangunan, Amr bin Ash terpaksa merobohkan gubuk tersebut. Dengan hati hancur dan air mata berlinang, wanita Yahudi ini menempuh perjalanan jauh dari Mesir menuju Madinah hanya untuk mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab.
Setibanya di Madinah, wanita Yahudi ini terkejut menemukan sang Khalifah besar hanya sedang beristirahat di bawah pohon kurma, tanpa pengawalan ketat. Ia menceritakan kezaliman yang dialaminya. Tanpa banyak bicara, Umar bin Khattab mengambil sebuah tulang busuk yang ditemukannya di tempat sampah. Beliau lalu menggoreskan garis lurus dengan pedangnya di tulang tersebut, dan satu garis melintang di atasnya hingga membentuk tanda palang (huruf alif dan garis tengah). Umar menyerahkan tulang itu dan berkata, “Bawa ini kepada Amr bin Ash dan katakan ini dariku.” Wanita itu bingung dan merasa terhina, namun ia tetap membawa tulang itu ke Mesir. Saat tulang itu diserahkan, wajah Amr bin Ash seketika menjadi pucat pasi dan ia gemetar hebat. Saat itu juga, Amr memerintahkan pasukannya untuk merobohkan kembali bangunan masjid yang telah berdiri dan membangun kembali gubuk wanita Yahudi tersebut persis seperti sedia kala.
Hikmah mendalam dari kisah ini adalah tentang ketegasan pemimpin dalam menegakkan keadilan tanpa memandang bulu, suku, maupun agama. Pesan di balik tulang tersebut sangatlah tajam: Umar memperingatkan Amr bin Ash bahwa setinggi apa pun jabatannya, jika ia tidak bertindak lurus (adil), maka Umar tidak segan-segan akan menyembelihnya (memecat atau menghukumnya) seperti tulang busuk tersebut. Keadilan dalam Islam tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan fisik bangunan, bahkan bangunan masjid sekalipun. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah: 8:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Penjelasan dari ayat ini sangatlah tegas; bahwa iman seseorang baru dianggap sempurna jika ia mampu berlaku adil kepada orang yang ia benci sekalipun. Di bulan Ramadhan, kita diajarkan untuk menahan ego. Kezaliman adalah kegelapan yang akan menghapus pahala puasa kita. Rasulullah SAW bersunah mengingatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah kalian akan kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Kisah ini juga menjadi tamparan bagi kita semua, bahwa seringkali kita mengatasnamakan “kepentingan agama” atau “kebaikan umum” untuk menyakiti perasaan atau hak individu lain. Umar bin Khattab mengajarkan bahwa kehormatan Islam bukan terletak pada megahnya kubah masjid, melainkan pada tegaknya keadilan bagi setiap manusia yang hidup di bawah naungannya. Akhirnya, wanita Yahudi tersebut masuk Islam bukan karena paksaan, melainkan karena ia melihat langsung betapa agungnya keadilan yang dibawa oleh Islam melalui laku hidup para pemimpinnya.
Sebagai penutup kultum ini, mari kita renungkan kata hikmah berikut:
“Kekuasaan tanpa keadilan adalah penindasan, dan ibadah tanpa integritas adalah kepalsuan. Jadilah hamba yang tegak dalam kebenaran, karena doa orang yang terzalimi tidak memiliki penghalang antara dirinya dengan Allah SWT.”
Semoga Ramadhan kali ini menjadikan kita pribadi yang lebih adil terhadap diri sendiri, keluarga, dan sesama manusia, serta menjauhkan kita dari sifat zalim yang dapat membinasakan amal ibadah kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





