Oleh Dr. Suwardi,M.Pd.I (Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Madiun)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah, dalam sebuah riwayat yang penuh getaran iman, Malaikat Jibril ‘alayhissalam pernah mendatangi Baginda Nabi Muhammad SAW. Kedatangannya kali ini bukan untuk membawa urusan hukum halal atau haram, melainkan untuk menitipkan tiga wasiat kehidupan yang sangat mendasar bagi setiap manusia. Jibril memulai nasihatnya dengan kalimat yang membebaskan sekaligus menyentakkan kesadaran kita:
يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ
(Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, namun sesungguhnya engkau akan mati).
Kalimat ini adalah pengingat bahwa sejauh apa pun kita melangkah, setinggi apa pun jabatan yang kita genggam, dan sebanyak apa pun harta yang kita tumpuk, terminal akhir kita tetaplah liang lahat. Kebebasan kita di dunia ini dibatasi oleh sebuah kepastian bernama maut, sehingga “hiduplah sesukamu” bagi seorang mukmin adalah ajakan untuk hidup dengan penuh tanggung jawab karena setiap napas akan ditagih pertanggungjawabannya.
Selanjutnya, Jibril memberikan obat bagi hati yang seringkali terlalu terpaku pada mahluk dengan berpesan:
وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ
(Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, namun sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya).
Nasihat ini menyadarkan kita bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kita akan berpisah dengan orang tua yang kita sayangi, pasangan yang kita cintai, atau anak-anak yang kita banggakan. Perpisahan adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar. Maka, janganlah kecintaan kita kepada mahluk melebihi cinta kita kepada Sang Khalik. Cintai mereka karena Allah, agar saat perpisahan itu tiba, hati kita tidak hancur berkeping-keping karena kita tahu bahwa Allah, Zat yang Maha Menyayangi, tidak akan pernah meninggalkan kita.
Terakhir, Jibril menutup wasiatnya dengan sebuah prinsip tentang konsekuensi perbuatan:
وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
(Beramallah sesukamu, namun sesungguhnya engkau akan diberi balasan atas amalmu tersebut).
Kalimat ini menegaskan bahwa dunia adalah ladang tanam dan akhirat adalah waktu panen. Tidak ada satu pun perbuatan, sekecil debu sekalipun, yang akan luput dari perhitungan Allah. Jika kita menanam kebaikan dan ketaatan di sisa umur kita, maka kemuliaanlah yang akan kita petik. Namun jika kita sibuk menanam kemaksiatan dan kelalaian, maka penyesalanlah yang akan kita tuai.
Kata Mutiara:
“Dunia adalah tempat untuk bekerja tanpa ada perhitungan (hisab), sedangkan akhirat adalah tempat perhitungan (hisab) tanpa ada lagi kesempatan untuk bekerja (beramal).”
Sebagai penutup, marilah kita renungkan bahwa kemuliaan seorang mukmin sesungguhnya bukan pada harta yang ia pamerkan, melainkan pada kedekatannya dengan Allah di sepertiga malam dan harga dirinya yang tidak menggantungkan harapan kepada tangan manusia. Semoga wasiat Jibril ini menjadi kompas bagi kita semua untuk menjalani sisa hidup dengan lebih bermakna. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





